Monthly Archives: November 2016

Adalah Prof. Dr. Dradjad Irianto, Guru Besar Rekayasa Kualitas, Institut Teknologi Bandung raih Penghargaan Tokoh Standardisasi untuk Kategori Akademisi. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Muhammad Nasir di acara puncak peringatan Bulan Mutu Nasional 2016 (16/11) di Jakarta. Penyerahan penghargaan ini disaksikan oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono.

sni_7

Prof. Dr. Drajad Irianto, pria kelahiran 23 Juni 1962 ini, merupakan lulusan Master dari Keio University, Jepang dan Doktor dari Universite Twente, Belanda. Sampai saat ini beliau juga aktif sebagai dosen Fakultas Teknologi Industri ITB, dan tergabung dalam kelompok keilmuan Sistem Manufaktur.

Penghargaan diberikan setelah melalui seleksi dan penilaian tim juri pejabat Eselon 2 dan Eselon 1 BSN serta Ketua Masyarakat Standardisasi (MASTAN), Ir. Supandi, MM. Seleksi dan Penilaian dilakukan dengan pertimbangan empat kriteria diantaranya pengamalan tri darma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat) di bidang standardisasi dan penilaian kesesuaian (SPK) serta peran dan kontribusi SPK di tingkat regional/internasional.

Kontribusi Prof. Dr. Dradjad Irianto bagi dunia standardisasi dan penilaian kesesuaian, diantaranya di Institut Teknologi Bandung (ITB), standardisasi diajarkan dalam berbagai cara, yaitu di tingkat S1 sebagai muatan universitas dan mata kuliah pilihan. Sedangkat di tingkat S2, standardisasi menjadi salah satu jalur (konsentrasi) dari lima jalur di program magister (S2) Teknik dan Manajemen Industri (TMI), yaitu jalur Quality and Standardization.

Standardisasi menjadi muatan universitas itu artinya diajarkan ke semua mahasiswa ITB di semua jurusan. Standardisasi diajarkan melalui satu kali pertemuan berjudul “Standards and Code” dalam mata kuliah “Pengantar Rekayasa dan Desain” (2 SKS). Khusus di S1 Teknik Industri, mata kuliah standardisasi menjadi mata kuliah pilihan (3 SKS). Mata kuliah ini diajarkan sejak tahun 2010 sudah 3-4 kali dengan jumlah peserta 20-30 mahasiswa tiap semesternya. Buku “Pengantar Standardisasi” yang diterbitkan menjadi rujukan dalam mata kuliah ini.

Prof. Dradjad Irianto sebagai dosen pengampu mata kuliah ini juga melakukan pengayaan pembelajaran agar mata kuliah ini menjadi menarik dan kaya praktek. Beberapa cara pengayaan, yaitu pertama mahasiswa diminta membuat kajian perbandingan (riset komparasi) antara proses pengembangan standar di negara maju dengan di Indonesia, hasilnya dipresentasikan dan didiskusikan di depan kelas. Kedua mahasiswa diminta membuat standar dari produk yang sudah ada di pasaran tapi belum ada standarnya. Ketiga mahasiswa diminta membuat kajian evaluasi standar (khususnya standar/SNI wajib) untuk mengukur seberapa mampu industri memenuhi persyaratan baik dari sisi teknologi (technoware) maupun sumber daya manusianya (humanware).

Di tingkat program pasca sarjana, kontribusi Prof. Dr. Dradjad Irinato adalah Tim penyusunan proposal pendirian program S2 Terapan Standardisasi (2010). Bahkan sejak 2014 menjadi Ketua Program S2 Standardisasi di ITB (Dual Degree dengan National University for Science and Technologi, Taiwan), kerjasama dengan kementerian perindustrian. Prof. Dr. Dradjad Irianto juga masuk dalam Kepengurusan Forum Pendidikan Standardisasi Indonesia Indonesia (FORSTAN), periode 2016-2018 dan Dewan Pengarah MASTAN Periode 2015-2020.

