Monthly Archives: April 2016

Setelah melalui proses lelang, pemerintah segera menyalurkan converter kit untuk nelayan di Sembilan wilayah Indonesia. Pembagian converter kit bagi nelayan selainwujud kepedulian pemerintah kepada nelayan untuk menurunkan biaya bahan bakar juga merupakan bagian dari program konversi BBM ke Gas dimana sebagian besar nelayan masih menggunakan solar untuk melaut.

Pemanfaatan gas sebagai bahan bakar untuk kapal penangkap ikan nelayan akan membawa tiga keuntungan bagi nelayan, pertama penghasilan nelayan akan meningkat seiring menurunnya pengeluaran untuk konsumsi bahan bakar, kedua availability, ketersediaan lebih mudah jika dibandingkan membeli solar dan ketiga lebih ramah lingkungan.

Manado_17

(dok.aminbengas)

“Sekitar pertengahan bulan April akan kita lelang, terus kita harapkan setelah lelang, bulan Mei sudah mulai disebarkan,”ujar Direktur Jenderal Minyak Dan Gas Bumi, IGN Wiratmaja ditemui di sela-sela Pembentukan Pusat Unggulan Energi Bersih, di PLDG Pesanggaran, Jumat (1/4).

Pemerintah akan membatasi pemberian converter kit bagi nelayan-nelayan kecil yang kapasitas kapalnya dibawah 5 gross tone (GT). “Pembagian converter kit akan dialokasikan bagi nelayan-nelayan kecil yakni dengan kapasitas kapal dibawah 5 groos ton dan mesinnya yang bisa kita gantikan dulu. Wilayahnya ada Sembilan ada yang tersebar di Jawa Barat, Bali, Sumatera dan Kalimantan dan kita harapkan bulan September sudah seluruhnya diberikan,” lanjut Wiratmaja.

Pembagian converter kit khususnya para nelayan merupakan wujud kepedulian Pemerintah kepada nelayan sekaligus merupakan bagian dari program percepatan konversi BBM ke bahan bakar gas. Pengalihan bahan bakar dari BBM ke Gas ini memberikan manfaat penghematan bagi nelayan mencapai 60% dengan perhitungan, satu tabung LPG berukuran 3 kg seharga sekitar Rp 20-25 ribu dan dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk melaut sekitar 3 hari. Sementara jika menggunakan BBM, tiap kali melaut memerlukan BBM sebanyak 2 liter atau sekitar Rp18-20 ribu per hari atau sekitar Rp 54-60 ribu untuk 3 hari.

Sumber : ESDM

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan nelayan-nelayan miskin akan mulai mendapatkan paket konverter kit pada Mei.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja mengatakan, setelah tayang lelang di pertengahan April, ditargetkan pada Mei para nelayan kecil sudah bisa mendapatkan paket konverter kit tersebut.

Manado_10

(dok.aminbengas)

“Pertengahan April ini akan tayang lelang. Kita harapkan sebulan lelang, jadi Mei nanti sudah bisa disebarkan,” kata Wirat saat ditemui di PLTDGU Pesanggaran, Denpasar, Bali, Sabtu (2/4/2016).

Wirat menyebutkan, mulai Mei akan disebar 5.000 paket konverter kit yang terdiri dari dua tabung dan satu konverter kit. Ia berharap, pada September target penyebaran 5.000 konverter kit sudah selesai.

“Jadi untuk tahun ini kita punya 5.000 kita clear kan dulu. Kita harapkan September nanti konverter kit itu sudah terpasang semua,” ungkap dia.

Sekadar informasi, program pemberian konverter kit dan tabung ke nelayan ini merupakan program pemerintah untuk mengkonversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Pemerintah pun sudah menganggarkan Rp74 miliar untuk program tersebut.

Agar pembagian konverter kit nelayan ini tepat sasaran, Wirat terus mengingatkan, bahwasannya program ini memang dikhususkan pemerintah untuk memfasilitasi nelayan-nelayan kecil di bawah 5 GT dan miskin di sembilan wilayah yakni Sukabumi, Cilacap, Demak, Cirebon, Karangasem, Tuban, Jakarta Utara, Pemalang, dan Tangerang.

“Ini khusus untuk nelayan miskin, jadi kapalnya kecil-kecil,” tegas dia.

 

Sumber : metrotvnews.com

Dalam rangka mendapatkan masukan pemangku kepentingan terhadap pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI), Pusat Perumusan Standar Badan Standardisasi Nasional (PPS BSN) berkunjung ke PT. Fajar Cipta Wacana di Cikupa, Tanggerang pada Senin (28/3/2016). PT. Fajar Cipta Wacana (FCW) merupakan industri yang bergerak di bidang pembuatan regulator tabung gas dan konverter kit untuk kapal nelayan.

