Monthly Archives: May 2016

Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya melalui Deputi II Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono meninjau langsung pemanfaatan konverter kit untuk konversi BBM ke gas oleh nelayan.

Dari peninjauan ini Kemenko Maritim dan Sumber Daya akan mengawal eksistensi konverter kit, karena dinilai sangat bermanfaat bagi nelayan dan lebih ekonomis dari segi biaya.

“Saya ke sini ingin melihat langsung benar tidak nelayan-nelayan di sini memanfaatkan konveter kit yang sudah diuji coba sampai 9 kali ini, dan ternyata mereka lebih senang menggunakan konverter kit ini,” demikian dikatakan Deputi Agung Kuswandono usai melakukan peninjauan pemanfaatan konverter kit BBM ke gas oleh nelayan di Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat, belum lama ini.

ABG-&-Deputi-Maritim_12

Deputi 2 Bidang SDA dan Jasa Menko Kemaritiman, Agung Kuswandono, berdialog dengan nelayan pengguna konverter kit Amin Ben Gas dalam kunjungannya ke Sungai Kakap, Kubu Raya Kalimantan Barat. (dok.aminbengas)

Konverter Kit ini adalah karya Amin yang dikenal dengan Amin Ben Gas (ABG), seorang anak bangsa dari Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Konverter kit tersebut mengkonversi dari BBM ke Gas (LPG). Dari segi biaya, menurut Agung konverter kit sangat ekonomis karena dapat menurunkan biaya operasional yang cukup signifikan.

Perbandingannya adalah jika menggunakan BBM untuk sekali melaut nelayan lokal ini bisa menghabiskan 8 hingga 10 liter, namun dengan konverter kit ini 1 tabung gas ukuran 3 kg bisa digunakan untuk 2 hingga 3 hari.

“Jadi, mereka sudah bisa saving 70 ribu rupiah sebelum berangkat dibandingkan menggunakan bensin atau solar,” kata Agung lagi.

Tidak hanya itu, menurut Agung konverter kit ini sudah memiliki pabrik lokalnya yang berlokasi di Balaraja, Tangerang. Namun sudah ada juga yang impor.

“Kalau memang produk lokal ini bisa berkembang secara nasional, kenapa nggak kita angkat. Namun untuk mengangkatnya kita harus punya dasar yang kuat,” lanjut Agung.

Jika produk konverter ini bisa berkembang secara nasional, tambah Agung, maka akan banyak keuntungan yang dapat diraih di antaranya, industrusi nasional akan bangkit, mengubah penggunaan BBM ke gas terlaksana, nelayan akan menikmati nilai tambah yang tinggi.‎

Terkait hal ini, sebagai koordinator, Kemenko Mariitim dan Sumber Daya memang sudah memiliki program dari Presiden Joko Widodo untuk menggantikan fungsi BBM ke Gas. Konverter kit merupakan salah satu bukti nyata penggunaan gas tersebut.
Selain itu, dukungan secara teknis juga dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang juga memiliki program untuk membagikan 3.200 kapal kepada nelayan.

“Kapal nelayan sampai dengan 5 gross ton bisa memakai konverter ini. Kenapa ini tidak di link-kan saja. Jadi waktu membagi kapal itu sekaligus kita bagikan juga konverter kit nya. Ternyata konverter kit ini yang menangani kementerian ESDM. Tugas kami di pusat mengumpulkan penggede-penggede ini supaya programnya bisa sinergi langsung ke masyarakat,” pungkas Agung.

 

sumber : maritim.go.id

Perahu bermesin dengan bahan bakar bensin atau solar mungkin sudah biasa. Tapi tidak dengan nelayan di Kabupaten Kubu Raya. Sebagian dari mereka menggunakan elpiji sebagai bahan bakar mesin perahunya. Bagaimana Sensasinya?