Tahun 2015, Prof. Dr. Dradjad Irianto juga berkontribusi dalam Pengembangan SNI, yaitu SNI untuk program konversi energi bagi nelayan (konverter kit mesin perahu nelayan) yang diinisiasi sebagi bentuk pengabdian kepada nelayan kecil di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Bahkan untuk mendukung pengembangan SNI, sampai ditugaskan khusus satu mahasiswa standardisasi untuk menyusun riset tugas akhir “Perancangan Standar Peralatan Konversi Bahan Bakar Lpg 3 Kg Untuk Mesin Dual Fuel Bensin Dan Gas Pada Perahu Nelayan”. Output dari riset tugas akhir ini adalah draft RSNI 1 yang menjadi salah satu bahan masukan komtek 21-01. Muaranya SNI terbit 2015 dan menjadi acuan dalam implementasi paket 1 kebijakan ekonomi pemerintah melalui Perpres 126 Tahun 2015 “Penyediaan, Pendistribusian, Dan Penetapan Harga Liquefied Petroleum Gas Untuk Kapal Perikanan Bagi Nelayan Kecil”.

rsni_konkit

Pengabdiannya juga dilakukan melalui, Perancangan Sistem Manajemen Mutu Berdasarkan ISO 9001:2008 pada Industri Manufaktur Berskala Kecil Menengah. Kontribusi di tingkat internasional di bidang standardisasi melalui publikasi dan pembicara ilmiah sebagai berikut, tahun 2010, berkontribusi pembicara dalam ICES (International Cooperation on Education about Standardization) di Bali, publikasi “Measuring Level of Technology of Industry in Evaluating Mandatory Product Standard” di the Asia Pacific Industrial Engineering & Management Systems Conference 2012.

Tahun 2015 Prof. Dr. Dradjad Irianto juga pernah ditugaskan oleh Kementerian Perindustrian sebagai Tim Monev Komite Teknis SNI di bawah Kemenperin. Guru besar yang mengusung praktik industri “Price Minus” ini pernah dipercaya oleh Menperin (2009-2014) MS. Hidayat masuk Tim Perumusan Undang-Undang Perindustrian (UU No. 3 Tahun 2014).

Sumber : BSN

Dunia tidak bisa pungkiri betapa hebatnya pelaut nusantara dan kekayaan laut yang membentang dari sabang sampai merauke. Kejayaan dunia maritim serta kebudayaannya mulai dari kerajaan Sriwijaya sampai kerajaan Gowa-Tallo di timur Indonesia, membawa bangsa ini menjadi salah satu bangsa yang mampu berdiri tegak pada zamannya.

Sayangnya, kilau kejayaan itu hampir tidak bisa dinikmati oleh generasi saat ini. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia kini telah lupa dengan identitasnya yakni budaya agrikultur dan maritimnya. Bangsa ini lebih senang dengan seksinya budaya kontinental yang sama sekali bukan warisan nenek moyang.

Pemerintah dan masyarakat berbondong-bondong menanam dan menancapkan beton-beton raksasa dan menyingkirkan segala warisan yang dianggap ketinggalan zaman. Pekerjaan kantoran menjadi primadona sampai lupa jika dahulu bangsa ini besar karena para nelayan dan petani. Dengan fakta tersebut bukan berarti sudah tidak adalagi harapan, sebab harapan membangkitkan lagi kekuatan maritim dan agrikultur masih ada dalam peta peradaban Indonesia saat ini.

gabung

Berbagai upaya dan program yang dicanangkan pemerintah saat ini sudah mulai menyentuh dan bahkan berusaha menjadikan Indonesia bangkit kembali sebagai poros maritim dengan cara memaksimalkan sumber daya alam khususnya potensi kelautan. Hal ini bisa terlihat dengan gencarnya program dan sosialisasi yang dilakukan Kementerian Perekonomian Bidang Kemaritiman dihampir seluruh wilayah nusantara. Apakah hanya sampai disitu?