Kunjungan Tim PPS-BSN yang dipimpin Kepala bidang mekanika, elektronika dan konstruksi Y. Kristianto Widiwardono, diterima oleh Direktur Utama PT. FCW, Aam Aminudin. Acara dimulai dengan sambutan dari Kristianto yang menyebutkan rencana kunjungan ini merupakan bagian dari pengembangan SNI untuk mendapatkan masukan dari industri terhadap SNI berdasarkan implementasi SNI yang sudah dilakukan. SNI yang diterapkan di FCW adalah SNI 7369:2012 Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG dan SNI EN 12806:2015 Komponen otomotif untuk penggunaan bahan bakar LPG.

BSN01

Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Sigit, Manager Research and Development (R&D), yang menjelaskan tentang produk FCW. Regulator dan Konverter Kit yang diproduksinya sudah mengantongi Sertifikat TKDN (tingkat komponen dalam negeri) dari Kementerian Perindustrian, bahkan untuk produk Konverter kit, TKDN mencapai 82,64%. Kedua produk tersebut juga sudah mendapatkan Sertifikasi SNI. Produk konverter kit, sudah mendapatkan sertifikat kesesuaian SNI EN 12806:2015 dari Lembaga sertifkasi produk PPMB.

Mengenai manfaat penerapan SNI, Aam menceritakan tentang bagaimana produk regulator yang telah ber-SNI itu dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Bahkan produk Regulatornya sudah diekspor sampai ke Sri Langka. Padahal menurut Aam, Sri Langka sendiri belum mempunyai standar nasional untuk regulator sehingga SNI produk regulator dapat masuk dan menjadi jaminan mutu dan keselamatan bagi pengguna produk di Sri Langka.

Kunjungan dilanjutkan dengan melihat secara langsung proses produksi regulator dan konverter kit dari dekat oleh rombongan BSN yang berjumlah 7 orang. Rombongan melihat dari dekat dan berdiskusi dengan karyawan FCW tentang proses produksi yang dilakukan. Tim BSN melihat langsung bagaimana produksi dibuat dengan seksama, termasuk tes pengujian yang dilakukan untuk menjaga mutu. Pengujian untuk kualitasnya sendiri mengacu kepada apa yang dipersyaratkan dalam SNI seperti uji Ketahanan regulator minimal sebanyak 50 000 kali laju aliran dengan tekanan masuk sebesar 0,7 MPa (100 psi) dengan cara mengisi dan melepaskan udara, selain itu juga dilakukan daya ketahanan pengunci, Pengunci diputar atau buka tutup minimal sebanyak 5 000 kali dengan cara mengunci dan membuka atau menutup pada katup tabung baja LPG.

BSN02

Meskipun SNI EN 1280:2015 dapat diterapkan untuk konverter kit untuk kapal nelayan, PT. FCW memberi masukan agar ke depan dapat disusun SNI yang lebih spesifik untuk kapal nelayan dengan mempertimbangkan kondisi laut, guncangan ombak, unjuk kerja di laut dan kondisi lainnya. Data-data mengenai hal tersebut diharapkan dapat diperoleh dari Laboratorium penguji dan lembaga penelitian dan pengembangan.

Sumber : BSN

Dengan semangat untuk membangun ekonomi kerakyatan, menjadi satu motivasi bagi Amin, 46 tahun, menciptakan dan menerapkan alat konverter kit bahan bakar bensin ke elpiji bagi perahu nelayan di daerahnya. Inovasi ini berasal dari rasa prihatin karena hasil tangkapan ikan nelayan yang kecil, tidak sebanding dengan mahalnya biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk melaut terutama harga BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi yang masih mahal, dan ketersediaan akan adanya BBM. Dari permasalahan yang dihadapinya, Penerima The Most Inspiring Penghargaan Energi 2014 ini, mencoba mencari solusi dengan menciptakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan.

amin esdm
Saat ini Amin bersama produsen Fajar Cipta Wacana (FCW) siap untuk memproduksi konvertir kit untuk nelayan hasil temuannya. Temuan dan produknya ini tidak diragukan lagi, karena tanggal 15 Maret 2016 lalu, konverter kit ini telah mendapatkan Sertifikat Kesesuaian SNI EN 12806:2015 dari Balai Sertifikasi PPMB Kementerian Perdagangan. Bahkan, konverter yang telah ia patenkan di Kementerian Hukum dan HAM inipun meraih sertifikat tingkat komponen dalam negeri sebesar 82,64 persen dari Kementerian Perindustrian.

“Ini sudah dapat SNI. Mengikuti arahan pak Jokowi menggunakan TKDN. Ini konverter kit pertama buatan lokal yang ber-SNI. Konverter kit ini sudah bisa digunakan pada perahu nelayan bermesin satu silinder (5.5 – 14 HP) atau perahu dua silinder,” ujar Amin sambil memperlihatkan salinan Sertifikat Kesesuaian SNI EN 12806:2015 saat kunjungannya ke Badan Litbang ESDM baru-baru ini (18/3).