 

Deputi2-naik-perahu-abg

Deputi 2 Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Kemaritiman, Agung Kuswandono, merasakan secara langsung perahu berbahan bakar gas menggunakan konverter kit Amin Ben Gas. Agung akan mengawal konverter kit ini agar bisa digunakan oleh seluruh nelayan di indonesia. (dok.aminbengas)

Siang itu, Kamis (12/5) di Sungai Itik, Jeruju Besar Kabupaten Kubu Raya berjajar belasan perahu menunggu rombongan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya yang dijadwalkan datang dan meninjau langsung pemanfaatan konventer kit oleh nelayan di Kabupaten Kubu Raya.

Setiba di Sungai Itik, satu persatu rombongan dari Kemeterian itu dipersilahkan untuk menaiki perahu. Ada berbeda memang. Setiap perahu yang berjajar di sana, masing-masing terdapat satu tabung gas ukuran 3 Kg. Wah, semakin penasaran saja, bagaimana ya rasanya menaiki perahu berbahan bakar elpiji itu?

Setelah semua orang mengambil posisi masing-masing, mesin perahu pun dinyalakan. Suaranya memecah suasana. Menderu bersama teriknya matahari siang itu. Satu persatu perahu mulai meninggalkan dermaga Sungai Itik menyusuri sungai menuju Muara Kakap dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Pontianak Post ikut serta dalam rombongan itu.

Kebetulan, juru mudi kami bernama Mus (40), Nelayan asal Tanjung Intan Kecamatan Sungai Kakap. Perahu yang dikemudikan Mus mulai melaju. Suara mesin perahunya menderu kencang memekakkan telinga. Terlebih saat melintasi terowongan jembatan.

Setelah kurang lebih satu jam menyusuri sungai, kami dan rombongan pun tiba di dermaga Sungai Kakap, sebagai pusat perekonomian di kecamatan itu.

Mus memang belum cukup lama menggunakan elpiji sebagai bahan bakar mesin perahunya. Namun, dia mengaku selama menggunakan bahan bakar elpiji, cukup menghemat biaya operasionalnya. “Saya baru empat bulan ini menggunakan elpiji. Ya alhamdulillah, lebih hemat. Kalau biasanya sekali turun melaut menghabiskan 10 liter bensin, dengan konverter kit elpiji ini, cukup dengan satu tabung gas elpiji,” tuturnya.

Sehingga dengan seperti itu, dirinya bisa menghemat biaya operasional dan meningkatkan pendapatan keluarga.

Selain hemat, lanjut Mus, bahan bakar elpiji juga lebih ramah lingkungan. Bahkan kecepatan mesin perahu miliknya semakin laju dibanding menggunakan bahan bakar bensin. “Lajunya lebih kencang daripada bensin,” lanjutnya.

Konveter kit Amin Ben Gas ini merupakan generasi ke sembilan. Dimana sudah melalui berbagai tahapan proses penyempurnaan. Bahkan pada tahun 2015 lalu, konverter kit ini mendapat sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) dan siap dipasarkan skala nasional.

Di sela-sela kunjungannya, Deputi II Bidang Koordinasi SDA dan Jasa, Kemenko Maritim dan Sumberdaya, Agung Kuswandono akan mengawal pemanfaatan konverter kit ini untuk diterapkan skala nasional, agar semakin banyak nelayan mendapatkan keuntungan dari alat tersebut.

“Hari ini kita melihat langsung bagaimana penerapan alat ini pada sampan bermotor, yang juga ternyata bisa digunakan untuk mesin genset dan penggilingan. Bahkan dari pengakuan nelayan yang menggunakan alat ini, mereka bisa menghemat bahan bakar sampai 80 persen, sehingga ini akan kita dorong agar bisa digunakan pada skala nasional,” kata Agung.

Agung yang ikut menggunakan sampan bermotor dengan menggunakan konverter kit tersebut mengaku bangga karena ada anak negeri yang bisa menciptakan alat praktis dan efisien tersebut “Saat menggunakan sampan motor tadi, akselerasi mesin sama sekali tidak berubah,” katanya.

