Dengan semangat untuk membangun ekonomi kerakyatan, menjadi satu motivasi bagi Amin, 46 tahun, menciptakan dan menerapkan alat konverter kit bahan bakar bensin ke elpiji bagi perahu nelayan di daerahnya. Inovasi ini berasal dari rasa prihatin karena hasil tangkapan ikan nelayan yang kecil, tidak sebanding dengan mahalnya biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk melaut terutama harga BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi yang masih mahal, dan ketersediaan akan adanya BBM. Dari permasalahan yang dihadapinya, Penerima The Most Inspiring Penghargaan Energi 2014 ini, mencoba mencari solusi dengan menciptakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan.

amin esdm
Saat ini Amin bersama produsen Fajar Cipta Wacana (FCW) siap untuk memproduksi konvertir kit untuk nelayan hasil temuannya. Temuan dan produknya ini tidak diragukan lagi, karena tanggal 15 Maret 2016 lalu, konverter kit ini telah mendapatkan Sertifikat Kesesuaian SNI EN 12806:2015 dari Balai Sertifikasi PPMB Kementerian Perdagangan. Bahkan, konverter yang telah ia patenkan di Kementerian Hukum dan HAM inipun meraih sertifikat tingkat komponen dalam negeri sebesar 82,64 persen dari Kementerian Perindustrian.

“Ini sudah dapat SNI. Mengikuti arahan pak Jokowi menggunakan TKDN. Ini konverter kit pertama buatan lokal yang ber-SNI. Konverter kit ini sudah bisa digunakan pada perahu nelayan bermesin satu silinder (5.5 – 14 HP) atau perahu dua silinder,” ujar Amin sambil memperlihatkan salinan Sertifikat Kesesuaian SNI EN 12806:2015 saat kunjungannya ke Badan Litbang ESDM baru-baru ini (18/3).

Pada kesempatan terpisah, Menteri Kelauatan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendukung nelayan kecil menggunakan gas elpiji 3 kilogram (kg) sebagai bahan bakar untuk melaut. Pasalnya, lebih hemat menggunakan gas elpiji 3 kg dibandingkan menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Apalagi, Presiden Joko Widodo telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil. Sehingga, gas elpiji 3 kg dapat digunakan nelayan kecil untuk melaut. Dengan menggunakan gas elpiji 3 kg ini, nelayan dapat melaut hingga jarak 4 mil.

Alat konverter kit buatan Amin tidak hanya terbatas penggunaannya bagi perahu motor nelayan, tetapi juga telah dikembangkan untuk beberapa keperluan, seperti pembangkit listrik mikro untuk penerangan. Kemudian pompa air untuk pertanian, peternakan dan perkebunan. Konverter kit ini juga bisa dipakai sebagai mesin pengolah dan produksi, seperti mesin aerator tambak, mesin pengolah ikan, mesin produksi pakan ikan, mesin perontok padi, serta mesin penggiling daging.

Harnus_03

Pemasangan Konverter Kit Amin Ben Gas di perahu nelayan Lampulo Aceh dalam rangka Peringatan Hari Nusantara 2015. (dok. aminbengas)

Inovasi ini berawal dari keprihatinan Amin karena melihat hasil tangkapan ikan nelayan yang minim, tidak sebanding dengan mahalnya biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk melaut terutama harga BBM bersubsidi. Di saat yang sama, pasokan BBM kerap tersendat. Para nelayan kecil di tempat tinggalnya begitu sulit mendapatkan pasokan BBM lantaran faktor alam yang mempengaruhi distribusi BBM. Angin kencang dan ombak besar pada November hingga Januari, sering menjadi kendala utama distribusi BBM dari kapal tanker yang akan berlabuh melewati Sungai Kapuas, sehingga distribusi BBM pun tidak bisa masuk ke wilayah Kubu Raya. Kelangkaan BBM juga terjadi pada musim kemarau. Kapal tanker pengangkut BBM tidak dapat masuk ke muara Sungai Kapuas, yang membelah Kabupaten Kubu Raya, karena sungai menjadi kering dan dangkal. Padahal sungai menjadi satu-satunya bagi distribusi BBM ke daerah pedalaman. Akibatnya, pasokan BBM menjadi seret.

Dimulai sejak pertengahan 2010, Amin mulai menginisiasi inovasi pemanfaatan bahan bakar alternatif, dengan mencari bahan bakar yang sudah familiar dengan masyarakat, yakni liquid petroleum gas (LPG) atau biasa dikenal dengan nama elpiji. Alat yang diciptakan Amin sejalan dengan upaya pemerintah menurunkan konsumsi BBM bersubsidi, dan paket kebijakan ekonomi Pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini. Jumlah nelayan Indonesia saat ini sekitar 2,7 juta jiwa. Sebanyak 80% dari jumlah itu adalah nelayan kecil dan tradisional, yang jangkauan mata pencaharian kurang dari 2 mil. Nelayan kecil ini sangat menggantungkan hidup dari hasil laut. Dengan menerapkan teknologi tepat guna, bisa dipastikan lebih dari 2 juta nelayan Indonesia akan terbantu. Sebab, 70% biaya operasional nelayan dihabiskan untuk pengadaan bahan bakar. Apabila semakin hari harga BBM terus naik, tentu akan memberatkan nelayan untuk melaut.

Dengan peralatan bengkel seadanya, Amin mulai mencoba memodifikasi peralatan. Usaha memodifikasi peralatan ini dimulai pada 2012. Dengan kreativitas dan imajinasinya, pria berperawakan kurus ini memodifikasi mesin kapal nelayan yang semula menggunakan bahan bakar bensin (premium) menjadi menggunakan gas elpiji ukuran tabung 3 kg. Banyak produk yang mirip dengan inovasi Amin, tetapi yang membedakan adalah produk ini tidak sepenuhnya mengubah bahan bakar. Mesin kapal itu masih bisa menggunakan premium walaupun sudah diberi konverter kit. Mesin yang dikembangkan ini bisa menggunakan bensin dan gas (engine dual fuel). Hasilnya, nelayan lebih efisien menggunakan bahan bakar. Perbandingan efisiensi, pemakaian satu tabung elpiji 3 kg setara pemakaian BBM 20 kg.

Amin memberikan nama bagi konverter kit yang telah dipatenkan ini dengan sebutan ABG, kependekan dari Amin Ben-Gas. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu unit konverter kit ini sekitar Rp 4,5 juta, jauh lebih murah dibandingkan produk dari luar negeri. Hal lain yang membanggakan dari produk buatan Amin adalah konverter ini merupakan yang pertama di Indonesia yang dipakai di perahu motor berbahan bakar elpiji.

“Alat ini sebenarnya sarana. Yang saya tawarkan adalah konsep, yakni membangun kemasyarakatan untuk menuju ekonomi kerakyatan. Mungkin yang lain-lain masih sebatas wacana, tapi kami di daerah sudah pakai langsung, sudah kerja,” ungkap Amin.

Sumber : Penghargaan Energi ESDM

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>