Pada kesempatan terpisah, Menteri Kelauatan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendukung nelayan kecil menggunakan gas elpiji 3 kilogram (kg) sebagai bahan bakar untuk melaut. Pasalnya, lebih hemat menggunakan gas elpiji 3 kg dibandingkan menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Apalagi, Presiden Joko Widodo telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil. Sehingga, gas elpiji 3 kg dapat digunakan nelayan kecil untuk melaut. Dengan menggunakan gas elpiji 3 kg ini, nelayan dapat melaut hingga jarak 4 mil.

Alat konverter kit buatan Amin tidak hanya terbatas penggunaannya bagi perahu motor nelayan, tetapi juga telah dikembangkan untuk beberapa keperluan, seperti pembangkit listrik mikro untuk penerangan. Kemudian pompa air untuk pertanian, peternakan dan perkebunan. Konverter kit ini juga bisa dipakai sebagai mesin pengolah dan produksi, seperti mesin aerator tambak, mesin pengolah ikan, mesin produksi pakan ikan, mesin perontok padi, serta mesin penggiling daging.

Harnus_03

Pemasangan Konverter Kit Amin Ben Gas di perahu nelayan Lampulo Aceh dalam rangka Peringatan Hari Nusantara 2015. (dok. aminbengas)

Inovasi ini berawal dari keprihatinan Amin karena melihat hasil tangkapan ikan nelayan yang minim, tidak sebanding dengan mahalnya biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk melaut terutama harga BBM bersubsidi. Di saat yang sama, pasokan BBM kerap tersendat. Para nelayan kecil di tempat tinggalnya begitu sulit mendapatkan pasokan BBM lantaran faktor alam yang mempengaruhi distribusi BBM. Angin kencang dan ombak besar pada November hingga Januari, sering menjadi kendala utama distribusi BBM dari kapal tanker yang akan berlabuh melewati Sungai Kapuas, sehingga distribusi BBM pun tidak bisa masuk ke wilayah Kubu Raya. Kelangkaan BBM juga terjadi pada musim kemarau. Kapal tanker pengangkut BBM tidak dapat masuk ke muara Sungai Kapuas, yang membelah Kabupaten Kubu Raya, karena sungai menjadi kering dan dangkal. Padahal sungai menjadi satu-satunya bagi distribusi BBM ke daerah pedalaman. Akibatnya, pasokan BBM menjadi seret.

Dimulai sejak pertengahan 2010, Amin mulai menginisiasi inovasi pemanfaatan bahan bakar alternatif, dengan mencari bahan bakar yang sudah familiar dengan masyarakat, yakni liquid petroleum gas (LPG) atau biasa dikenal dengan nama elpiji. Alat yang diciptakan Amin sejalan dengan upaya pemerintah menurunkan konsumsi BBM bersubsidi, dan paket kebijakan ekonomi Pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini. Jumlah nelayan Indonesia saat ini sekitar 2,7 juta jiwa. Sebanyak 80% dari jumlah itu adalah nelayan kecil dan tradisional, yang jangkauan mata pencaharian kurang dari 2 mil. Nelayan kecil ini sangat menggantungkan hidup dari hasil laut. Dengan menerapkan teknologi tepat guna, bisa dipastikan lebih dari 2 juta nelayan Indonesia akan terbantu. Sebab, 70% biaya operasional nelayan dihabiskan untuk pengadaan bahan bakar. Apabila semakin hari harga BBM terus naik, tentu akan memberatkan nelayan untuk melaut.

Dengan peralatan bengkel seadanya, Amin mulai mencoba memodifikasi peralatan. Usaha memodifikasi peralatan ini dimulai pada 2012. Dengan kreativitas dan imajinasinya, pria berperawakan kurus ini memodifikasi mesin kapal nelayan yang semula menggunakan bahan bakar bensin (premium) menjadi menggunakan gas elpiji ukuran tabung 3 kg. Banyak produk yang mirip dengan inovasi Amin, tetapi yang membedakan adalah produk ini tidak sepenuhnya mengubah bahan bakar. Mesin kapal itu masih bisa menggunakan premium walaupun sudah diberi konverter kit. Mesin yang dikembangkan ini bisa menggunakan bensin dan gas (engine dual fuel). Hasilnya, nelayan lebih efisien menggunakan bahan bakar. Perbandingan efisiensi, pemakaian satu tabung elpiji 3 kg setara pemakaian BBM 20 kg.

Amin memberikan nama bagi konverter kit yang telah dipatenkan ini dengan sebutan ABG, kependekan dari Amin Ben-Gas. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu unit konverter kit ini sekitar Rp 4,5 juta, jauh lebih murah dibandingkan produk dari luar negeri. Hal lain yang membanggakan dari produk buatan Amin adalah konverter ini merupakan yang pertama di Indonesia yang dipakai di perahu motor berbahan bakar elpiji.

“Alat ini sebenarnya sarana. Yang saya tawarkan adalah konsep, yakni membangun kemasyarakatan untuk menuju ekonomi kerakyatan. Mungkin yang lain-lain masih sebatas wacana, tapi kami di daerah sudah pakai langsung, sudah kerja,” ungkap Amin.

Sumber : Penghargaan Energi ESDM