Author Archives: admin


WhatsApp Image 2018-10-10 at 13.08.15
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sesuai Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2015 menyelenggarakan Koordinasi, Sinkronisasi dan Pengendalian urusan Kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang kemaritiman.

Adapun 4 kementerian dalam koordinasi dengan Kemenko Kemaritiman adalah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan (KemenHub) dan Kementerian Pariwisata (KemenPar). Kementerian ESDM bersama Kemenko Kemaritiman bekerja sama dalam mendorong program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk nelayan kecil.
Nelayan Karangasem, Bali tidak luput dari program pemerintah ini. Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman Agung Kuswandono Bersama jajarannya, di sela kegiatan Our Ocean Conference 2018, menyempatkan untuk melakukan kunjungan lapangan meninjau pembagian 1.081 unit paket perdana program konversi BBM ke LPG 3 Kg untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil di Kabupaten Karangasem (30 Oktober 2018).
Pantai Bias Putih Desa Adat Bugbug Karangasem menjadi lokasi penyerahan paket perdana tersebut termasuk konverter kit di dalamnya. Pantai dengan kawasan perbukitan ini merupakan wilayah antara dua desa yaitu Desa Perasi Kecamatan Karangasem, yang merupakan pangkalan jukung-jukung (perahu tradisional nelayan setempat).
Penyerahan 1.081paket perdana yang terdiri dari mesin motor tempel, long tail dan 2 tabung LPG 3 Kg dan konverter kit tersebut ditargetkan selesai secara keseluruhan dalam tiga hari kedepan. Program konversi BBM ke BBG, membuat nelayan lebih produktif karena LPG jauh lebih mudah dan murah daripada benain atau solar. Biaya operasional untuk perahu motor yang menggunakan gas, menjadi lebih murah. Konverter Kit ini mengkonversikan 1 tabung LPG 3 yang setara dengan 10-15 liter BBM. Hingga dapat membantu nelayan berhemat biaya operasional melaut.
Diketahui 70% biaya operasional nelayan adalah untuk bahan bakar. Program konversi BBM ke BBG menjadi prioritas untuk masyarakat miskin dan pra miskin. Bagi nelayan pemberian konverter kit ini hanya untuk kapal perikanan kecil yang kurang dari 5 GT.
Kemenko Kemaritiman akan mendorong percepatan pelaksanaan program konversi BBM ke BBG ini di daerah-daerah lain yang belum terjangkau. Tujuan program ini adalah demi mewujudkan efisiensi anggaran negara dan nelayan, serta tentunya lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan BBM.
Kemenko Kemaritiman juga akan mendorong pemerintah daerah agar program konversi BBM ke BBG bagi kapal perikanan nelayan kecil lebih cepat terealisasi bagi seluruh nelayan kecil di Indonesia. Sebesar 70% atau sekitar 20 juta orang nelayan dan masyarakat pesisir masih terjebak dalam kemiskinan. Padahal dengan potensi penghematan dengan konverter kit diharapkan kesejahteraan nelayan dapat meningkat.
Deputi Agung mengatakan, melalui program konversi BBM ke BBG dengan konverter kit ini diharapkan nelayan-nelayan kecil dapat hidup lebih sejahtera, “Pembagian 1.081 unit konverter kit di Kabupaten Karangasem ini sudah berlangsung dalam beberapa bulan ini dan diharapkan dalam tiga hari kedepan akan selesai. Semoga dengan program ini nelayan dapat lebih sejahtera, dapat menangkap ikan dengan nyaman agar kehidupan mereka semakin baik.” Pungkas Deputi Agung.
(Sumber : opsi.id)

Pasaman_12

Karangasem, balipuspanews.com – Deputi bidang sumber daya alam dan jasa Kemenko Kemaritiman Ir Agung, Kuswandono, menyerahkan 1.081 unit paket mesin perahu yang terdiri dari converter kit, mesin long tail dan 2 buah tabung LPJ kepada para Nelayan yang ada di Kabupaten Karangasem, Selasa (30/10/2018).

