Monthly Archives: December 2015

Pendidikan standardisasi di Perguruan Tinggi setidaknya mengajarkan 3 (tiga) pilar infrastruktur mutu, yaitu metrologi, standardisasi dan penilaian kesesuaian. Disisi lain pengajaran standardisasi sering dianggap membosankan apalagi jika hanya kuliah dan teori di depan kelas. Maka dari itu, perlu peningkatan kuantitas dan kualitasnya termasuk metode pengajaran agar pendidikan standardisasi semakin menarik dan diminati.

 

01

Aam Aminudin, Direktur PT. Fajar Cipta Wacana (FCW) berfoto bersama dosen serta mahasiswa standardisasi Universitas Trisakti dan Universitas Nasional setelah melakukan kunjungan ke pabrik konverter Kit Amin Ben Gas di Cikupa, Tangerang Banten. (17/12/15 – Dok. BSN)

 

Salah satu caranya adalah kunjungan ke industri penerap SNI dan laboratorium pengujian untuk melihat secara langsung dan nyata mengenai hubungan antara  3 (tiga) pilar infrastruktur mutu. Kunjungan menjadi semakin menarik karena mengambil tema “Inovasi dan Standar”. Tema ini dilatarbelakangi oleh hasil “inovasi akar rumput” inovasi teknologi sederhana tapi sangat aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama nelayan.

Inovasi berupa Konverter Kit dari BBM ke BBG (LPG 3 Kg) dan sebaliknya yang digunakan oleh Perahu Nelayan. Konverter Kit dengan nama paten ABG (Amin Ben Gas) dibuat oleh seorang nelayan, Amin, di Kubu Raya, Pontianak. Pengembangannya dimulai sejak tahun 2009 dan saat ini sudah melahirkan Konverter Kit generasi sembilan. ABG sudah terdaftar paten, baik untuk merek dagang (tahun 2012) maupun teknologi Konverter kit (2015). ABG juga telah mendapat sertifikasi TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) sebesar 82,64%.

Inovasi tersebut berangkat dari masalah kelangkaan BBM yang sering terjadi di pedalaman Kalimantan dan kondisi tersebut diperparah dengan penyelundupan solar bersubsidi bagi nelayan. Penyelundupan yang sering ditemui, yaitu bukannya digunakan untuk melaut malah dijual ke nelayan asing. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penyebab mengapa negara yang kekayaan lautnya sangat berlimpah ini masih miskin dan salah satu yang diidentikan dengan rantai dan belenggu kemiskinan adalah para nelayan, terutama nelayan kecil, 98% nelayan di Indonesia adalah nelayan kecil yang melaut dengan perahu di bawah 5 gross ton (GT) dan melaut hanya sehari, pagi melaut sore pulang.

Hasil inovasi ini telah diteliti tahun 2012 oleh tim dari ITB, dipimpin oleh Dosen Standardisasi, yaitu Prof. Dr. Dradjad Irianto dari program studi Teknik Industri. Salah satu hasil risetnya adalah ABG mampu menghemat pengeluaran nelayan untuk melaut sebesar Rp. 724.000 perbulan. Riset lanjutan pun dilakukan pada tahun 2014 oleh seorang mahasiswa standardisasi ITB, riset yang juga menjadi tugas akhir ini, fokus pada penyusunan standard (RSNI) dan desain industri dari Konverter kit ABG.

02

Dosen dan Mahasiswa Standardisasi Universitas Trisakti dan Universitas Nasional diterima secara langsung oleh Kepala Seksi Teknologi Pengujian, Sik Sumaedi dan Peneliti Pengujian Konversi Energi Puslit SMTP LIPI, Hari Tjahjono, di Puslit SMTP LIPI Puspitek Serpong. (17/12/15 – Dok. BSN)

Kajian lanjutan pun dilakukan, kerja sama antara ITB, BSN, dan Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (SMTP) LIPI pada Agustus s.d. November 2015. Kajian fokus pada pengembangan standar (SNI) yang sesuai kebutuhan dan Metode Pengujian Konverter Kit. Hasilnya adalah penetapan SNI EN 12806:2015 dan Metode Pengujian Konverter Kit yang sudah bisa diterapkan 100%.