Ternyata sangat disadari jika ingin mencapai hal tersebut, diperlukan teknologi penunjang yang inovatif dan tepat guna. Maka dari itu, Kemaritiman berinisatif untuk menggandeng salah seorang anak bangsa yang dengan kepeduliannya bersama para nelayan telah berhasil membuat sebuah inovasi tepat guna (Konverter Kit ABG) yang diharapkan mampu menjadi solusi ditengah ketergantungan nelayan kecil akan konsumsi BBM yang harganya kian hari kian mencekik akibat kebijakan penghapusan subsidi BBM yang sedang berjalan saat ini.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang alat tersebut, Simbur Sumatera mencoba menelusuri dengan ikut bersama rombongan Kemenko Bidang Kemaritiman yang dikabarkan sudah menggandeng Inventor dari alat inovatif tersebut meninjau langsung pembangunan PPI PUS Sungai Lilin di Desa Teluk Kemang Muba. Menurut informasi yang diperoleh bahwa Kemaritiman sangat mensupport sosialisasi KK ABG kepada para nelayan kecil. Dengan menumpangi Bus Pariwisata, Simbur Sumatera dan rombongan berangkat dari Hotel Aryaduta Palembang menuju Sungai Lilin.

Perjalanan sekitar lima jam dengan kondisi jalan berbukit ditambah beberapa ruas jalan yang rusak, menjadi kelelahan yang tidak mengecewakan sebab mencari tahu tentang inovasi anak bangsa yang sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi nelayan kecil dan petani kecil adalah hal yang tidak boleh mengendap begitu saja. Masyarakat harus tahu tentang informasi tersebut secara lengkap agar tidak ragu-ragu mengunakan dan yang tepenting selalu mencintai karya anak bangsa dan produk dalam negeri.

Adalah Amin (46 tahun) atau dikenal dengan Amin Ben Gas (ABG) yang merupakan putra daerah dari Pontianak Kalimantan barat yang memiliki kegelisahan melihat nasib petani dan nelayan kecil. Lelaki yang juga tamatan S1 jurusan Sosial Ekonomi Pertanian ini bersama-sama dengan masyarakat petani dan nelayan kecil mengembangkan alat Konverter Kit yang mencoba mengalihkan ketergantungan penggunaan BBM ke pemanfaatan gas elpiji 3 kilogram pada mesin produksi yang dipakai. Saat ini, alat tersebut sudah diaplikasikan kepada para nelayan kecil yang memang paling merasakan dampak kebijakan pencabutan subsidi BBM tersebut. “Jahes Veva Jaya Mahe” yang berarti Di Laut Kita Berjaya, menjadi spirit dari gerakan sosial yang dilakukannya saat ini.

bersama

“Inovasi ini dikembangkan oleh kami dan para nelayan. Tidak ada kontrak dengan pihak manapun kecuali dengan para nelayan, sebab itulah semboyan kami adalah Dari Nelayan, Oleh Nelayan, Untuk Nelayan,”tegasnya kepada Simbur Sumatera.

Memang, untuk membuat alat Konverter Kit (KK ABG), Amin melibatkan nelayan kecil sebagai partner sehingga segala kebutuhan dan keluhan nelayan dapat tertampung melalui questioner yang kemudian terciptalah sebuah inovasi sederhana yakni penggunaan gas elpiji 3 kilogram untuk bahan bakar perahu nelayan. Sejak tahun 2010, tim tersebut terus berupaya berinovasi sehingga di tahun 2016 alat tersebut sudah mencapai generasi yang kesembilan. Generasi pertama dari alat tersebut sudah disebarkan untuk 20 nelayan yang dipakai selama 6 bulan sampai satu tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, secara rutin para nelayan diberikan questioner tentang apa kekurangan dan kelebihan alatnya. Masukan dari questioner inilah sehingga muncul generasi kedua dan yang terakhir adalah generasi kesembilan yang sudah berstatus Standar Nasional Indonesia (SNI) dan merupakan satu-satunya di Indonesia. Istimewanya lagi, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) itu hampir mencapai 90 persen yang berarti merupakan karya anak bangsa yang patut diapresiasi oleh pemerintah.

Perjalanan panjang itu tentu bukan tanpa kendala karena diawal, gagasan KK ABG tersebut tidak memiliki payung hukum. Pada tahun 2015, akhirnya keluarlah Perpres 126 Tahun 2015 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga Liquefied Petroleum Gas Untuk Kapal Perikanan Bagi Nelayan Kecil. Disisi lain, kendala yang dihadapi adalah menyakinkan para pihak bahwa gas LPG itu adalah pilihan yang logis, bukan cuma gas CNG atau yang lainnya karena produknya tidak tersedia dan kurang familiar di masyarakat.