Penyerahan mesin dengan bahan bakar gas LPJ ini dilakukan di Pantai Bias Putih, Desa Bugbug, Karangasem. Didampingi oleh Asisten Amalyos, para Nelayan langsung melakukan uji coba dengan memasang mesin bertenaga 6,5 PK tersebut diperahu milik salah satu nelayan.
Menurut Amin Ben Gas penemu mesin berbahan bakar gas LPJ yang juga sebagai seorang nelayan ini mengatakan, untuk pemakaian gas sebagai alternatif bahan bakar awalnya didasari oleh kondisi ditempat tinggalnya yang sulit mendapatkan bahan bakar.
Dari sanalah muncul ide untuk mengubah bahan bakar dari BBM ke gas LPJ. Setelah berjalan rupanya penemuannya itu sukses dan terbukti jauh lebih efisiensi dalam penggunaan bahan bakar.
“Untuk 1 buah tabung LPJ, setara dengan penggunaan BBM 15 liter,” ujarnya.
Selain irit, penggunaan gas sebagai bahan bakar dari segi keamanan dipandang lebih baik ketimbang menggunakan minyak. Tenaga yang dihasilkanpun tak kalah dengan BBM, bahkan ketika menghidupkan mesin juga jadi lebih enteng tidak perlu susah payah.
Sementara itu, Deputi bidang sumber daya alam dan jasa, Kemenko Kemaritiman, Kuswandono mengatakan dengan pembagian motor tempel dan tabung gas ini biaya oprasional para nelayan bisa ditekan sehingga bisa tetap melaut dengan sedikit biaya.
Menurut salah satu nelayan penerima bantuan asal Desa Seraya, Komang Dana, untuk kebutuhan sekali melaut dirinya perlu biaya 40 ribu atau 4 liter bensin. Dengan biaya sebesar itu tentu untuk menutupi biaya oprasional cukup sulit, bahkan terkadang tidak ada hasil sama sekali.
Nah jika diakumulasikan sesuai dengan perhitungan 1 tabung gas setara dengan 15 liter BBM, maka hitungannya 1 tabung bisa untuk 3 kali melaut itupun masih tersisa.
(Sumber : balipuspanews.com)

Padang_10

JAKARTA – Empat kementerian dalam koordinasi dengan Kemenko Kemaritiman adalah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan (KemenHub) dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Kementerian ESDM bersama Kemenko Kemaritiman bekerja sama dalam mendorong program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk nelayan kecil.