Sementara dari pengakuan masyarakat nelayan sendiri, lanjutnya, mereka bisa menggunakan satu tabung gas elpiji 3 kilogram untuk tiga hari melaut. Padahal, jika para nelayan menggunakan bensin, mereka memerlukan delapan liter per harinya, sehingga penggunaan alat ini benar-benar efisien dan bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan. “Makanya, ini akan terus kita dorong dan sepulang dari sini, kita akan melakukan pertemuan dengan kementerian terkait agar ini bisa digunakan secara nasional. Terlebih kita dapat informasi alat ini juga sudah dipesan oleh beberapa negara Asean, sehingga ini harus cepat diaplikasikan,” katanya.

Saat ditanya mengenai adanya ketentuan pemerintah yang melarang penggunaan tabung gas elpiji untuk kepentingan lainnya selain untuk memasak skala rumah tangga, dirinya mengatakan akan mengkoordinasikan hal tersebut kepada kementerian terkait.“Setelah ini akan kita adakan pertemuan, agar ketentuan tersebut bisa disesuaikan, toh ini juga digunakan untuk kesejahteraan masyarakat kecil,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor perwakilan BI Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan, pihaknya siap memberikan program CSR kepada nelayan untuk pengadaan alat Konverter kit ciptaan Amin Ben Gas tersebut. “Selama ini kita juga sudah menggelontorkan dana CSR pengadaan konversi minyak ke gas ini, namun menggunakan produk dari luar,” katanya.

Setelah melihat sendiri penggunaan alat Konverter kit ciptaan Amin Ben Gas tersebut, ia menambahkan, ke depan akan menggunakan alat buatan putra daerah Kalbar tersebut.

Dwi menjelaskan, BI merasa memiliki andil dalam mensejahterakan nelayan, karena harga ikan juga menjadi salah satu penyebab inflasi di Kalbar.

 

sumber : PontianakPost

Deputi II Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Agung Kuswandono sangat mendukung rencana peralihan alias konverter kit BBM ke Gas bagi nelayan yang diperuntukan bagi nelayan seluruh Indonesia. Konverter kit bernama ABG, hasil karya dari Amin Ben Gas warga Kubu Raya, Kalimantan Barat ini, bahkan diprediksi pemerintah akan mengalahkan produk serupa dari luar negeri.

ABG-&-Deputi-Maritim_15

(dokumentasi aminbengas)

 

Konverter Kit ABG kini telah memperoleh hak paten dan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan akan dipersiapkan bagi pasar nasional dan juga internasional.

“Produk ini temuan yang luar biasa, bisa mengalahkan produk luar negeri. Tinggal menunggu akreditasi, kalau sudah jadi kita bisa ekspor. Bayangkan jika Thailand, Filipina, berminat,  pasarnya luar biasa besar. Ekonomi kan berkembang. Pabriknya nanti akan banyak membutuhkan tenaga kerja. Dukungan kita ke arah sana,” ujar Agung di Kubu Raya, Kalbar, Kamis, (12/5).

Menurutnya, pemerintah juga akan mengembangkan hal serupa di daerah perikanan lain untuk meringankan beban nelayan. “Konverter Kit ABG akan dikembangkan secara nasional, diperuntukkan bagi seluruh nelayan tanah air,” jelas Agung.

Dia memastikan Kemenko Maritim akan mendukung karya lokal ini. Pemerintah pusat akan turun tangan menangani, karena level penyeberannya cakupan nasional. Pemerintah akan mengantisipasi serangan barang impor yang berpotensi menjadi pesaing produk-produk anak bangsa.

“Kenapa kita harus impor kalau anak bangsa bisa bikin. Pemerintah daerah juga mendukung. Inovasi ini harus dikembangkan nasional. Produknya sudah dipatenkan, sudah SNI. Harusnya kita punya kebanggaan ini produk lokal masyarakat,” terangnya.

