Tak sia-sia Amin mengeluarkan energi kreatifnya menjawab tantangan alam di kampung halamannya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, empat tahun silam. Pria yang tampak kalem ini, kini sohor sebagai penemu converter kit alias piranti yang bisa mengubah penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) atau sebaliknya pada peralatan mesin penggerak. “Di kampung saya kelangkaan bahan bakar itu penyakit tahunan,” tuturnya usai menerima penghargaan The Most Inspiring pada Indonesia Green Award (IGA) 2014 pada Rabu (18/6/2014) di Jakarta.

Kabupaten Kubu Raya awalnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Pontianak sejak 17 Juli 2007. Sebagai penduduk kelahiran kabupaten itu, terang Amin, dirinya mengenal betul kondisi alam di situ. Kubu Raya memunyai mayoritas wilayah pantai. “Di Kubu Raya ada seribu sungai,” kata Amin lagi.

Benar pernyataan Amin. Kubu Raya memiliki urat nadi transportasi air yakni Sungai Kapuas dengan begitu banyak anak sungainya. Kubu Raya pun punya pantai yang menghadap Selat Karimata. “Tantangan muncul saat musim ombak besar. Biasanya pada bulan dua belas (Desember) sampai dengan bulan satu (Januari),” imbuhnya.

Pada musim itu, lanjut Amin, kapal-kapal pembawa BBM tak ada yang berani merapat hingga ke kawasan-kawasan terdalam di hulu sungai. Kapal-kapal itu lebih memilih berlindung di pulau-pulau yang masuk dalam kabupaten itu, menanti ombak surut. “Kalau sudah begitu, kelangkaan BBM di tempat saya bisa sepuluh sampai 12 hari,” ujarnya.

Bagi nelayan kecil seperti Amin, kelangkaan BBM sama saja dengan hilangnya kesempatan tidak melaut. Bisa diartikan, kelangkaan BBM menutup arus rezeki para nelayan dan petani. “Satu hari tidak melaut adalah masalah bagi nelayan kecil seperti kami,” ujarnya.

Musim kemarau pun mmenjadi batu sandungan bagi kebanyakan warga Kubu Raya. Pasalnya, debit air di Sungai Kapuas berikut anak sungainya susut. Alhasil, kapal pengangkut BBM tak bisa masuk ke hulu. “Kalau ada satu kapal kandas, kapal-kapal lain di belakangnya tak bisa bergerak pula,” ucapnya.

Singkat kata, keprihatinan itulah yang membuat Amin berpikir keras hingga mampu menciptakan piranti tersebut. Dengan converter kit temuannya, saat kehabisan BBM di laut, para nelayan tinggal mengalihkan penggunaan ke BBG. “Cara ini membuat nelayan tidak tergantung pada satu jenis bahan bakar,” katanya.

Selain itu, dalam hitung-hitungan Amin, piranti buatannya mempu menghemat ongkos BBM. Piranti yang sudah mendapat paten bernomor S 00210300051 sejak 15 Maret 2013 dari Kementerian Hukum dan HAM tersebut mampu membuat penggunanya hanya mengandalkan elpiji ukuran tiga kilogram. Ukuran itu setara dengan 15 liter bensin. Di pasaran, harga elpiji tiga kilogram rerata Rp 18.000 per unit. Sementara, harga bensin ada di posisi Rp 6.500 per liternya.

Termutakhir, kata Amin, ia sudah mengembangkan piranti tersebut hingga enam generasi. “Gara-gara keberhasilan itu, nama saya mendapat tambahan Ben Gas. Maksudnya, Amin Bensin-Gas,” kata pria kelahiran 24 Februari 1970 itu.

 

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>