Kebijakan ini sendiri menjadi bagian dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sesuai Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2015 menyelenggarakan Koordinasi, Sinkronisasi dan Pengendalian urusan Kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang kemaritiman.
Nelayan Karangasem, Bali tidak luput dari program pemerintah ini. Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman Agung Kuswandono Bersama jajarannya, di sela kegiatan Our Ocean Conference 2018, menyempatkan untuk melakukan kunjungan lapangan meninjau pembagian 1.081 unit paket perdana program konversi BBM ke LPG 3 Kg untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil di Kabupaten Karangasem (30 Oktober 2018).
Pantai Bias Putih Desa Adat Bugbug Karangasem menjadi lokasi penyerahan paket perdana tersebut termasuk konverter kit di dalamnya. Pantai dengan kawasan perbukitan ini merupakan wilayah antara dua desa yaitu Desa Perasi Kecamatan Karangasem, yang merupakan pangkalan jukung-jukung (perahu tradisional nelayan setempat).
Penyerahan 1.081 paket perdana yang terdiri dari mesin motor tempel, long tail dan 2 tabung LPG 3 Kg dan konverter kit tersebut ditargetkan selesai secara keseluruhan dalam tiga hari kedepan. Program konversi BBM ke BBG, membuat nelayan lebih produktif karena LPG jauh lebih mudah dan murah daripada benain atau solar. Biaya operasional untuk perahu motor yang menggunakan gas, menjadi lebih murah. Konverter Kit ini mengkonversikan 1 tabung LPG 3 yang setara dengan 10-15 liter BBM. Hingga dapat membantu nelayan berhemat biaya operasional melaut.
Diketahui 70% biaya operasional nelayan adalah untuk bahan bakar. Program konversi BBM ke BBG menjadi prioritas untuk masyarakat miskin dan pra miskin. Bagi nelayan pemberian konverter kit ini hanya untuk kapal perikanan kecil yang kurang dari 5 GT. Kemenko Kemaritiman akan mendorong percepatan pelaksanaan program konversi BBM ke BBG ini di daerah-daerah lain yang belum terjangkau. Tujuan program ini adalah demi mewujudkan efisiensi anggaran negara dan nelayan, serta tentunya lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan BBM.
Kemenko Kemaritiman juga akan mendorong pemerintah daerah agar program konversi BBM ke BBG bagi kapal perikanan nelayan kecil lebih cepat terealisasi bagi seluruh nelayan kecil di Indonesia. Sebesar 70% atau sekitar 20 juta orang nelayan dan masyarakat pesisir masih terjebak dalam kemiskinan. Padahal dengan potensi penghematan dengan konverter kit diharapkan kesejahteraan nelayan dapat meningkat.
Deputi Agung mengatakan, melalui program konversi BBM ke BBG dengan konverter kit ini diharapkan nelayan-nelayan kecil dapat hidup lebih sejahtera, “Pembagian 1.081 unit konverter kit di Kabupaten Karangasem ini sudah berlangsung dalam beberapa bulan ini dan diharapkan dalam tiga hari kedepan akan selesai. Semoga dengan program ini nelayan dapat lebih sejahtera, dapat menangkap ikan dengan nyaman agar kehidupan mereka semakin baik.” Pungkas Deputi Agung.
(Sumber : kuwera.id)

Sosialisasi_04

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah membagikan 1.261 paket perdana alat pengubah bahan bakar (konverter kit) dari bahan bakar minyak (BBM) ke Liqufied Petroleum Gas (LPG) untuk nelayan kecil di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Minyak dan gas ( Ditjen Migas) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Adhi Wibowo mengatakan,‎ pembagian konverter kit di Kabupaten Kepulauan Selayar ini merupakan terbanyak untuk 2018.

Penggantian bahan bakar kapal nelayan kecil ini, akan meningkatkan kesejahteraan karena dengan menggunakan LPG, biaya melaut menjadi lebih hemat hingga Rp 50 ribu per hari.

“Salah satu tugas Pemerintah adalah memajukan kehidupan masyarakat termasuk nelayan. Caranya antara lain dengan pemberian konkit. Penghematannya bisa Rp 50.000 per hari, sehingga dapat digunakan untuk menyekolahkan anak-anak agar kehidupannya lebih maju lagi,” kata Adhi di Jakarta, Rabu (31/10/2018).
Selain jauh lebih hemat, penggunaan LPG juga lebih ramah lingkungan karena emisinya jauh lebih rendah dari BBM. Konversi BBM ke LPG merupakan bentuk perlindungan lingkungan untuk generasi mendatang, serta investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. ‎ Dia pun meminta, agar bantuan dari pemerintah tersebut dapat dirawat dan digunakan dengan sebaik-baiknya.
“Jangan lupa ditanyakan ke teknisinya bagaimana menjaga dengan baik, supaya gasnya awet dan tidak bocor,” tuturnya.
Alokasi konverterkit untuk nelayan di wilayah Sulawesi tahun 2018, tersebar di empat provinsi dengan total 16 kabupaten dan kota yaitu Sulawesi Selatan teridiri dari Bone, Bulukumba, Jeneponto, Selayar, Sinjai, Takalar dan Wajo sebanyak 5.314 unit.
Provinsi Gorontalo terdiri dari Boalemo, Bone Bolango, Gorontalo Utara dan Pohuwatu mendapat 2.798 unit, Sulawesi Tengah Banggai dan Palu menerima 1.379 unit dan Sulawesi Utara Manado dan Minahasa 1.144 unit.
(Sumber : liputan6.com)

