Monthly Archives: November 2015

Para nelayan kecil di Tanah Air boleh bersyukur, termasuk para penangkap ikan tradisional di Sulawesi Utara, yang sangat terbantu oleh Amin Ben Gas, pencipta converter gas untuk mengatasi problem bahan bakar perahunya.

Pekan lalu, Pemprov Sulut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)-nya, membagikan peralatan konverter kit bahan bakar gas (BBG) elpiji sebagai pengganti solar maupun bensin untuk perahu mereka. Perahu dengan gas elpiji bersubsidi si melon yang murah dan hemat itu, akan meringankan beban para nelayan.

Amin pun bertolak ke Sulut selain menyaksikan penyerahan converter kit juga menjelaskan penggunaan dan manfaat Elpiji untuk bahan bakar mesin perahu nelayan.

Manado_18

Kelompok Nelayan Desa Matani Satu, Kec. Tumpaan Kab. Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, bangga bisa menggunakan Konverter Kit Amin Ben Gas. (18/11/2015 – Amin Ben Gas)

“Lahirnya konverter kit ini berasal dari keluhan dan permasalahan para nelayan akan sulitnya mendapatkan BBM. Ini aman dan sangat layak digunakan, karena sudah memiliki keamanan yang berlapis, sehingga kemungkinan terjadi kebocoran sangat kecil,” tutur Amin, inovator Konverter Kit Ben Gas di Pontianak, Jumat (27/11).

Karena itulah Pemprov Sulut memanfaatkan karya Amin. Konverter Kit Amin Ben Gas melalui instansi Penangkapan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P3H) Perikanan DKP Provinsi Sulut.

Pembagian Konverter Kit Amin Ben Gas dibagikan kepada nelayan di Pantai Malalayang, Pantai Mega Mas, Pesisir Tuminting di Kota Manado. Bahkan juga untuk kelompok nelayan di Desa Matani Satu, Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan serta Kelompok Nelayan di Wilayah Desa Tadoy, Kec. Bolaang Timur Kabupaten Bolaang Mongondow.

“Sebenarnya nelayan Indonesia itu pintar, tapi kesempatan belum ada. Adanya konverter Amin Ben Gas ini bisa mengangkat taraf hidup dan kesejahteraan nelayan dengan kemudahan dan penghematan,” kata Amin.

Kata Amin, susahnya mendapatkan BBM membuat ruang gerak nelayan menjadi terbatas. Ketika diubah menjadi bahan bakar gas Elpiji, diharapkan bisa membantu dan meningkatkan penghasilan nelayan tanpa bergantung lagi pada BBM.

“Dengan Konverter Kit Amin Ben Gas, semoga dapat menciptakan lapangan kerja baru dengan saling berbagi pengalaman kepada nelayan lainnya, yang belum memakai Konverter Kit,” harap Amin yang sudah mempatenkan konverternya bernomor S 00210300051 dari Kementerian Hukum dan HAM, 15 Maret 2013.

Disamping efesien, Amin menceritakan kalau temuannya ini sudah digunakan nelayan Kalbar. Ia berharap dapat dirasakan masyarakat pesisir yang menghadapi kesulitan BBM.

Sekarang ini harga solar bersubsidi walaupun sudah diturunkan masih Rp6.700 dan premium Rp7.300 per liter. Itu jauh lebih mahal dari Elpiji bersubsidi tabung melon 3 kg yang Rp5.500 per kg atau Rp16.500 per tabung. Sehingga, para nelayan di Kalbar yang sudah menggunakan gas menjadi lebih ringan biaya bahan bakarnya.

“Saya buktikan, tenaga teknis yang dibawa ke sini adalah nelayan Kalbar yang sudah memakai konverter kit sejak dari generasi ke-1 sampai ke-9 sekarang”, jelasnya Amin, pria kelahiran 24 Februari 1970 itu.

Hasil temuannya itu juga sudah melalui progam uji kompetensi di beberapa universitas ternama di Indonesai. Sayangnya, belum dirasakan merata oleh nelayan lantaran kurangnya dukungan pemerintah untuk memfasilitasinya.

Konverter kit buatan Amin, 45, sehingga namanya kini dijuluki Amin Ben Gas, itu juga sudah diakui sejumlah pihak. Bahkan sudah mengantongi sertifikat ISO 9001:2008 134 dengan pengujinya antara lain Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (Puslit SMTP) LIPI, serta Teknologi Industri (ITB) yang selalu mengikuti perkembangan konverter kit Amin Ben Gas.

