Monthly Archives: July 2016

Sosialisasi_03

Sosialisasi dan pemasangan konverter kit Amin Ben Gas pada perahu nelayan di Pelapuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, Makassar. Kegiatan ini bagian dari percepatan implementasi Perpres 126 Tahun 2015 yang diinisiasi Kementerian Koordinaotr Maritim dan Sumber Daya. (21/7 – dok.aminbengas)

Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya melalui Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi dan Non Konvensional menyatakan uji coba alat konverter kit terkait program pemerintah dalam konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) nelayan ke Gas.

“Setelah dilakukan uji coba kepada empat kapal nelayan dianggap sukses dan bekerja dengan baik,” kata Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi, dan Non Konvensional Kemenko Maritim, Amalyos di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan,

Menurut dia, saat ini program tersebut masih dibawah kendali Kemenko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya dalam hal pengadaan alat tersebut, kendati pendanaan terbatas, sehingga pihaknya melakukan pengenalan terhadap masyarakat nelayan terkait konversi BBM ke Gas melalui alat buatan anak bangsa itu.

Selain itu pemerintah pusat akan memulai lebih dulu kemudian nantinya akan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, BUMN serta BUMD dalam hal pengadaan alat konverter kit guna konversi BBM nelayan ke gas yang diyakini sangat menghemat bahan bakar saat melaut.

“Saat ini pemerintah pusat berinisiatif. Kenapa karena Inpresnya baru keluar pada 2015 di Desember. Kami sudah jalan beberapa lokasi, Sulsel daerah ketiga dan masih banyak daerah lain yang akan dikunjungi mensosialisasikan program konversi ini,” beber dia.

Meski tidak langsung diterima nelayan, lanjutnya, kedepan kita lihat perkembangan dan meminta masukan terhadap kearifal lokal terkait dengan perbaikan-perbaikan alat ini.

Mengenai dengan adanya ratusan kelompok nelayan tersebar di Sulsel sekaitan dengan program itu, kata dia, timnya akan mendatangi dan mendata kelompok-kelompok nelayan tersebut bahkan bisa saling menghubungi agar program bisa jalan sepenuhnya.

“Makanya kami undang seluruh kelompok nelayan dan nelayannya guna menginformasikan inovasi baru anak bangsa terhadap konversi energi bahan bakar dari BBM ke Gas. Ini kan banyak nelayan di laut serta pulau-pulau lainnya,” paparnya kepada wartawan.

Kendati demikian, proses tidak sampai disini dan harus berkali-kali dilakukan sosialisasi dengan membawa pembuat alat konverter kit itu yakni Amin untuk menjelaskan langsung kepada masyarakat nelayan.

Sementara Amin selaku pembuat dan perancang alat Konveter Kit khusus nelayan berukuran 10×10 centimeter pada kesempatan itu mengatakan, alat tersebut dirancang sejak 2010 lalu serta telah diuji cobakan kepada nelayan, dan sampai saat ini perkembangan alat terus dilakukan perbaikan-perbaikan.

“Alat yang digunakan nelayan saat ini adalah generasi ke sembilan dari alat yang jauh sebelumnya di ujicobakan kepada nelayan. Alat konveter kit juga telah mendapatkan lebel SNI setelah dilakukan tes, bahkan sudah diproduksi massal di pabrik berada di tangerang,”ucap pria asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ini.

Amin menjelaskan alat konverter kit tahan terhadap air laut tersebut tidak akan pernah dijual kepada umum maupun nelayan, tetapi selama ini dibagikan kepada nelayan gratis atas bantuan pendanaan pemerintah yang sangat terbatas dan keuntungan lain yang disisihkan. Sebab alat ini lahir dari nelayan, oleh nelayan dan untuk nelayan kecil.

“Saat ini yang menggunakan konverter kit sudah ribuan. Untuk produksinya sendiri di pabrik perhari bisa mencapai dua ribuan alat. Kami tidak mementingkan profit dulu tapi bagaimana nelayan itu bisa berhemat dan mendapatkan keuntungan tidak rugi terhadap penggunan bahan bakar,” haparnya.

