Monthly Archives: October 2017

Begitu menerima paket converter kit yang terdiri dari mesin dan tabung elpiji 3 kilogram (kg), Riyanto (36) nelayan asal Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) itu mencoba perahunya pada Kamis (19/10). Perahu dengan panjang sekitar enam meter dengan lebar satu meter tersebut melaju di sekitar perairan Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara.

tritih02

Perwakilan nelayan kabupaten Cilacap mengikuti sosialisasi pendistribusian paket konversi BBM ke BBG bagi perahu nelayan di kantor HNSI Kabupaten Cilacap Selasa, 17/09. (dok. ABG)

“Mesinnya ternyata bagus, tidak terlalu berisik dan langsung “jreng”. Dipakai berkeliling juga aman. Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah, karena pada pembagian converter kit tahun 2016 lalu, kami belum mendapatkan jatah. Baru Oktober tahun ini, para nelayan kecil di Ujungmanik, Kawunganten, memperolehnya,” ungkap Riyanto yang berkeliling mencoba mesin perahu barunya.

Sejak Rabu (18/10), Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) bersama dengan Dinas Perikanan Cilacap mulai membagikan converter kit untuk para nelayan di Cilacap. Jumlah yang dibagikan sebanyak 2.005 paket yang terdiri dari elpiji 3 kg dan mesin perahu.

“Salah satu sasaran pembagian converter kit adalah kami, Kelompok Nelayan Windu Langgeng, Desa Ujungmanik, Kawunganten. Tahun ini, kami menerima 122 paket converter kit untuk para nelayan. Sebetulnya jumlah anggota ada 132, namun yang terbagi baru 122 paket. Mudah-mudahan yang 10 nelayan segera ada bantuan untuk mereka,” ujar Ketua Kelompok Nelayan Windu Langgeng, Muhaji Tumin.

Menurut Muhaji, nelayan asal Ujungmanik sangat antusias, karena telah mendapat cerita dari sesama nelayan kecil yang sudah menggunakan elpiji sebagai bahan bakar pengganti BBM jenis premium. “Para nelayan yang telah memakai elpiji 3 kg menuturkan jika ongkos melaut sangat bisa dihemat, bahkan hingga 50%. Satu tabung gas bisa dipakai untuk dua hari operiasonal, sedangkan kalau dengan premium membutuhkan enam liter. Kalau dihitung-hitung, dengan premium dua hari bisa mencapai Rp40 ribu. Kalau untuk elpiji 3kg, paling hanya Rp16 ribu,”katanya.

tritih01

Perakitan mesin dan Konverter Kit Amin Ben Gas oleh teknisi sebelum di bagikan kepada nelayan di wilayah Tritih Kulon, Kecamatan Karanganten, Kabupaten Cilacap. (Dok. ABG)

Makanya tidak mengherankan kalau nelayan kecil yang sekarang memperoleh bantuan converter kit penasaran dan ingin segera menggunakannya. “Apalagi, dari teman-teman nelayan juga menceritakan kalau mesin yang dipakai tidak ada masalah dan lancar-lancar saja,” tambahnya.

Salah seorang nelayan asal Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara Warsito (56) mengutarakan selama setahun menggunakan converter kit sama sekali tidak ada persoalan. “Terus terang dengan adanya converter kit tersebut, maka nelayan lebih diuntungkan. Karena nelayan tidak lagi mencari BBM jenis premium. Cukup dengan satu tabung elpiji, dapat dipakai selama satu hari. Padahal, kalau premium bisa habis sekitar 3-4 liter. Sekarang bisa menghemat hingga setengahnya,” ungkapnya.

Petugas Lapangan Bidang Perikanan Tangkap pada Dinas Perikanan Cilacap Angga Setiawan menjelaskan kalau pembagian converter kit tahun ini jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Tahun lalu, hanya 902 paket yang disediakan, sedangkan tahun sekarang mencapai 2.005 paket converter kit. Masing-masing nelayan memperoleh satu paket yang terdiri dari mesin dan tabung elpiji 3 kg. Ada ribuan nelayan yang mendapatkan bantuan paket converter kit yang tersebar di sejumlah kecamatan pesisir di Cilacap. Di antaranya adalah Kawunganten, Patimuan, Kedungreja, Sidareja, Bantarsari, Kampung Laut, Cilacap Utara, Cilacap Tengah dan Cilacap Selatan. “Memang belum menjangkau secara keseluruhan, tetapi setidaknya akan semakin banyak nelayan yang meninggalkan premium dan beralih elpiji,” ungkap Angga.

tritih03

Ia menjelaskan ada sejumlah manfaat yang bakal dinikmati nelayan, apalagi bantuan tersebut gratis. “Dari pengalaman para nelayan yang telah lebih dulu menerima, mereka mengaku dapat memangkas ongkos melaut hingga 50%. Bahkan sebetulnya, dengan menggunakan elpiji, maka lingkungan laut akan lebih terjaga, karena elpiji lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan premium. Dampak lain yang kami harapkan adalah meningkatnya pendapatan nelayan, karena sekarang ada yang dapat dihemat,” tambahnya

Kepala Dinas Perikanan Cilacap Sujito mengungkapkan meski sebetulnya dinas kelautan sudah tidak ada di kabupaten kewenangannya, tetapi Dinas Perikanan tetap diberi kewenangan untuk mendampingi nelayan kecil. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong bagaimana semakin menyejahterakan nelayan. “Jadi, kami masih diberi wewenang untuk mendampingi nelayan dengan perahu atau kapal di bawah 5 grosston (GT). Kalau di Cilacap, jumlahnya mencapai sekitar 15 ribu nelayan. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah memperjuangkan bantuan converter kit bagi nelayan yang nyata-nyata telah dibuktikan manfaatnya,”katanya.