Tak hanya itu, Amin juga meraih penghargaan bergengsi berupa The Most Inspiring melalui Indonesia Green Award (IGA) 2014.  Sayangnya, pemerintah sendiri kurang menghargai karya anak bangsa dan lebih melirik buatan luar negeri.

“Tapi yang penting kita bisa membantu masyarakat, tak hanya nelayan tapi juga angkutan sungai di Kalbar, terutama di Kubu Raya yang masih banyak menggunakan sarana transportasi air,” kata Amin.

 

Sumber : equator

 

Alat konversi mesin tenaga bensin menjadi elpiji, konverter kit hasil inovasi Amin digunakan di Sulawesi Utara. Pemerintah provinsi itu memesan dan meminta Amin memasang pada 120 mesin perahu nelayan. “Pemasangannya baru selesai pada 21 November lalu,” kata Amin Ben Gas, Jumat (27/11).

Amin Ben Gas adalah nelayan Kubu Raya yang menginovasi konverter kit. Alat ini mengonversi mesin berbahan bakar bensin menjadi elpiji. Biaya operasional nelayan jauh berkurang karena konverter kit ini. Perbandingannya 10-15 liter bensin sama dengan tiga kilogram gas. Jika dengan bensin seharga eceran Rp9.000 dikali 10 liter, berarti nelayan mengeluarkan uang Rp90 ribu. Menggunakan konverter kit Amin Ben Gas biaya itu terpangkas Rp70 ribu lantaran satu tabung gas 3 kilogram harganya hanya Rp18-Rp20 ribu.

Amin merasa bangga inovasinya dapat digunakan oleh banyak nelayan, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup mereka. “Ada kepuasan tersendiri ketika nelayan merasakan manfaat konverter kit ini,” ucapnya.Ada tiga kabupaten/kota memesan konverter kit Amin Ben Gas untuk nelayannya. Yakni Kota Manado, Kabupaten Minahasa Selatan, dan Kabupaten Bolaang Mongondow.

Manado_07

Amin Ben Gas menunjukkan Certificate of Testing Konverter Kit Amin Ben Gas dari Pusat Penelitian Standar Mutu dan Teknologi Pengujian (Puslit SMTP) LIPI di sela-sela pemasangan Konverter Kit Amin Ben Gas di Kelurahan Malalayang Satu, Kec. Malalayang, Kota Manado Sulawesi Utara. (16/11/2015 – Amin Ben Gas)

Konverter kit Amin Ben Gas telah melewati beberapa kali pengujian di Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (Puslit SMTP) LIPI. Hasilnya, konverter kit Amin Ben Gas secara teknis layak dan bisa digunakan. Hal ini juga di dukung dengan telah dikeluarkannya Certificate of Testing dari Puslit SMTP LIPI bekerja sama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Amin mengatakan ketika di Sulawesi Utara banyak nelayan yang meminta konverter kit buatannya kepada pemprov setempat. Mereka melihat langsung nelayang lain yang menggunakan konverter kit Amin Ben Gas dapat berhemat. “Jika Pemprov Sulawesi Utara memesan lagi kami siap buatkan,” tuturnya.Menurut Amin konverte kit tersebut merupakan hasil dari kearifan lokal. Karena lahirnya konverter kit ini berasal dari keluhan dan permasalahan para nelayan akan sulitnya mendapatkan BBM. Secara teknis Amin mengakui, konverter kitnya sangat aman dan layak digunakan karena sudah memiliki keamanan yang berlapis. Baik di konverternya maupun di regulatornya sudah dipasang pengaman, sehingga kemungkinan terjadi kebocoran sangat kecil. “Konverter kit yang sekarang adalah generasi kesembilan. Dari generasi kegenerasi kami selalu melakukan perbaikan dan penyempurnaan.”

Konverter kit Amin Ben Gas dapat mengangkat taraf hidup dan kesejahteraan nelayan. Menurut Amin, nelayan Indonesia itu pintar, tapi kesempatan belum ada. Dia berharap dengan konverter kit ini dapat menciptakan lapangan kerja baru dengan saling berbagi pengalaman kepada nelayan lainnya. “Saya buktikan, tenaga teknis yang dibawa ke Sulawesi Utara adalah nelayan Kalbar yang sudah memakai konverter kit sejak dari generasi pertama,” paparnya.Konverter kit Amin Ben Gas telah mengantongi sertifikat ISO 9001:2008 134. Tahun ini Amin berharap inovasinya ini dapat mengantongi SNI. “Kemungkinan akhir tahun ini SNI-nya keluar,” harapnya.