Selain itu pihaknya mendorong pemerintah agar menganggarkan pembelian alat konverter kit untuk nantinya bagikan kepada nelayan secara hibah atau digratiskan mengingat pengeluaran nelayan untuk Rp100 ribu pun sangat susah.

“Saya tegaskan tidak akan menjual kepada nelayan, begitupun ke Umum juga sama, kalau saya jual ke umum mereka juga akan menjual lagi ke nelayan, harganya pun saya tidak bisa sebutkan berapa. Kami berharap pemerintah mengangarkan alat ini diperuntukkan bagi nelayan secara gratis kalau itu dianggap bermanfaat bagi mereka,” harap Amin.

Seorang nelayan setempat bernama Daeng Awing (38) mengatakan telah mencoba alat tersebut sejak kemarin sebelum ujicoba secara resmi. Dirinya mengakui menggunakan gas dengan tabung tiga kilogram bisa berhemat melebuhi bahan bakan fosil yang biasa digunakannya melaut.

“Kalau mau dihitung pak, pemakaian perahu selama satu setengah jam berjalan dilaut bisa mengabiskan solar atau bensin sampai tujuh sampai delapan liter. Sementara saya coba kemarin beraktivitas dilaut selama hampir dua jam mengunanakan konverter kut tidak sampai seperempat isi tabung habis, ini sangat hemat,” tutur dia.

sumber : komoditas.co.id

Menipisnya cadangan minyak bumi telah menyebabkan produksi minyak dan gas bumi Indonesia terus mengalami penurunan. Penurunan produksi ini telah menjadikan Indonesia sebagai importir BBM.

Ironisnya, laju pertumbuhan mesin-mesin bermotor sebagai pengguna terbesar BBM sangat akseleratif setiap tahunnya, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Dengan perpres yang telah dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai upaya percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, Pemerintah bermaksud melakukan penghematan dalam bentuk belanja habis pakai, untuk dialihkan pada pembangunan infrastruktur.

“Kami telah bertemu dengan sosok nelayan yang pintar, dia menciptakan mesin konverter (konverter kit), mesin ini berfungsi sebagai alat konversi dari BBM ke Gas,” ujar Agung dalam rakor hari ke 2 di Makassar, Kamis (21/07).

Sosialisasi_10

Amin, penemu konverter kit Bensin ke Gas menjelaskan fungsi dan manfaat konverter kit Amin Ben Gas nya kepada media dan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Regional Sulawesi dalam kegiatan Sosialisasi dan demo konverter kit di Pelabuhan Perikanan Paotere, Makassar. (21/7 – dok. aminbengas)

Sumber energi alternatif untuk industri dan sektor transportasi yang dapat digunakan sebagai bahan bakar adalah LPG, CNG, dan LGV. LGV mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif.

Sedangkan LPG sebagai salah satu bahan bakar yang akrab di masyarakat sebagai bahan bakar rumah tangga, memiliki potensi untuk diperluas pemanfaatannya sebagai bahan bakar mesin motor berdaya rendah.

“Alat ini dapat menurunkan cost of production para nelayan, mengkonversi BBM nelayan ke gas,” tambahnya.

Konverter ini ditemukan oleh nelayan bernama Amin Ben Gas, di Kalimantan Barat yang dapat digunakan oleh kapal bertenaga 5GT dan telah melewati uji coba sebanyak 9 kali sejak penemuannya tahun 2010. yang akhirnya dipatenkan dengan diberi nama ABG (Amin Ben Gas).

Pada tinjauan lapangan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, Makassar peserta rakor diajak untuk melihat demo konverter kit ciptaan Amin. “Kegunaan konverter adalah untuk membuka dan menutup gas yang akan masuk menuju ruang bahan bakar,” ujar Amin.

Pada kesempatan yang sama, Agung menjelaskan bahwa pemerintah harus menjamin ketersediaan bahan bakar gas untuk tahun-tahun kedepan. “Kita harus jamin dengan penyediaan gas untuk para nelayan, jangan sampai ada kelangkaan,” ujarnya.