09
PALEMBANG, BERITAANDA – Konverter kit mesin getek menggunakan gas LPG ini ditemukan oleh Amin, anak seorang nelayan yang tinggal di Desa Kubu Raya Kalimantan Barat yang sudah mendapatkan label SNI. Mesin ini dibuat memang untuk para nelayan kecil.
Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Kota Palembang Haryanto menjelaskan, konverter kit mesin getek yang menggunakan gas LPG 3 Kg ini mendapatkan SNI dengan nomor seri : SNI EN 12806:2015.
“Mesin ini lebih unggul dari pada mesin keteg yang menggunakan BBM. Sebab, satu tabung itu sama dengan 15 liter BBM,” ujarnya, Jumat (26/10/2016).
Dilanjutkan Hary, keunggulan kecepatan mesin ini di atas mesin getek biasa di bawah mesin untuk speadbood.
“Artinya misal kalau menggunakan mesin getek yang menggunakan BBM itu kecepatannya 40 KM/Kh, namun mesin getek yang menggunakan LPG ini memiliki kecepatan 60-70 KM/Kh,” ungkapnya.
Disinggung nelayan di Kota Palembang, Hary mengatakan, untuk Kota Palembang sendiri itu hanya 90 unit yang mendapatkan mesin getek LPG ini.
Hary juga mengatakan, konverter kit ini memang dibuat untuk para nelayan kecil dan untuk meningkatkan perekonomian para nelayan.
“Kalau dilihat dari bahan bakar. Misal nelayan menghabiskan 15 liter bensin dalam satu hari untuk nelayan, maka kalau dengan konverter kit itu hanya satu tahung gas LPS 3 KG untuk dua hari,” jelasnya.
(Sumber : http://beritaanda.net)
CNN2

Palembang ibu kota provinsi Sumatera Selatan adalah kota tertua di Indonesia yang merupakan pusat kerajaan bahari Sriwijaya, berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang 17 Juni 688 Masehi. Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East (“Venesia dari Timur”).

Membelah kota Palembang, ilir dan ulu, sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera (750km) juga merupakan bukti sejarah corak bahari masyarakat Palembang. Disamping menggunakan transportasi darat, transportasi sungai menjadi pilihan masyarakat kota Palembang, tepat di bawah jembatan ampera ada terminal bus air.
Selasa lalu (16/10), 90 nelayan kecil dari Kertapati dan Kalidoni menerima paket konverter kit. Acara pembagian dan sosialisasi penggunaan konverter kit sendiri dihadiri oleh Anggota Komisi VII DPR RI, Nazaruddin Kiemas, Kepala Dinas Perikanan Kota Palembang Aprizal, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Heru Riyanto, dan Region Manager Domestic Gas II Pertamina Marketing Operation Region II Sumbagsel, Teddy Bariadi.
Setiap nelayan menerima alat konverter berSNI merk ABG (Amin Ben Gas UMKM Binaan BSN), mesin penggerak, as panjang, baling-baling, dua buah tabung LPG 3 Kg, dan aksesoris pendukung lainnya. Pembagian paket ini merupakan impelentasi dari program konversi energi untuk nelayan kecil (Perpres 126/2015) untuk membantu ekonomi nelayan kecil dan menekan biaya operasional melaut.
Alat konverter ABG ini pernah dikenalkan oleh Haryanto, personel KLT BSN Palembang ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan pada Maret 2018. KLT BSN Palembang sendiri menggunakan alat konverter ini untuk menghidupkan genset berdaya 2500 Watt saat mati listrik. (Sumber : BSN)

Proses instalasi konverter KIT ABG pada mesin perahu nelayan yang dikerjakan para tenaga ahli dari Kabupaten Kubu Raya.

Proses instalasi konverter KIT ABG pada mesin perahu nelayan yang dikerjakan para tenaga ahli dari Kabupaten Kubu Raya.