Kali ini 16 orang mahasiswa standardisasi didampingi 4 dosen dari Universitas Trisakti dan Universitas Nasional dari program studi Teknik Mesin (konversi energi), Teknik Fisika, dan Teknik Industri melakukan kunjungan ke Pabrik Konverter Kit, yaitu PT. Fajar Cipta Wacana di Cikupa dan ke Laboratorium Konversi Energi di Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI di Puspitek Serpong.

Di PT FCW, yang sudah menerapkan SNI ISO 9001:2008, mahasiswa dan dosen diterima oleh Direktur, Aam Aminudin dan berkesempatan melihat langsung proses produksi Konverter kit. Di Puslit SMTP rombongan diterima oleh Kepala Seksi Teknologi Pengujian, Sik Sumaedi bersama pakar pengujian konversi energi, Hari Tjahjono. Rombongan berkesempatan melihat proses pengujian Konverter kit perahu nelayan yang terdiri dari 12 parameter uji, yaitu uji tekanan, uji kebocoran, uji lock-up, uji ketahanan jatuh, uji ketahanan kunci putar, uji endurance, uji getar, uji temperature dan karat, uji variasi suhu dan tekanan, uji ketahanan komponen bahan karet, uji sistem, serta uji asupan panas.

03

Dosen dan Mahasiswa Standardisasi Universitas Trisakti dan Universitas Nasional melihat secara langsung proses produksi konverter kit Amin Ben Gas di PT. Fajar Cipta Wacana (FCW) didampingi oleh Direktur PT. FCW, Aam Aminudin. (17/12/15 – Dok. BSN)

Program Konversi Energi bagi Nelayan pun menjadi prioritas dalam paket tahap 1 kebijakan ekonomi pemerintah. Untuk itu, Presiden RI Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden RI No. 126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga Liquified Petroleum Gas (LPG) untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil. SNI pun disebut, yaitu dalam pasal 5 ayat 1, paket perdana sebagaimana dimaksud pada pasal 4 ayat (1) wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).         

Pada akhirnya, selain untuk meningkatkan daya tarik pendidikan standardisasi dan minat akadmisi untuk belajar dan mengajarkan standardisasi, kunjungan ini juga diharapkan memberikan gambaran nyata peran standar terhadap inovasi. Lebih dari itu, diharapkan SNI berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama nelayan.

Jalesveva Jayamahe (Di Lautan Kita kan Berjaya)

 

Sumber : BSN

Pemerintah dalam kurun waktu empat bulan terakhir telah mengeluarkan tujuh paket stimulus guna menggenjot beberapa sektor, agar mampu memberikan kontribusi lebih terhadap pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Beberapa insentif yang diberikan pemerintah dalam ketujuh paket tersebut, memang hanya bersifat jangka panjang. Lalu, adakah kebijakan pemerintah yang akan langsung terasa dalam waktu dekat?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Kamis malam, 17 Desember 2015 menjelaskan, salah satu kebijakan yang akan segera terealisasikan adalah program konverter kit elpiji untuk nelayan, yang terangkum dalam paket jilid I. Insentif ini akan mulai berjalan pada semester pertama tahun depan.

Harnus_04

Sosialisasi penggunaan Konverter Kit Amin Ben Gas kepada nelayan serta pemasangannya di Pelabuhan Perikanan Lampulo, Desa Lampulo, Kuta Alam Banda Aceh dalam rangka mendorong konversi BBM ke BBG. (Banda Aceh, 12/12/15 – Amin Ben Gas)

“Konverter pakai elpiji untuk nelayan itu mulai berjalan tahun depan. Tidak akan lagi pakai solar, pakai elpiji. Biaya energi yang dipakai akan sangat signifikan. Jangan tanya hari ini,” ujar Darmin dalam Forum Diskusi Paket Kebijakan Ekonomi dan Perkembangan Ekonomi Terakhir di Tanggerang, Banten.