“Kalau ini jadi secara nasional, industri nasionalnya bangkit. Setelah ini kita kumpulkan Kementerian ESDM, KKP, BSN serta Kemendagri, supaya ada aturan yang mengganjal kita muluskan.”

 

sumber : rmol.co

ABG-&-Deputi-Maritim_10

Deputi 2 Bidang SDA dan Jasa Kemenko Kemaritiman, Agung Kuswandono secara langsung melihat manfaat konverter kit Amin Ben Gas yang bisa digunakan untuk berbagai mesin berbahan bakar bensin yang sudah banyak digunakan oleh nelayan. (dok.aminbengas)

Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya akan mengawal pemanfaatan konverter kit BBM ke gas oleh nelayan.

Hal ini menjadi salah satu fokus kementerian yang dipimpin oleh Rizal Ramli, karena konverter kit BBM ke gas sangat bermanfaat bagi nelayan. Terbukti di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Nelayan di sini sehari-hari menggunakan tabung gas LPG melintasi Sungai Jeruji, Sungai Itik, hingga ke Sungai Kakap yang merupakan pertemuan aliran sungai menuju Laut Kakap.

Secara khusus, Deputi II Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Agung Kuswandono melihat langsung penggunakan konverter kit yang konon sangat menguntungkan bagi nelayan. Para nelayan setidaknya bisa menghemat ongkos mencari ikan hingga 40 persen, apalagi emisi gas lebih ramah lingkungan dibandingkan solar atau bensin.

Penggunaan konverter kit BBM ke gas bagi perahu nelayan secara umum persis seperti konsep di mobil yang sudah mulai bermunculan. Terlebih konverter karya Amin Ben itu juga sudah memiliki sertifikat SNI.

Satu tabung gas 3 kilogram setara dengan nelayan melaut menghabiskan 12 liter bensin. Konverter kit ini juga sudah memiliki pabrik sendiri dan sedang menanti pemerintah agar bisa terdistribusikan ke seluruh nelayan di Indonesia.

“Kementerian kita dengan KKP mendukung penuh, agar konverter kit karya anak bangsa ini tidak tersaingi oleh barang impor. Sudah di SNI-kan, tapi karena akan masuk pasar, kita harus kawal,” ujar Agung di Kubu Raya, Kalimantan, Kamis (12/5).

Agung berpendapat, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menolak konverter kit karena ini sangat menunjang program alih BBM menuju gas yang ramah lingkungan dan lebih ekonomis.

“Satu tabung gas, bisa bertahan 2-3 hari untuk nelayan. Sebelum berangkat mereka sudah bisa saving 70 ribu rupiah, dibandingkan menggunakan bensin atau solar,” kata Agung lagi.

Apalagi, lanjut Agung, Kemenko Maritim dan Sumber Daya bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah kompak untuk mengawal konverter kit bagi nelayan ini. Hanya saja masih perlu koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian ESDM agar ketersediaan gas bagi nelayan bisa disiapkan.

“Selama ini masih menggunakan elpiji rumah tangga, jadi nanti kita dorong agar tidak rebutan dengan elpigi rumah tangga lagi, harus ada gas khusus buat nelayan,” pungkasnya.

 

sumber : rmol.co

Deputi Bidang Koordinasi SDA dan Jasa, Kemenko Maritim dan Sumberdaya, Agung Kuswandono menyatakan mendorong penggunaan konverter kit ciptaan Amin Ben Gas diterapkan skala nasional, agar semakin banyak nelayan mendapatkan keuntungan dari alat tersebut.

“Hari ini kita melihat langsung bagaimana penerapan alat ini pada sampan bermotor, yang juga ternyata bisa digunakan untuk mesin genset dan penggilingan. Bahkan dari pengakuan nelayan yang menggunakan alat ini, mereka bisa menghemat bahan bakar sampai 80 persen, sehingga ini akan kita dorong agar bisa digunakan pada skala nasional,” kata Agung saat melakukan peninjauan penggunaan konverter kit Amin Ben Gas di kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kamis.