Pontianak (Antaranews Kalbar) – Sebanyak 68 nelayan asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat menjadi tenaga ahli untuk instalasi Konverter Kit Amin Bengas yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.
“Para nelayan ini merupakan mereka yang sudah terlibat sejak awal proses penciptaan Konverter Kit ABG. Jadi mereka adalah nelayan yang sudah kita latih dan disiapkan sebagai tenaga ahli pemasangan konverter kit buatan saya,” kata penemu Konverter Kit ABG, Amin di Pontianak, Kamis.
Amin menjelaskan, sebagian besar nelayan tersebut berasal dari Kabupaten Kubu Raya yang sudah terlibat dan menggunakan langsung konverter kit ABG pada perahu mereka sejak tahun 2010.
Dia menjelaskan, sejak tahun 2012 mereka mulai ditugaskan untuk melakukan proses instalasi Konverter Kit tersebut di sejumlah daerah di Indonesia. Sampai tahun 2018 ini, 68 nelayan tersebut sudah menginstalasi Konverter Kit ABG di 56 kabupaten/kota se-Indonesia.
“Khusus tahun ini mereka melakukan pemasangan di 28 kabupaten/kota se-Indonesia. Dengan jam terbang yang tinggi, tentu para nelayan kita sudah sangat berpengalaman dan tidak diragukan lagi kemampuannya,” tuturnya.
Amin menjelaskan, selain menjadi tenaga ahli pemasangan konverter kit ABG di setiap daerah, mereka juga mentransfer pengetahuan instalasi konverter kit ABG tersebut kepada nelayan setempat. Hal ini dilakukan agar ketika ada masalah pada konverter kit tersebut, para nelayan yang ada di daerah bisa memperbaikinya sendiri.
“Secara otomatis, ini memberikan peluang kerja baru bagi nelayan, untuk proses instalasi dan perbaikan mesin sampan yang mereka gunakan. Ini menjadi tujuan saya sejak awal saat menciptakan konverter kit ABG ini, agar bisa memberikan manfaat luas bagi masyarakat, khususnya para nelayan,” kata Amin yang juga seorang nelayan.
ABG Konverter Kit adalah alat untuk mengubah sistem bahan bakar mesin yang sebelumnya hanya menggunakan bensin sehingga bisa dikonversikan menjadi bisa berbahan bakar LPG. ABG Konverter Kit yang sudah diatur agar mampu menyuplai mesin menggunakan bahan bakar LPG dengan kinerja yang sama seperti mesin berbahan bakar minyak.
Maksud dari konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Gas adalah untuk merespon dan memberikan kontribusi atas program pemerintah untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Gas. Selain itu juga, turut membangun ekonomi kerakyatan dengan teknologi yang ramah lingkungan berbasis dari kearifan lokal.
“Konverter kit ABG ini merupakan produk yang diciptakan oleh saya bersama para nelayan, dan alat ini saya ciptakan untuk membantu masyarakat nelayan dalam mengurangi beban dari BBM, sehingga sangat sesuai dengan tagline kita bahwa konverter kit ABG ini dari nelayan, oleh nelayan, untuk nelayan,” kata Amin.

(Sumber : antarakalbar.news.com)