Senada dengan Agung, Staf Ahli Bidang Energi Kemenko Maritim dan SD Haposan Napitupulu mengatakan, Pemerintah akan mulai mencari wilayah sekitar perairan yang memiliki potensi gas bumi.

“Jika ada maka akan kami proyeksikan untuk pemanfaatan tahun-tahun mendatang,” ujarnya menambahkan.

“Maka itu kita bersama Pertamina, BPH Migas, dan PGN bersama-sama hadir dalam rakor kali ini untuk membahasnya,” tutup Haposan.

sumber : maritim.go.id

Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya melalui Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi dan Non Konvensional menyatakan uji coba alat konverter kit terkait program pemerintah dalam konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) nelayan ke Gas.

“Setelah dilakukan uji coba kepada empat kapal nelayan dianggap sukses dan bekerja dengan baik,” kata Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi, dan Non Konvensional Kemenko Maritim, Amalyos di Tempat Pelengan Ikan (TPI) Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.

Menurut dia, saat ini program tersebut masih dibawah kendali Kemenko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya dalam hal pengadaan alat tersebut, kendati pendanaan terbatas, sehingga pihaknya melakukan pengenalan terhadap masyarakat nelayan terkait konversi BBM ke Gas melalui alat buatan anak bangsa itu.

Selain itu pemerintah pusat akan memulai lebih dulu kemudian nantinya akan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, BUMN serta BUMD dalam hal pengadaan alat konverter kit guna konversi BBM nelayan ke gas yang diyakini sangat menghemat bahan bakar saat melaut.

“Saat ini pemerintah pusat berinisiatif. Kenapa karena Inpresnya baru keluar pada 2015 di Desember. Kami sudah jalan beberapa lokasi, Sulsel daerah ketiga dan masih banyak daerah lain yang akan dikunjungi mensosialisasikan program konversi ini,” beber dia.

Meski tidak langsung diterima nelayan, lanjutnya, kedepan kita lihat perkembangan dan meminta masukan terhadap kearifal lokal terkait dengan perbaikan-perbaikan alat ini.

Mengenai dengan adanya ratusan kelompok nelayan tersebar di Sulsel sekaitan dengan program itu, kata dia, timnya akan mendatangi dan mendata kelompok-kelompok nelayan tersebut bahkan bisa saling menghubungi agar program bisa jalan sepenuhnya.

Sosialisasi_12

Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi dan Non Konvensional Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Ir. Amalyos, MM berfoto bersama Amin Ben Gas setelah kegiatan sosialisasi konverter kit karya anak bangsa, konverter kit Amin Ben Gas di Pelabuhan Paotere, Makassar. (21/7 – dok.aminbengas.com)

“Makanya kami undang seluruh kelompok nelayan dan nelayannya guna menginformasikan inovasi baru anak bangsa terhadap konversi energi bahan bakar dari BBM ke Gas. Ini kan banyak nelayan di laut serta pulau-pulau lainnya,” paparnya kepada wartawan.

Kendati demikian, proses tidak sampai disini dan harus berkali-kali dilakukan sosialisasi dengan membawa pembuat alat konverter kit itu yakni Amin untuk menjelaskan langsung kepada masyarakat nelayan.

Sementara Amin selaku pembuat dan perancang alat Konveter Kit khusus nelayan berukuran 10×10 centimeter pada kesempatan itu mengatakan, alat tersebut dirancang sejak 2010 lalu serta telah diuji cobakan kepada nelayan, dan sampai saat ini perkembangan alat terus dilakukan perbaikan-perbaikan.

“Alat yang digunakan nelayan saat ini adalah generasi ke sembilan dari alat yang jauh sebelumnya di ujicobakan kepada nelayan. Alat konveter kit juga telah mendapatkan lebel SNI setelah dilakukan tes, bahkan sudah diproduksi massal di pabrik berada di tangerang,”ucap pria asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ini.