“Dari semua kendala yang ada, hal yang tersulit yakni bagaimana cara menyakinkan para nelayan jika alat tersebut sangat aman dan upaya untuk merubah ketergantungan dan kebiasaan nelayan dari penggunaan BBM ke BBG,” ungkapnya.KK ABG adalah program yang sifatnya aplikatif karena yang memakai langsung oleh nelayan dan alat yang ada saat ini sangatlah sederhana tetapi perlu diketahui bahwa semakin sederhana suatu alat maka semakin tinggi tingkat kesulitannya. Alat tersebut sengaja lebih disederhanakan karena mereka tidak akan memakai alat yang baginya sangat rumit dan membuat pusing dalam pemakaiannya.

Dijelaskan, Cara kerja Konverter kit adalah gas mengalir dari tabung gas ke regulator yang dilengkapi dengan pengaman lalu kemudian melewati selang gas menuju ke Konverter Kit yang didalamnya ada alat pengaman dan pengatur kebutuhan suply bahan bakar mesin. Diantara Konverter dan mesin, ada kran sebagai pengaman yang berfungsi untuk menutup dan membuka suply bahan bakar. Jadi selama mesin tidak mengisap bahan bakar maka itu tidak mengalir sehingga berdampak pada efisiensi bahan bakar.

palembang_01

“Awalnya para nelayan takut jika gas elpiji meledak atau terbakar, padahal secara teknis Konverter Kit adalah alat yang sangat aman. Apalagi pemakaiannya di luar ruangan sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi ledakan atau terbakar selama selang atau regulator tidak bocor. Sebenarnya ledakan tabung gas itu terjadi jika muatan gas itu lebih banyak daripada udara. Jadi dengan pemakaian di laut, secara teknis hampir tidak mungkin terjadi ledakan atau kebakaran,” jelas Amin.

Lebih istimewanya lagi, dengan memakai konverter kit ini, jika terjadi kebocoran pada selang atau regulator secara otomatis mesin tidak akan hidup karena lost of pressure. Hal terebut sangat berbeda dengan penggunaan BBM pada umumnya. Sebenarnya secara matematis, Konverter Kit ini bisa dipakai untuk semua mesin. Dari mesin 5,5 Hp sampai 14 Hp (satu silinder) maupun mesin dua silinder semua bisa berfungsi hanya dengan satu Konverter Kit. Hal tersebut karena tujuan utama penciptaan alat KK ABG adalah ingin membantu nelayan kecil yang terkendala dengan mahalnya harga BBM.

“Jika saja kami profit oriented, bisa saja kami membuat banyak varian Konverter Kit tersebut untuk berbagai jenis mesinnya.Hanya saja penggunaan untuk mesin mobil belum bisa diterapkan karena berbenturan dengan aturan subsidi gas elpiji 3 kilogram,” terangnya sambil tersenyum.

Untuk mengetahui seberapa irit penggunaan KK ABG bisa dilihat dari pengakuan semua nalayan yang sudah menggunakan alat tersebut. Menurut nelayan satu tabung gas LPGtga kilogram itu berbanding dengan 10-15 liter bahan bakar. Dengan demikian keuntungan dari nelayan adalah penghematan untuk kebutuhan bahan bakar, dengan semakin jauhnya jangkauan spot ikan yang bisa dicapai oleh nelayan berarti semakin besar potensi hasil tangkapnya. Keuntungan tersebut tentu bermuara pada kesejahteraan para nelayan. Disamping itu, dengan semakin jauhnya jangkauan para nelayan, mereka juga turut menjadi mata dan telinga bagi negara khususnya Polairut yang menjaga keamanan dan kedaulatan perairan Indonesia. Mereka bisa melaporkan jika ada kapal asing yang masuk di perairan wilayah kedaulatan Indonesia.