Agung yang ikut menggunakan sampan bermotor dengan menggunakan konverter kit tersebut mengaku bangga karena ada anak negeri yang bisa menciptakan alat praktis dan efisien tersebut.

ABG-&-Deputi-Maritim_05

Deputi 2 Bidang SDA dan Jasa Kemenko Kemaritiman Agung Kuswandono secara langsung menggunakan perahu berbahan bakar gas menggunakan konverter kit Amin Ben gas. (dok.aminbengas)

“Saat menggunakan sampan motor tadi, akselerasi mesin sama sekali tidak berubah,” katanya.

Sementara dari pengakuan masyarakat nelayan sendiri, lanjutnya, mereka bisa menggunakan satu tabung gas elpiji 3 kilogram untuk tiga hari melaut. Padahal, jika para nelayan menggunakan bensin, mereka memerlukan delapan liter per harinya, sehingga penggunaan alat ini benar-benar efisien dan bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan.

“Makanya, ini akan terus kita dorong dan sepulang dari sini, kita akan melakukan pertemuan dengan kementerian terkait agar ini bisa digunakan secara nasional. Terlebih kita dapat informasi alat ini juga sudah dipesan oleh beberapa negara Asean, sehingga ini harus cepat diaplikasikan,” katanya.

Saat ditanya mengenai adanya ketentuan pemerintah yang melarang penggunaan tabung gas elpiji untuk kepentingan lainnya selain untuk memasak skala rumah tangga, dirinya mengatakan akan mengkoordinasikan hal tersebut kepada kementerian terkait.

“Makanya setelah ini akan kita adakan pertemuan, agar ketentuan tersebut bisa disesuaikan, toh ini juga digunakan untuk kesejahteraan masyarakat kecil,” katanya.

BI dukung

Sementara itu, Kepala Kantor perwakilan BI Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan, pihaknya siap memberikan program CSR kepada nelayan untuk pengadaan alat Konverter kit ciptaan Amin Ben Gas tersebut.

“Selama ini kita juga sudah menggelontorkan dana CSR pengadaan konversi minyak ke gas ini, namun menggunakan produk dari luar,” katanya.

Setelah melihat sendiri penggunaan alat Konverter kit ciptaan Amin Ben Gas tersebut, ia menambahkan, ke depan akan menggunakan alat buatan putra daerah Kalbar tersebut.

Dwi menjelaskan, BI merasa memiliki andil dalam mensejahterakan nelayan, karena harga ikan juga menjadi salah satu penyebab inflasi di Kalbar.

Menurutnya, jika masyarakat nelayan bisa menekan biaya melaut dan bisa lebih hemat dengan menggunakan konverter kit Amin Ben Gas tersebut, maka keuntungan nelayan akan semakin besar dan nelayan akan semakin sejahtera.

“Secara otomatis, harga ikan di pasaran juga akan bisa stabil dan lebih murah, karena margin keuntungan nelayan sudah besar. Hal ini nantinya akan berdampak pada penurunan angka inflasi,” tuturnya.

Dia menambahkan, apa yang dilakukan oleh Amin tersebut merupakan suatu hal yang sangat membanggakan, karena bisa menciptakan suatu teknologi yang bisa mengefisiensikan penggunaan bahan bakar.

“Ini tentu menjadi suatu kebanggaan bagi Kalbar, karena ada masyarakatnya yang bisa memberikan pengaruh besar terhadap penghematan energi dan berdampak pada efisiensi pengeluaran masyarakat. Makanya ini tentu harus kita dukung,” kata Dwi.

 

sumber : antara kalbar

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Alam menyambut baik temuan teknologi baru bernama konverter kit. Mereka menilai pemerintah memang harus mendorong produk-produk asli dari dalam negeri.