Sosialisasi_06
TAKALAR (SULSEL), MEDIARESTORASI.COM – Pemberian paket konversi BBM ke LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil oleh Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Ignasios Jonan berlangsung di Gedung Islamic Centre, Jl. Jend. Sudirman, Kecamatan Pattalassang, Jumat (21/9/2018).
Pemberian paket disaksikan oleh Wakil ketua komisi VI DPR RI Tamsil Linrung, bersama Anggota Komisi VI DPR RI Andi Yullanis Paris, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Korservasi Energi Rida Mulyana, Bupati Takalar Bapak Syamsari Kitta, Direktur Pembinaan Program Migas Bapak Mustafid Gunawan dan Penjabat GM. Mor VII PT. Pertamina (Persero) Iwan Yudha serta Direktur PT Pratiwi Putri Sulung selaku penyedia paket perdana konverter Kit.
Paket konversi BBM ke LPG ini diberikan secara simbolis kepada nelayan kecil dipesisir Takalar bekerjasama dengan PT Pertamina selaku penyedia bahan bakar Migas satu-satunya di Indonesia.
Dalam sambutannya, Bupati Takalar Syamsari berterima kasih kepada Menteri ESDM dan juga kepada wakil ketua komisi VI DPR RI Tamsil Linrung dengan dikucurkannya berbagai bantuan diantaranya bantuan penerangan jalan raya, dan juga termasuk bantuan paket konverter BBM ke LPG sebanyak 953 paket yang merupakan salah satu jumlah bantuan terbanyak di Indonesia.
“Hari ini kita mendapatkan 953 paket konverter dari minyak ke gas. Kami atas nama pemerintah dan masyarakat Takalar mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan kementrian dan juga anggota DPR RI,” Tandas Syamsari.
Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan berharap dengan diberikannya bantuan ini kesejahteraan masyarakat nelayan lebih meningkat dan berpesan agar masyarakat memanfaatkan dengan baik bantuan yang diberikan pemerintah.
“Kalau menggunakan bahan bakar gas itu bisa menghemat separuh dari penggunaan bahan bakar bensin. Mudah-mudahan dengan konverter kit ini kesejahteraan bapak dan ibu lebih baik, karena bisa menghemat separuh dari pengeluaran dibandingkan dengan menggunakan BBM. Kami mohon konverter ini bisa digunakan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan tidak sulit mendapatkan LPG ini, karena ada dari Pertamina selaku distributor pertama di Indoensia,” Jelasnya.
Bantuan paket konverter ini disambut baik masyarakat nelayan Takalar, salah satu warga penerima Daeng Nai mengungkapkan perbedaan yang Ia rasakan menggunakan mesin konverter yang cenderung lebih hemat dan mampu menekan biaya operasional ketika melaut.
“Alhamdulillah, selama menggunakan gas LPG lebih hemat dibandingkan dengan bensin, mesin juga tidak tersendat-sendat,” Ujarnya.
(Sumber : www.mediarestorasi.com)
WhatsApp Image 2018-10-08 at 15.25.29
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — PT Pertamina (Persero) yang mendapat penugasan dari Kementerian ESDM untuk melakukan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) kepada nelayan kecil, secara konsisten merealisasikan konversi tersebut di berbagai sentra nelayan di berbagai daerah.
Di Makassar diserahkan 1.375 konverter kit kepada nelayan kecil dalam rangka mengkonversi BBM ke BBG pada kapal-kapal yang digunakan untuk melaut.
Secara simbolik penyerahan Konverter Kit dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kepada perwakilan nelayan kecil yang menggunakan Kapal 5 GT Jumat (29/9/2017).
Ikut mendampingi penyerahan Konverter Kit Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar dan Senior Vice President Non Fuel Marketing Pertamina, Basuki Trikora Putra.
Menteri ESDM Ignasius Jonan menjelaskan, pemberian paket perdana pada nelayan kecil ini terdiri dari mesin kapal, konverter kit serta pemasangan dan tabung khusus LPG beserta isinya.