Sebetulnya, lanjut Sujito, tahun ini Dinas Perikanan mengajukan bantuan converter kit sebnyak 2.093 tetapi yang direalisasi sebanyak 2.005 paket. Ia tidak mempersoalkan itu, karena tahun ini ada tambahan bantuan. “Itu adalah salah satu upaya untuk menyejahterakan nelayan kecil. Karena bantuan converter kit tersebut, nelayan bisa mengurangi pengeluaran,”ujar Sujito.

Pada bagian lain, Sujito mengungkapkan dalam program kesejahteraan nelayan, pihaknya bersama dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyo masih terus berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait dengan bantuan kredit lunak bagi nelayan.

“Dua pekan lalu, kami bersama dengan pengurus KUD Mino Saroyo ke KKP untuk memperjelas pencairan kredit ultra mikro (KUM) yang diluncurkan Menteri Susi Pudjiastuti pada Agustus lalu. Nantinya, nelayan di Cilacap bakal digelontor KUM dengan nilai Rp15 miliar. Untuk perhitungan sementara, ada sekitar 1.400 nelayan yang dapat mengakses kredit tersebut. Mudah-mudahan secepatnya bisa cair dan nelayan akan dapat memperoleh kredit dengan bunga di bawah perbankan umum. Dan nantinya penyalurannya melalui KUD,” tambah Sujito.

 

Sumber : Mongabay

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi memantau langsung penggunaan mesin penggerak perahu berbahan bakar bensin dan gas ke DKP Kalimantan Barat.

“Kunjungan ini kita lakukan untuk melihat langsung, bagaimana masyarakat nelayan yang ada di wilayah Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menggunakan mesin penggerak perahu berbahan bakar bensin dan gas ini,” kata Kepala Bidang Perikanan Tangkap, DKP Sukabumi, Ayon Budi Prasetyo di Pontianak, Senin.

Dia mengatakan, tahun ini pemerintah Sukabumi mendapatkan bantuan 639 unit mesin penggerak perahu dengan bahan bakar bensin dan gas dari pemerintah pusat yang dikhususkan bagi nelayan yang ada disana.

“Tahun 2016 lalu, kita juga mendapatkan bantuan serupa sebanyak 700 unit lebih, namun banyak masyarakat nelayan yang komplain karena dalam penggunaannya konverter kit impor yang terdapat kendala. Namun, pada tahun ini, mesin penggerak perahu tersebut menggunakan alat konverter kit ABG yang merupakan produk dalam negeri, kita ingin melihat langsung bagaimana penggunaannya, agar masyarakat nelayan tidak kesulitan lagi dalm penggunaannya,” katanya.

Kebetulan, kata Ayon, pihaknya mengetahui bahwa penemu konverter kit ABG tersebut adalah Amin, yang merupakan warga Pontianak. Untuk itu, pihaknya ingin bertemu langsung untuk mengetahui sejauh mana kinerja konverter kit tersebut, saat diaplikasikan di perahu nelayan.

“Dari hasil pantauan kita langsung, ternyata alat ini mudah digunakan. Bahkan, kita lihat sendiri, mesin yang digunakan nelayan disini dengan konverter kit ABG ini adalah mesin lama, namun masyarakat tidak mengalami kendala,” tuturnya.

Bahkan, lanjutnya, saat menaiki perahu nelayan yang menggunakan konverter kit tersebut, sangat mudah saat menghidupkan mesinnya, dan tarikan mesin juga sangat kuat.

“Yang lebih membuat kami kagum, dengan menggunakan bahan bakar gas dan konverter kit ini, masyarakat nelayan bisa menghemat biaya bahan bakar. Karena, perbandingan antara menggunakan bahan bakar minyak dengan gas-nya antara 9 liter BBM dengan 1 tabung gas 3 kilogram dan ini jelas sangat hemat,” katanya.

Ayon juga mengatakan, jika dalam penggunaannya nanti, masyarakat nelayan di Sukabumi tidak mengalami kendala dan hasilnya memuaskan, maka tidak menutup kemungkinan Pemkab Sukabumi akan mengadakan sendiri mesin penggerak perahu dengan konverter kit itu melalui APBD-nya.

sukabumi01

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi berkunjung ke Workshop Amin Ben Gas di Pontianak untuk melihat secara langsung penggunaan konverter kit Amin Ben Gas oleh nelayan di Kalimantan Barat (Dok. ABG)

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada DKP Provinsi Kalbar yang sudah memberikan kesempatan dan memfasilitasi kami untuk melihat langsung penggunaan konverter kit ini,” kata Ayon.

Ditempat yang sama, Amin, selaku penemu konverter kit ABG menyatakan sangat berterimakasih kepada pemerintah Sukabumi yang mau berkunjung langsung ke Pontianak dan Kubu Raya untuk melihat penggunaan alat ciptaannya tersebut.

“Kita memberikan informasi apa adanya, dan dari DKP Sukabumi juga bisa melihat dan membuktikan sendiri, bahwa tidak ada yang kita setting disini, semuanya murni dan berdasarkan pengakuan masyarakat nelayan langsung,” katanya.

Dia hanya berharap, agar alat ciptaannya tersebut bisa memberikan manfaat besar bagi nelayan. Karena dengan penggunaan konverter kit tersebut, masyarakat nelayan bisa menghemat banyak pengeluaran dari bahan bakar.

“Konverter kit ini tidak memilih mesin, mesin penggerak perahu dengan merek apa saja bisa, bahkan juga bisa digunakan untuk mesin yang lama. Kami juga sudah mencobanya untuk mesin lain, seperti pengolahan pakan ternak, genset, dan lain sebagainya,” kata Amin.

 

Sumber : Antaranews Kalbar