Amin menjelaskan alat konverter kit tahan terhadap air laut tersebut tidak akan pernah dijual kepada umum maupun nelayan, tetapi selama ini dibagikan kepada nelayan gratis atas bantuan pendanaan pemerintah yang sangat terbatas dan keuntungan lain yang disisihkan. Sebab alat ini lahir dari nelayan, oleh nelayan dan untuk nelayan kecil.

“Saat ini yang menggunakan konverter kit sudah ribuan. Untuk produksinya sendiri di pabrik perhari bisa mencapai dua ribuan alat. Kami tidak mementingkan profit dulu tapi bagaimana nelayan itu bisa berhemat dan mendapatkan keuntungan tidak rugi terhadap penggunan bahan bakar,” haparnya.

Selain itu pihaknya mendorong pemerintah agar menganggarkan pembelian alat konverter kit untuk nantinya bagikan kepada nelayan secara hibah atau digratiskan mengingat pengeluaran nelayan untuk Rp100 ribu pun sangat susah.

“Saya tegaskan tidak akan menjual kepada nelayan, begitupun ke Umum juga sama, kalau saya jual ke umum mereka juga akan menjual lagi ke nelayan, harganya pun saya tidak bisa sebutkan berapa. Kami berharap pemerintah mengangarkan alat ini diperuntukkan bagi nelayan secara gratis kalau itu dianggap bermanfaat bagi mereka,” harap Amin.

Seorang nelayan setempat bernama Daeng Awing (38) mengatakan telah mencoba alat tersebut sejak kemarin sebelum ujicoba secara resmi. Dirinya mengakui menggunakan gas dengan tabung tiga kilogram bisa berhemat melebuhi bahan bakan fosil yang biasa digunakannya melaut.

“Kalau mau dihitung pak, pemakaian perahu selama satu setengah jam berjalan dilaut bisa mengabiskan solar atau bensin sampai tujuh sampai delapan liter. Sementara saya coba kemarin beraktivitas dilaut selama hampir dua jam mengunanakan konverter kut tidak sampai seperempat isi tabung habis, ini sangat hemat,” tutur dia.

Bahkan dirinya mengakui biasanya melaut membeli BBM hingga Rp80 ribu hanya digunakan sehari, sementara tabung tiga kilo gram seharga Rp15 ribuan bisa berhemat sampai dua atau tiga hari.

“Saya rasa pakai alat konverter kit menggunakan tabung yang tersambung pada mesin sangat bagus dan hemat energi, cocok sekali dipakai untuk nelayan kapal kecil. Bisa juga beli BBM sedikit sebagai cadangan apabila sewaktu-waktu gas habis di tabung. Kami rasa ini cara yang baru untuk penghematan biaya operasional,” tambahnya.

sumber : antarasulsel

“Saat ini baru kita mulai melakukan survei dan pengenalan kepada nelayan di sini sekaitan gerakan mengonversi pemakaian BBM …”

Sosialisasi_09

Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya Melalui Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi dan Non Konvensional memperkenalkan konverter kit karya anak bangsa, Konverter Kit Amin Ben Gas kepada nelayan di Pelabuhan Paotere, Makassar. (21/7 – dok.aminbengas)

Kementerian Koordinator Bidang Maritim melalui Deputi II Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono melakukan sosialisasi konversi energi dari bahan bakar minyak ke gas bagi nelayan melalui konverter kit karya anak bangsa.

“Saat ini baru kita mulai melakukan survei dan pengenalan kepada nelayan di sini sekaitan gerakan mengonversi pemakaian BBM baik jenis solar maupun bensin yang selama ini digunakan nelayan ke gas,” kata Agung saat mengunjungi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu.

Menurut dia, konversi penggunaan BBM menuju gas, yakni bahan bakar non fosil diyakini akan menghemat pengeluaran nelayan yang selama ini menjadi kendala utama nelayan saat turun melaut.