Selain konverter elpiji, Darmin mengungkapkan, ada dampak positif dari peluncuran paket-paket deregulasi tersebut. Paling utama, kata dia, adalah timbulnya kepercayaan para pelaku pasar terhadap kinerja yang dilakukan pemerintah. Hal ini akhirnya memberikan pengaruh terhadap kurs nilai tukar yang sempat anjlok.

“Kami buat dua paket deregulasi dianggap begitu saja. Tapi waktu kami urus setiap minggu, kelihatan sekali market mulai percaya. kalau dilihat, kurs yang tadinya bergerak sampai Rp14.800, perlahan-lahan ke arah Rp13.500 bahkan,” kata dia.

Meski demikian, mantan Gubernur Bank Indonesia ini mengakui bahwa sebagian dari insentif yang dikeluarkan pemerintah dalam paket tersebut memang bersifat jangka panjang. Sehingga, dampaknya tidak akan terlalu terasa dalam beberapa bulan kedepan.

 

Sumber : viva.co.id

Amin, nelayan Kubu Raya inovator konversi mesin berbahan bakar minyak ke gas menghibahkan 10 konverter kit buatannya kepada nelayan Aceh. Dia menyerahkan hibah tersebut pada puncak Hari Nusantara 2015 di Banda Aceh, 13 Desember lalu. Pada saat yang sama Amin menerima penghargaan “Inovator Teknologi Bidang Kelutan” atas karyanya tersebut. Penghargaan itu diserahkan oleh Menteri Riset dan Tekonologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Tidak tanggung-tanggung Amin menyingkirkan 25 nomine, bahkan juara dua dan tiga adalah BUMN PT PAL serta IPB.

Amin mengatakan hibah yang diberikan kepada nelayan Aceh agar inovasinya dirasakan oleh mereka yang senasib. Amin paham betul bagaimana kesulitan nelayan ketika uang yang dikeluarkan untuk operasional begitu tinggi lantaran harga BBM tinggi. “Kami ingin berbagi manfaat kepada sesama nelayan,” ucapnya, kemarin. Sebelumnya, konverter kit Amin BenGas digunakan oleh nelayan Manado, Sulawesi Utara. Bulan lalu Amin dan tim memasang dan melihat langsung 120 nelayan menikmati hematnya bahan bakar ketika menggunakan konverter kit BenGas.

Konverter kit Amin BenGas dapat menghemat 700 persen dana operasional nelayan. Satu tabung gas dengan konverter kit Amin BenGas setara dengan penggunaan 15 hingga 20 liter bensin. Selain hemat, menggunakan bahan bakar gas juga ramah lingkungan.

Di Kalbar, konverter kit Amin BenGas digunakan dibanyak daerah. Saat ini, tim Amin memasang produk inovasinya itu untuk nelayan di Selimbau, Kapuas Hulu. “Tim saya saat ini masih di Selimbau,” katanya.

Konverter kit Amin BenGas untuk nelayan Selimbau adalah bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kalbar. Bantuan itu meliputi perahu 2 gross tonnage, mesin 14 horse power, konverter kit, dan tabung elpiji 3 kilogram dua buah untuk masing-masing perahu. “Semakin banyak nelayan yang menggunakan konverter kit ini kian banyak pula yang berhemat. Biaya operasional mereka terpangkas,” ucap Amin.

Di Kalbar, konverter kit Amin BenGas sudah digunakan untuk nelayan Kubu Raya, Pontianak, Mempawah, Kapuas Hulu, dan Bengkayang. Selain untuk mesin perahu nelayan, konverter kit Amin BenGas juga dapat digunakan untuk mesin pakan ikan, pompa air, genset, mesin pemarut kelapa, dan lainnya. “Intinya mesin dengan penggerak bahan bakar bensin bisa dialihkan ke gas dengan konverter kit ini,” jelasnya.

 

Sumber : PontianakPost