“Ini orang lokal, kita dukung yang lokal ini,” kata Deputi Bidang SDA dan Jasa Kementerian Koordinator Kemaritiman, Agung Kuswandono, di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat, 13 Mei 2016.

Selain merupakan produksi yang dibuat oleh anak bangsa, Agung mengemukakan bahwa pabriknya pun dikelola anak bangsa. Begitu pula dengan tenaga kerja juga dari kalangan lokal.

“Harus pemerintah pusat yang menangani, karena level nasional. Kenapa kita harus impor kalau anak bangsa bisa bikin?” ujarnya.

Apalagi, sejauh ini konverter kit sudah uji coba 9 kali. Kemudian, pemerintah daerah juga mendukung, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Barat, mendukung dan mengangkatnya ke level provinsi.

ABG-&-Deputi-Maritim_13

Deputi 2 Bidang SDA dan Jasa Kementerian Koordinator Kemariritiman, Agung Kuswandono mendukung dan akan terus mendorong penggunaan konverter kit Amin Ben Gas. (dok.aminbengas)

“Produk ini temuan yang luar biasa, bisa mengalahkan produk luar negeri. Tinggal menunggu akreditasi KAN,” imbuhnya.

Agung menambahkan, apabila sudah jadi secara menyeluruh maka pemerintah bisa ekspor alat itu ke luar negeri. Ia yakin prospeknya cukup baik.

“Bayangkan, jika Thailand, Filipina, (converter kit) digunakan mereka, pasarnya luar biasa besar. Ekonomi kan berkembang. Dukungan kita ke arah sana,” imbuhnya.

Agung menilai alat itu harus dikembangkan nasional. Sejauh ini, produknya sudah dipatenkan, dan mendapat label SNI.

“Harusnya kita punya kebanggaan ini produk lokal masyarakat,” kata dia.

Dia meyakini jika diproduksi secara nasional, maka industri nasionalnya bangkit. Oleh karena itu, institusinya akan mengumpulkan Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Standarisasi Nasional (BSN), serta Mendagri.

“Supaya ada aturan yang mengganjal kita muluskan.”

 

sumber : viva.co.id

Kabar gembira bagi seluruh nelayan tradisional Indonesia. Kini telah hadir konverter kit BBM ke gas untuk kapal nelayan karya anak bangsa, Amin Ben Gas dari Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Pemerintah dipastikan akan mengawal konverter kit hasil karya anak bangsa bisa didistribusikan ke nelayan-nelayan seluruh Indonesia. Pabrik pembuatannya di Balaraja, Cikarang. Namun, saingan konverter kit Amin Ben Gas (ABG) tersebut mendapat penantang serius, yakni barang serupa dari luar negeri alias impor.

Deputi II Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Agung Kuswandono mengatakan, produk konverter kit ABG ini tidak kalah saing dengan barang impor.

“Kalau produksi lokal ini bisa berkembang, kenapa tidak kita angkat. Nelayan-nelayan ternyata mereka senang menggunakan ini,” kata Agung di Kubu Raya, Kalbar, Kamis (12/5).

ABG-&-Deputi-Maritim_12

Konverter Kit Amin Ben Gas tidak hanya digunakan untuk mesin kapal perahu nelayan saja, tapi dapat digunakan pula untuk mesin-mesin lain yang menggunakan tenaga penggerak bensin seperti mesin pakan ikan, genset dan pompa air. (dok.aminbengas)

Sebagai koordinator bidang maritim, Kemenko Maritim dan Sumber Daya, ditegaskan Agung akan mengawal eksistensi konverter kit ABG sebagai bukti nyata dari program Presiden Jokowi yang ingin mengalihkan penggunaan BBM ke gas.