Selain itu, konverter kit sangat ekonomis karena dapat menurunkan biaya operasional nelayan. Bila dibandingkan menggunakan BBM untuk sekali melaut nelayan lokal bisa menghabiskan delapan sampai 10 liter, tetapi dengan konverter kit satu tabung gas ukuran tiga kilogram bisa digunakan untuk 2 hingga 3 hari.

Mengenai alat konverter tersebut, kata dia, adalah karya Amin dikenal Amin Ben Gas (ABG), pria asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Setelah dilakukan uji coba selama 10 kali, alat koventer ini kemudian dilebel SNI untuk diproduksi massal yang pabriknya berada di Balaraja, Tangerang.

“Berdasarkan hitungan ekonomis nelayan bisa berhemat antara Rp70-Rp80 ribu bila dibandingkan membeli solar maupun bensin seharga Rp100 ribu penggunaan bahan bakar tiga hari. Kami berharap program ini disambut baik nelayan,” harapnya.

Pihaknya berharap bila produk konverter ini bisa berkembang secara nasional, ketergantungan bahan bakar fosil akan berkurang sehingga nelayan dapat memanfatkan gas sebagai bahan bakar utama saat melaut.

Selain itu Kemenko Maritim juga telah memiliki program dari Presiden Joko Widodo untuk menggantikan fungsi BBM menuju gas sebagai bagian dari penggunaan energi terbarukan.

Bahkan pihaknya juga akan melakukan rapat dengan Pertamina sebagai penyuplai bahan bakar. Bila ini berjalan sesuai rencana akan dibangunkan pengisi LPG di Pelabuhan Paotere termasuk pabrik es yang menjadi salah satu bagian penting industri perikanan dan kelautan.

Perwakilan nelayan, Syarifuddin saat ditanya terkait dengan program konversi BBM ke gas sebagai salah satu alternatif bahan bakar nelayan saat melaut menyambut baik hal tersebut. Namun program itu jangan sampai salah sasaran.

“Kalau itu sudah kemauan pemerintah dan bisa berhemat kami ikut saja, asalkan kami nelayan ini tetap diperhatikan masalah kesejahteraan, kerena tidak semua nelayan itu mampu dan berpenghasilan besar, kalau tangkapan ikan besar dapat besar kalau kecil kita merugi,” ujarnya.

sumber : antarasulsel

 

Pemerintah Kota Makassar sangat mengapresiasi Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya yang telah berhasil membuat Konverter Kit yakni sebuah alat yang bisa digunakan nelayan untuk berlayar lebih lama.

Melalui Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal menyampaikan bahwa terobosan yang dibuat oleh Koordinator Maritim dan Sumber daya tersebut mampu menghemat energi.

Hal ini sangat diapresiasi oleh Pemerintah kota Makassar, karena dinilai mampu menghemat energi dan memperpanjang waktu untuk melaut.

Sosialisasi_10

Amin, penemu Konverter Kit Bensin Ke Gas saat menjelaskan cara kerja konverter kit nya kepada media dan perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Seregional Sulawesi di Pelabuhan Perikanan Paotere, Makassar. (21/7 – dok.aminbengas.com)

“Program ini sangat baik saya kira, kita mau ajak kembali nenek moyang yang dulu pelaut untuk kembali. Ada keputusan presiden 126 yang isinya itu adalah kesiapan pemerintah untuk mendisrtibusikan bahan bakar alternatif termasuk konversi dari bahan bakar minyak menjadi gas ini yang mesti disiapkan untuk daerah maritim dalam konsep nawacita kita,” ujar Deng Ical.

Ia menambahkan bahwa kebijakan yang diambil di Makassar untuk mendukung program ini adalah dengan mengadakan SPB di pelabuhan Paotere untuk para nelayan.

Ia mengharapkan agar kementerian koordinasi maritim dan sumber daya juga bisa membagun pabrik untuk pengolahan hasil laut agar tidak diekspor lagi untuk diproduksi.

“Pabrik pengolahan ikan dan sumber daya lain lagi kita ususlkan ke kementerian agar bisa membangun supaya kita tidak harus mengirim lagi untuk diproduksi,” pungkasnya.

sumber : makassarterkini.com