Tumbuh  dalam keluarga dan masyarakat nelayan membuat Amin, pria asal Pontianak, Kalimantan Barat, tahu betul permasalahan yang dihadapi nelayan. Kelangkaan BBM yang sering terjadi di daerahnya membuat hidup para nelayan di daerahnya semakin sulit karena tidak bisa melaut.

Sekitar 75% biaya operasional nelayan habis digunakan membeli bahan bakar. Inovasi energi dalam bidang kelautan dan perikanan mutlak diperlukan. “Mereka melaut mempertaruhkan nyawa, belum cost yang mereka gunakan bisa sampai 75% dan hasilnya pun tidak menentu,” kata Amin.

Berbekal pengetahunannya mengenai kelistrikan dan mesin, Amin pun menciptakan ABG atau Amin Ben-Gas. Ide membuat konverter kit ini muncul dari fenomena kesulitan para nelayan mendapatkan bahan bakar minyak di skala tertentu.Karya inovasi energi hasil dari pemikiran nelayan lokal ini merupakan generasi ke-9 sejak merakit konverter kit 2010. Ia berhasil membuat konverter kit yang mengubah BBM ke gas bagi nelayan di tempat tinggalnya di Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Archandra tahar saat meninjau penggunaan Konverter Kit Amin Ben Gas dalam rangka Program Konversi BBM ke BBG Bagi Kapal Perikanan Nelayan di Kota Padang beberapa waktu yang lalu. (dok.AminBenGas)

Cara kerja konverter kit ini sederhana. Alat berbentuk persegi dengan ketebalan 5 sentimeter itu disambungkan menggunakan selang dari gas elpiji ke mesin. Konverter kit akan mengatur jumlah pasokan gas elpiji sehingga seimbang dengan kebutuhan mesin yang kemudian disalurkan menuju ruang pembakaran melalui karborator. Saat ini konverter kit itu sudah bisa digunakan pada perahu nelayan bermesin satu atau dua silinder. Bahkan, alat ini bisa dimanfaatkan pada pembangkit listrik mikro penerangan, pompa air peternakan dan perikanan, atau mesin-mesin produksi pertanian di perdesaan.

Kinerjanya pun lebih hemat 5,11 kali lipat jika dibanding dengan BBM. Berbagai apresiasi dan penghargaan dari dalam maupun luar negeri sudah ia raih. Maret 2013 konverter itu telah dipatenkan dan mendapatkan sertifikat kesesuaian SNI dengan tingkat komponen dalam negeri sebesar 84,84%. “Jika sudah masuk SNI berarti aman digunakan, apalagi 10 ribu alat yang sudah tersebar hampir seluruh Indonesia ini tidak pernah melngalami gangguan,” ucap Amin.

Kini, Amin menjualnya pada pemerintah desa maupun kota sehingga pemerintah bisa membagikannya kepada nelayan. Kreativitas dan kerja kerasnya terbayar dengan respons masyarakat terutama nelayan dari berbagai wilayah di Indonesia bahkan luar negeri.

 

Sumber : Media Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>