Salah satu langkah konkretnya, Kemenko Maritim akan menyisipkan konverter kit ABG dalam pembagian 3.200 kapal ke nelayan yang merupakan program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“KKP punya program 3.200 kapal. Kapal yang gross-tonnya 5-10 itu bisa memakai konverter ini. Kenapa ini tidak di link kan saja. Ternyata konverter kit ini yang menangani kementerian ESDM. Tugas kami dipusat mengumpulkan penggede-penggede ini supaya programnya bisa sinergi,” jelas Agung.

Saat ini, para nelayan masih menggunakan tabung gas elpiji 3 kilogram untuk bahan bakar perahu mereka. Ke depan, Kemenko Maritim akan mendorong Kementerian ESDM sebagai leading sector, menyediakan supply gas khusus untuk nelayan, untuk mendukung alih BBM ke gas ini. Penggunaan gas untuk rumah tangga sudah memiliki acuan Perpres hingga 2018.

“Kita memastikan dengan teman-teman ESDM, untuk supply gas nya ada. Kita bicarakan juga dengan Pertamina. Di lapangan ini digunakan, supply gasnya harus ada. Jangan sampai rebutan dengan gas rumah tangga. Intinya kalau konverter kit bisa disebarkan, gasnya jangan sampai hilang,” pungkas Agung.

 

sumber : rmol.co

 

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Alam akan mendukung konverter kit teknologi lokal  untuk para nelayan. Produk itu mampu menjadikan gas sebagai bahan bakar mesin perahu atau kapal.

ABG-&-Deputi-Maritim_11

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman Agung Kuswandono mendengarkan paparan nelayan mengenai manfaat konverter kit Amin Ben Gas yang sudah dipergunakan mereka. (dok.aminbengas)

“Kalau produksi lokal ini bisa berkembang, kenapa tidak kita angkat?” kata Deputi Bidang SDA dan Jasa, Agung Kuswandono, di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis, 12 Mei 2016.

Agung mengemukakan bahwa sekarang ini sudah ada pabrik pembuatan konverter kit di Balaraja, Cikupa. Mereka menggunakan tenaga kerja Indonesia.

Agung mengatakan bahwa nelayan-nelayan khususnya di wilayah Kubu Raya, Kalimantan Barat,  ternyata senang menggunakan alat yang ditemukan nelayan setempat, Amin Bengas.

“Program Presiden Jokowi mengubah BBM ke gas. Ini bukti nyata penggunaan gas itu,” kata Agung lagi.

Agung menuturkan, Kementerian Kelautan dan Perimanan (KKP) mempunyai program 3.200 perahu bagi nelayan. Sebagai koordinator, Kementerian Maritim mendorong agar perahu-perahu itu menggunakan alat tersebut.

“Maksud kami kenapa ini tidak di-link-kan saja?” katanya.

Namun, mereka menemukan situasi bahwa soal Konverter Kit tersebut, institusi yang berwenang menangani adalah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Tugas kami di pusat mengumpulkan penggede-penggede ini supaya programnya bisa sinergi,” tuturnya.

Para nelayan khususnya di Kalimantan Barat kini bisa lebih mudah dalam menjalankan aktifitasnya, mencari nafkah untuk penghidupan mereka. Sebab, mereka menggunakan suatu teknologi baru bernama Konverter Kit.

Alat itu ditemukan oleh Amin Ben Gas, warga Kubu Raya, Kalbar. Bersama para nelayan itu, Amin melakukan uji coba sampai melahirkan generasi kesembilan.

 

Sumber : viva.co.id

Para nelayan, khususnya di Kalimantan Barat, kini bisa lebih mudah dalam menjalankan aktivitasnya mencari nafkah untuk penghidupan mereka. Sebab, mereka menggunakan suatu teknologi baru bernama Konverter Kit.

Alat itu ditemukan oleh Amin Ben Gas, warga yang juga nelayan di Kubu Raya, Kalbar. Bersama para nelayan itu, Amin melakukan uji coba hingga melahirkan generasi kesembilan. Amin menuturkan, alat tersebut berfungsi sebagai perantara. Ia bisa menyalurkan gas menjadi bahan bakar untuk menggerakkan mesin kapal atau perahu bahkan lainnya.

