Sudah sejak lama nelayan di Pontianak, Kalimantan Barat, pusing tujuh keliling. Tingginya biaya pengadaan bahan bakar akibat langkanya bahan bakar minyak (BBM), membuat mereka harus merogoh kocek dalam-dalam setiap kali akan mencari ikan.

Kondisi inilah yang mendorong pemuda asal Pontianak, Amin, yang orang tuanya tinggal di tengah komunitas nelayan di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, berinovasi menciptakan konverter kit, alat pencipta konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas, atau sebaliknya. Dengan alat ini, jika sedang berlayar kapal nelayan berbahan bakar gas habis, bisa langsung dialihkan menggunakan bensin atau sebaliknya.

Hemat

Dari hasil uji coba Kementerian ESDM tahun 2012 terhadap karya inovatif Amin, terungkap dengan alat ini biaya pengadaan bahan bakar menjadi sangat murah, karena bisa menghemat pengeluaran sektor pengadaan bahan bakar di atas 70 persen. Hal ini akan berimplikasi pada meningkatnya pemasukan bagi nelayan, sehingga kesejahteraan meningkat.

Berdasarkan karya Amin, biaya pengadaan bahan bakar gas per bulan bagi nelayan cuma Rp 181.920, sedangkan biaya bensin per bulan Rp 928.500. Dengan demikian, terjadi potensi penghematan per hari Rp 24.886, sehingga potensi penghematan per bulan mencapai Rp 746.580.

Rinciannya, dengan harga satu liter bensin Rp 6.190, kebutuhan bensin per hari Rp 30.950 dan per bulan Rp 928.500. Dengan Liquified Petroleum Gas (LPG) atau gas minyak bumi cair melalui karya inovatif Amin, harganya Rp 15.160 per tiga kilogram, kebutuhan per hari Rp 6.064, sehingga per bulan hanya Rp 181.920. Selain hemat biaya, metode karya inovasi Amin sangat sederhana, cukup menyambungkan tabung gas berkapasitas tiga kilogram ke mesin kapal dengan alat konverter kit.

Institut Teknologi Bandung (ITB) membantu tahapan uji coba lebih lanjut. Prof Dr Ir Dradjad Irianto M Eng dari Fakultas Teknologi Industri ITB, 4 Januari 2013 menyebutkan, karya inovatif Amin mampu menjadi engine dual fuel (berbahan bakar bensin dan gas secara bergantian) dengan selisih kinerja yang kecil, kurang dari 5 persen.

Karya Amin mampu memberikan penghematan dengan perbandingan 1 liter bensin (Premium) setara dengan 240 gram gas, atau dalam satuan rupiah memberi potensi penghematan 5,11 kali lebih murah sehingga berpotensi meningkatkan taraf hidup nelayan.

Dari ITB, Amin pun dipertemukan dengan Menteri ESDM Jero Wacik dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, serta diundang mengikuti berbagai pameran nasional berbasiskan ramah lingkungan.

Karya Amin, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Panca Bhakti, Pontianak ini dinilai sangat mendukung upaya keras pemerintah mempercepat proses konversi BBM ke gas, mengingat beban subsidi pemerintah terus membengkak tiap tahun. Tak heran jika karyanya mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, akademikus, hingga komunitas nelayan.

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis MH, juga memberikan dukungan dengan menugaskan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat untuk aktif dalam percepatan konversi BBM ke gas, dengan kelompok sasaran nelayan pantai dan pesisir untuk Tahun Anggaran 2014.

Hak Paten

Sejak 15 Maret 2013, Amin sudah mengantongi hak paten atas alat pencipta konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas, atau sebaliknya dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dengan nomor S 00210300051.

Untuk memproduksi konverter kit sesuai pesanan, Amin bekerja sama dengan ITB, Politeknik Negeri Pontianak, dan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Kalimantan Barat.

“Ke depan ben gas dirancang untuk mesin kapal nelayan berkuatan 30 gross ton ke atas. Saya berharap, ben gas bisa disinergikan di Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertanian, untuk disosialisikan lebih luas penggunaannya bagi masyarakat. Ben gas membuat biaya operasional nelayan menjadi sangat murah,” sahut Amin.

Para nelayan berharap karya Amin bisa terus diproduksi. “Diharapkan kuantitas produksi massal karya inovatif Amin terus ditingkatkan tiap tahun, karena sangat membantu masyarakat nelayan kelas menengah ke bawah,” ujar Silvester Romi, nelayan tradisional di Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu.

Sumber : Sinar Harapan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>