Untuk diketahui, Saat ini Penggagas Konverter Kit sudah menjalin kerjasama untuk cetak alat dengan salah satu perusahaan pembuat Regulator Gas elpiji di Tangerang yang kemampuan produksinya dalam sehari bisa mencapai 2000 – 2500 unit.Pendistribusian alat tersebut sudah mencapai ribuan unit di seluruh wilayah Indonesia. Untuk Muba sendiri, ini kali pertama dilakukan sosialisasi dan ujicoba dengan membawa 3 unit Konverter Kit untuk dihibahkan kepada nelayan yang sudah dipilih secara acak.

palembang_02

“Saat ini kami tidak menjual langsung ke masyarakat, apalagi ini dibuat bersama-sama dengan nelayan. Karena pemerintah sudah mulai mencabut subsidi BBM, maka diharapkan anggaran dari pencabutan subsidi BBM bisa kembali dianggarkan untuk pengadaan Konverter Kit yang dialokasikan untuk para nelayan kecil dan petani kecil. Karena dampak pencabutan subsidi BBM itu lebih terasa pada mereka yang masih usaha skala kecil. Apalagi di Kementerian ESDM sudah ada anggaran untuk kesejahteraan nelayan kecil yang alokasi dananya sampai tahun 2019 dan ditambah Konverter Kit ini sudah masuk dalam program paket ekonomi jilid satu yang dicanangkan oleh presiden RI, Joko Widodo.

Amin dan tentunya para nelayan kecil dan petani kecil sangat berharap pemerintah bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk cinta akan produk dalam negeri dan inovasi anak bangsa yang sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diakui baik di dalam maupun luar negeri dengan cara membuat anggaran untuk belanja produk dalam negeri. “Negara bisa lebih hemat jika pemerintah bisa mendorong inovasi anak bangsa, menghidupkan industri kecil dalam negeri, membuka lapangan kerja dan yang terpenting mengurangi belanja import luar negeri,” ungkapnya.

Baginya, kehadiran pemerintah dan peran sertanya akan menjadi hal yang sangat positif dalam meningkatkan dan memaksimalkan potensi kelautan dan pertanian yang sangat kaya ini. “Untuk sampai di generasi kesembilan ini (biaya riset), sudah sangat banyak dana pribadi yang saya iklaskan karena dengan semangat peduli, berbagi dan konsistensi dalam upaya yang saya anggap adalah kerja sosial bagi mereka yang membutuhkan. Man Jadda Wa Jadda, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil,” serunya dengan raut wajah penuh keyakinan.

Sumber : simburnews.com

Menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) rupanya bukan hal yang sulit bagi para pelaku UMKM. Asal disertai komitmen dan konsistensi, UMKM pun bisa meraih SNI dan memenangkan pasar di dunia usaha. Demikian kesaksian yang terungkap dalam Talkshow Success Story UMKM  “Memenangkan Pasar dengan Penerapan SNI” yang diselenggarakan Badan Standardisasi Nasional (BSN), Rabu (9/11/2016) di Plasa Perindustrian, Kementerian Perindustrian, Jakarta.

08_iqe08112016

Amin Ben Gas (produsen konverter kit), Hari Mukti Teknik (produsen KANABA mesin laundry), dan Batik Satrio (produsen batik Banyuwangi) berbagi pengalamannya merintis usaha dan akhirnya mampu meraih sertifikasi SNI. Ketiganya merupakan UMKM binaan BSN, yang mendapat bimbingan penerapan SNI. (dok.aminbengas@2016)

Adalah UMKM Hari Mukti Teknik (produsen KANABA mesin laundry), Amin Ben Gas (produsen konverter kit), dan Batik Satrio (produsen batik Banyuwangi) yang siang itu membagi pengalamannya merintis usaha dan akhirnya mampu meraih sertifikasi SNI. Ketiganya merupakan UMKM binaan BSN, yang mendapat bimbingan penerapan SNI.

Ashari, Direktur  Hari Mukti Teknik dari Yogyakarta mengungkapkan, dengan menerapkan standar, kini ia dan anak buahnya mampu menjaga produktivitas perusahaan. Selain itu, produknya juga lebih diterima pasar. “Ketika belum ada sertifikat SNI, konsumen masih banyak menanyakan spek mesin KANABA. Sekarang setelah ada SNI, konsumen langsung percaya,” ujarnya.

Senada dengan Ashari, Owner Batik Satrio Nanang Edy S. Juga merasakan manfaat yang sama. Adanya standar membuat kualitas batik Banyuwanginya lebih baik dan mudah masuk pasar. “Sertifikat SNI menjadi senjata ampuh untuk memasarkan produk batik,” katanya.