“Kriteria penerima adalah nelayan pemilik kapal kurang lebih 5 GT. Penerima paket adalah nelayan yang memiliki kapal berbahan bakar bensin dan berdaya mesin kurang dari 13 HP, serta belum pernah menerima bantuan sejenis,” kata Johan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan (kiri), Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kedua kanan) melambaikan tangan di atas perahu sat mencoba penggunaan paket perdana konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) di Anjungan Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (29/9). Sebanyak 1.375 paket bantuan terdiri dari konverter kit, mesin kapal, dan tabung gas di serahkan kepada nelayan kecil secara gratis oleh Kementerian ESDM melalui PT Pertamina (persero) yang mampu menghemat biaya bahan bakar untuk melaut sebesar 50 persen.
Penyerahan Konverter kit kepada nelayan kecil akan berlangsung sampai dengan November 2017. Program Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan Kecil Tahun 2017, telah merealisasikan pemberian 2.165 Konverter Kit dari rencana 16.656 paket.
Alokasi anggaran Program Konversi BBM ke BBG kepada Nelayan Kecil Tahun 2017 senilai Rp 120,96 miliar, untuk 16 kabupaten yang terbagi dalam empat zona.
Nelayan kecil yang sudah menerima Konverter kit selain Makassar, juga Pasaman Barat, Padang, Banyuwangi, Demak, Tuban dan Lombok Barat.
(Sumber : tribunenews.com)
WhatsApp Image 2018-10-16 at 13.00.35
Jakarta – Nelayan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan menjadi penerima konverter kit pertama di wilayah Sulawesi. Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pembagian paket konverter kit bagi nelayan kecil ini bertujuan memberikan kemudahan akses energi kepada masyarakat, memberikan dampak positif kepada nelayan melalui penghematan pengeluaran biaya bahan bakar, membantu ekonomi masyarakat nelayan menuju ekonomi masyarakat mandiri dan ramah lingkungan, serta mengurangi konsumsi BBM bersubsidi.
“Dengan konverter kit berbahan bakar elpiji, nelayan bisa menghemat biaya operasional melaut Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per harinya. Dengan LPG juga memberikan energi bersih, mengurangi konsumsi BBM,” kata Jonan dalam keterangan tertulis, Jumat (21/9/2018).
Jonan memberikan sebanyak 953 paket perdana konverter kit kepada nelayan Takalar, disaksikan oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Tamsil Linrung, anggota Komisi VII DPR RI Andi Yuliani Paris, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana, Bupati Takalar Syamsari Kitta, Direktur Pembinaan Program Migas Mustafid Gunawan, dan Pjs. General Manager Pertamina MOR VII Iwan Yudha.
Pembagian paket perdana konverter kit BBM ke elpiji terdiri atas beberapa komponen, yaitu mesin penggerak, konverter kit, as panjang, baling-baling, dua buah tabung Elpiji 3 kg, dan aksesori pendukung lainnya.
Iwan mengatakan untuk suplai Elpiji 3 kg kepada nelayan Takalar saat ini dilayani oleh satu agen dan dua pangkalan.
“Penambahan satu agen dan enam pangkalan elpiji yang baru, saat ini sedang dalam proses. Dengan lokasi-lokasi sesuai rekomendasi Dinas Perikanan Takalar,” ujar Iwan.
Jumlah kebutuhan Elpiji 3 kg untuk nelayan Takalar diestimasi sebesar 7.633 tabung per bulan. Adapun kriteria nelayan yang mendapatkan paket konverter kit BBM ke BBG sesuai Perpres No.126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil antara lain nelayan yang memiliki kapal ukuran di bawah 5 Gross Tonnage (GT), berbahan bakar bensin atau solar, dan memiliki daya mesin di bawah 13 Horse Power (HP).
Sementara itu diketahui pada 2016 dan 2017 telah dibagikan sejumlah 5.473 dan 17.081 unit paket konverter kit. Hingga Desember tahun ini, sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 294 K/10/MEM/2018 akan dibagikan sejumlah 25 ribu unit konverter kit untuk 55 kabupaten/kota seluruh Indonesia.
Alokasi konverter kit untuk nelayan di Sulawesi Selatan (Bone, Bulukumba, Jeneponto, Selayar, Sinjai, Takalar, dan Wajo) sebanyak 5.314 unit. Provinsi Gorontalo (Boalemo, Bone Bolango, Gorontalo Utara dan Pohuwatu) mendapat 2.798 unit.
Selanjutnya Sulawesi Tengah (Banggai dan Palu) menerima 1.379 unit paket konverter kit, dan Sulawesi Utara (Manado dan Minahasa) 1.144 unit. Sedangkan kebutuhan elpiji bagi nelayan di Sulawesi hingga Desember 2018 diperkirakan mencapai 358.800 tabung.
(Sumber : finance.detik.com)