“Mulai dari tabung LPG 3 kg, keluar regulator, yang low pressure, masuk selang. Dari selang gas masuk Konverter Kit,” kata Amin, Kamis, 12 Mei 2016.

Amin melanjutkan, pada Konverter Kit itu terdapat pengaman berbentuk keran. Kegunaannya, untuk menutup dan membuka gas yang akan masuk menuju ke ruang bahan bakar.

“Sistem kerjanya Konverter Kit, berapa yang dibutuhkan mesin, itulah yang disuplai bahan bakarnya. Mesin itu kan menghisap (gas),” ujarnya.

Amin mengatakan, alat itu bersifat universal. Bisa digunakan untuk mesin besar maupun kecil. “Merek apa saja bisa semua. Tujuan kita memudahkan nelayan, bukan dagang,” katanya.

Sejauh ini, Amin memang tidak menjual teknologi temuannya itu ke nelayan. Demi memberikannya secara cuma-cuma, dia pun rela menjual ruko dan dua mobilnya. Selain itu, bantuan diberikan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Provinsi Kalbar.

“Kalau saya dagang buat (alat) yang susah, biar kalau ada apa-apa orang datang,” kata Amin.

ABG-&-Deputi-Maritim_16

(dok.aminbengas)

Sejarah penemuan

Amin mengemukakan bahwa Konverter Kit itu ditemukan mulai 2010. Waktu itu, ia melihat nelayan mengeluhkan masalah mahal dan langkanya bahan bakar. “Jadi kami bikin alternatif, ada dua,” katanya.

Amin menjelaskan bahwa Konverter Kit bisa dipakai dengan gas. Jika tidak, nelayan bisa kembali memakai bensin. “Jadi di dalam satu mesin bisa menggunakan dua bahan bakar. Yang kami khususnya nelayan-nelayan kecil,” ujarnya.

Ia menceritakan, awalnya para nelayan takut saat dikenalkan pertama kali. Setelah sosialisasi, akhirnya mereka yakin dan tertarik.

“Mereka lama-lama familiar sekali dengan gas. Perahu-perahu sudah enggak pakai bensin lagi, tangki bensin dihilangkan. Mereka sudah merasakan manfaat tabung gas 3 kg itu, kalau dengan minyak 8-10 liter,” ungkapnya.

Meski demikian, Amin tidak menjual alat itu ke nelayan. Karena, menurutnya, ini yang menemukan adalah mereka.

“Kami uji coba, mereka yang pakai sampai generasi 1-9. Kelebihan kekurangan mereka yang paling tahu,” tuturnya.

Menurut dia, mereka adalah bagian dari teknologi tersebut. Oleh karena itu, tak ada alasan untuk menjual ke mereka.

Nah, ini dari nelayan, oleh nelayan dan untuk nelayan. Kami enggak boleh dagang ke mereka. Dari sini lah perlu pemerintah hadir. Bagaimana, nelayan ini kan miskin. Pemerintah wajib hadir di sini,” tuturnya.

Amin menuturkan, pemerintah pusat baru tahun-tahun ini merespons. Masalahnya, kini adalah tarik menarik antara produk impor dan lokal tersebut.

“Sekarang kembali ke pemerintah, keberpihakannya kepada industri dalam negeri yang memang dibutuhkan dalam negeri juga (atau impor)” katanya.

Amin bersama para petani sudah berbuat atau berusaha. Segala aturan mereka ikuti. Oleh karenanya, ia menyerahkan pada pemerintah untuk memberikan kebijakannya.

“Perlu paten kami ikutin, perlu SNI kami ikutin. Hasil uji coba, kami sudah ada. Barang sudah ada, pabrik sudah ada,” tuturnya.

 

Sumber : viva.co.id