Ada anggapan bahwa meraih SNI sungguh sulit di kalangan UMKM. Namun anggapan ini ditepis Direktur Amin Ben Gas, Amin. Proses meraih sertifikasi SNI dirasa mudah. Kunci keberhasilan meraih sertifikasi SNI ialah komitmen. “Ikuti aturannya, penuhi prosedurnya, Insha Allah cepat,” ujar Amin.

Kepala BSN Bambang Prasetya yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa BSN kini tengah membangun role model UMKM penerap SNI, yang ditargetkan mencapai 10 ribu UMKM di tahun 2020. BSN bekerja sama dengan para stakeholders berkomitmen menghantarkan UKM sampai mendapatkan sertifikasi atau mendapatkan tanda SNI.

Langkah BSN ini pun diapresiasi baik oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijaya. Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, lanjut Azam, BSN bekerja sama dengan kementerian/lembaga lainnya, diamanahkan untuk membina UMKM menerapkan standar dan meraih sertifikasi SNI.

Ia pun setuju bahwa produk yang telah memenuhi SNI merupakan produk unggul, sehingga konsumen akan lebih percaya memilih barang tersebut.

Talkshow kali ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional Tahun 2016. Turut hadir dalam acara ini antara lain Kepala B4T Bandung, Direktur Utama PNM, pejabat eselon I dan II di lingkungan BSN serta pejabat Kementerian Perindustrian.

Sumber : BSN

Badan Standarisasi Nasional (BSN) bersama Kementerian Perindustrian menggelar pameran bersertifikat Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) bertajuk Pameran Indonesia Quality Expo ke-4 di Plasa Kemenperin, Jakarta.

“Dengan momentum peringatan Hari Standar Dunia dan Bulan Mutu Nasional 2016, saya sangat mengapresiasi BSN dengan penyelenggaraan Pameran Indonesia Quality Expo ke-4,” kata Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat saat membuka pameran di Jakarta, Selasa.

01_iqe08112016

Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat bersama Kepala BSN Bambang Prasetya, saat meninjau stand konverter kit Amin Ben Gas (dok.aminbengas @2016)

Syarif mengatakan, pameran ini adalah bagian dari wujud nyata komitmen bersama para pemangku kepentingan standardisasi dan penilaian kesesuaian, untuk bersama-sama meraih peluang di MEA dan perjanjian bebas lainnya.

Hadirnya pemangku kepentingan pada pameran ini, lanjutnya, juga menunjukkan kesiapan para pelaku usaha/industri termasuk UKM, lembaga sertifikasi, laboratorium, perguruan tinggi, dan pemerintah, untuk menerapkan SNI dalam rangka mendorong daya saing produk nasional dan melindungi konsumen dalam negeri.

“Saya percaya bahwa kerja sama yang sinergis ini dapat membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia,” ujar Syarif, Terlebih, tambahnya, pemerintah dan DPR telah mengesahkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2014, yang di dalamnya tersimpan amanah fungsi kerjasama dengan berbagai lapisan masyarakat.

Pengembangan dan Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang kegiatannya dikoordinasikan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN), juga menjadi salah satu cara meraih peluang sekaligus memenangkan persaingan pasar yang semakin sengit.

“Era saat ini, Standard, Technical Regulation, Conformity Assesment atau yang disebut dengan STRACAP memainkan peranan yang sangat penting untuk menjadi unggul dengan negara lain,” tambah Syarif.

Syarif menyampaikan, era globalisasi yang sedang terjadi, membuat tantangan ke depan semakin hebat, terutama adanya kecenderungan negara-negara membentuk kawasan ekonomi tersendiri seperti CAFTA, CEPA, termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Senada dengan Syarif, Kepala BSN Bambang Prasetya mengatakan, dengan produk nasional yang membanggakan dan ber-SNI, Indonesia semakin optimis memasuki pasar global yang penuh dengan persaingan yang semakin ketat.

“Para pemangku kepentingan perlu bersatu padu membangun kesadaran akan standar, memberikan perhatian pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional,” ujarnya.

Selain itu, dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak agar standardisasi dan penilaian kesesuaian di Indonesia bisa berjalan sesuai yang diharapkan.

Tema kali ini yang diusung adalah standards build trust, di mana SNI sebagai trade barrier diharapkan dapat memberikan kepercayaan kepada seluruh bidang dan lapisan masyarakat.

“BSN sangat mendukung tema tersebut yang sekarang kami wujudkan melalui berbagai rangkaian kegiatan Bulan Mutu Nasional sebagai simbol semangat kami dan para pemangku kepentingan dalam membangun trust bersama melalui standardisasi dan penilaian kesesuaian,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana mengapresiasi langkah pemerintah menggenjot penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebab, label SNI akan meningkatkan nilai jual suatu produk karena mutu dan keamanannya terjamin.

Azam sebagai pimpinan komisi yang membidangi industri itu mengatakan, label SNI bukan hanya untuk buatan pabrik tapi juga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dia pun berharap UMKM tak menganggap pengurusan SNI sebagai hal memberatkan.

“Ini bukan menyulitkan pengusaha UMKM, tapi justru membantu UMKM untuk menjual produknya karena orang pasti akan mencari produk yang dijamin standar mutunya,” katanya.

03_iqe08112016

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Azam Azman Natawijana berfoto bersama Amin Ben Gas (dok.aminbengas @2016)

Menurut Azam, konsumen sekarang makin cerdas dalam memilih produk yang akan dibeli. Ketika melihat produk terutama pangan tidak ada berlabel SNI, pasti akan timbul bertanya-tanya soal mutu dan jaminan keamanannya.

Meski begitu Azam mewanti-wanti lembaga yang menerbitkan sertifikat SNI harus kredibel. Jangan sampai produk yang tidak layak justru diberi label SNI.

“Harus ada pakem aturan yang jelas untuk penerbitan SNI. Jangan sampai label SNI bisa diperoleh tanpa melalui proses pengujian,” tegasnya.

Kepala Biro Hukum, Organisasi, dan Humas Badan Standardisasi Nasional (BSN) Budi Rahardjo mengatakan, pelaku sektor ekonomi terus berbenah meraih peluang dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kegiatan standardisasi dan penilaian kesesuaian juga ikut berbenah.

00_iqe08112016

Konverter kit Amin Ben gas, konverter kit untuk perahu nelayan yang sudah ber-SNI. (dok.aminbengas @2016)

“Pengembangan dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya untuk menghadapi MEA,” kata Budi, Senin, (7/11). Dalam era MEA, terang dia, standar technical regulation, conformity assesment memainkan peran yang sangat penting. Ini dilakukan agar produk dalam negeri lebih unggul dibandingkan produk negara lain.

Bahkan BSN sudah memastikan ketersediaan SNI untuk 12 sektor dalam perjanjian MEA. Ketersediaan SNI tersebut meliputi 223 SNI sektor jasa kesehatan, 20 SNI sektor jasa penerbangan, 4 SNI sektor jasa pariwisata, 285 SNI sektor teknologi informasi dan komunikasi (e-ASEAN), 90 SNI sektor jasa logistik, 137 SNI sektor karet dan produk karet, 376 SNI sektor tekstil dan produk tekstil, 198 SNI sektor otomotif, 550 SNI sektor perikanan, 1000 SNI sektor produk berbasis agro, 251 SNI sektor produk berbasis kayu, dan 705 SNI sektor elektronika. “BSN terus mengembangkan SNI dan melakukan kaji ulang SNI maksimal lima tahun sekali. Per Juni 2016, SNI yang masih berlaku sebanyak 8.981 SNI,” ujar Budi.

Pengembangan dan penerapan SNI didukung oleh ketersediaan 227 lembaga sertifikasi, 1.171 laboratorium, lembaga inspeksi, dan penyelenggara uji profisiensi yang terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Pameran ini didukung oleh Siemens Indonesia dan badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapeten). Tak hanya sekedar pameran, ajang tersebut juga bakal menghadirkan demonstrasi produk ber-SNI, Cerdas Tangkas SNI untuk SMA/SMK, Detektif SNI yang akan mengikutsertakan Dharma Wanita. “Dalam pameran juga akan diberikan konsultasi gratis mengenai SNI. Ini supaya para pelaku usaha makin banyak yang menerapkan SNI dalam produknya,” kata Budi.

*Dari berbagai Sumber