 

Sumber : Pontianak Post

 

Nelayan sudah dapat menikmati Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau Elpiji 3 kilogram (kg) sebagai bahan bakarnya untuk melaut mencari ikan. Hal ini dikarenakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tanggal 2 November 2015 menetapkan Peraturan Presiden Nomor 126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga Liquefied Petroleum Gas Untuk Kapal Perikanan Bagi Nelayan Kecil.

Seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (24/10/2015), penggunaan Elpiji ini juga dalam rangka menjamin ketahanan energi nasional serta untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil.

Sasaran penyediaan dan pendistribusian Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil adalah kapal perikanan bagi nelayan kecil yang menggunakan mesin motor tempel dan atau mesin dalam yang beroperasi harian.

Penyediaan dan pendistribusian LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil dilaksanakan secara bertahap pada daerah tertentu dalam wilayah NKRI. Penerapan daerah tertentu ini dilakukan oleh Menteri ESDM setelah mendapatkan pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan.

Manado_14

Nelayan pesisir Pantai Mega Mas Kota Manado sedang memasang konverter kit Amin Ben Gas pada mesin perahunya. Penggunaan LPG 3kg dengan Konverter Kit Amin Ben Gas lebih menghemat pengeluaran para nelayan dan menjadi solusi langkanya BBM untuk kebutuhan melaut. (18/11 – Amin Ben Gas)

Pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil, diawali dengan pemberian paket perdana secara gratis oleh Pemerintah berupa mesin kapal, konverter kit serta pemasangannya dan tabung khusus LPG beserta isinya. Pemberian gratis ini hanya berlaku satu kali dan dilaksanakan oleh BUMN berdasarkan penugasan dari Menteri ESDM.

Dinyatakan pula, paket perdana ini wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Dalam hal SNI belum tersedia, dapat menggunakan standar atau spesifikasi teknis yang disetujui oleh Menteri ESDM setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

Presiden menetapkan bahwa Menteri ESDM bertugas menetapkan ketersediaan, alokasi serta standar dan mutu (spesifikasi) LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil dengan mempertimbangkan kebutuhan penggunaan LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil.

Menteri ESDM juga menetapkan perencanaan volume kebutuhan tahunan LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan.

Selain itu, Menteri menetapkan Harga Patokan, Harga Indeks Pasar dan Harga Jual Eceran LPG untuk kapal perikanan untuk nelayan kecil. Dalam menetapkan harga patokan LPG, dilakukan setelah mendapatkan pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.

Pemerintah memberikan subsidi per kilogram untuk LPG bagi nelayan kecil ini, yang merupakan pengeluaran negara yang dihitung dari selisih kurang antara Harga Jual Eceran LPG per kilogram setelah dikurangi Pajak Pertambahan Nilai dan margin agen dengan Harga Patokan LPG. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan anggaran, penghitungan, pembayaran dan pertanggujawaban subsidi LPG ini, diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara.

Terkait penyediaan dan pendistribusian LPG, Presiden menyatakan bahwa hal itu dilaksanakan oleh BUMN berdasarkan penugasan dari Menteri ESDM. Selain penugasan, Menteri juga dapat melakukan penunjukan langsung kepada badan usaha untuk melakukan penyediaan dan pendistribusian LPG.

Badan usaha itu, wajib memiliki dan atau menguasai sarana dan fasilitas pengolahan, penyimpanan dan distribusi LPG di dalam negeri dan jaminan ketersediaan LPG.

BUMN dan badan usaha tersebut wajib memiliki Izin Usaha Niaga LPG dan memenuhi persyaratan penugasan atau penunjukan langsung dari Menteri ESDM serta bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian LPG.

Pada saat Perpres ini mulai berlaku, maka penyediaan dan pendistribusian LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil, dilaksanakan dengan tabung baja LPG 3 kg untuk rumah tangga dan usaha mikro, sampai dengan tersedianya tabung khusus LPG.

Penggunaan tabung ini dapat dilakukan paling lama sampai dengan 31 Desember 2018.

Ditetapkan pula bahwa pada saat aturan ini mulai berlaku, penyediaan dan pendistribusian LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil sampai dengan tanggal 31 Desember 2015, dilakukan dengan ketentuan:

1. Pengadaan isi ulang LPG untuk kapal perikanan untuk nelayan kecil dilaksanakan dengan menggunakan alokasi LPG tabung 3 kg untuk rumah tangga dan usaha mikro pada tahun 2015.

2. Penetapan dan penghitungan Harga Patokan LPG, Harga Indeks Pasar LPG dan Harga Jual Eceran LPG untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil, mengikuti mekanisme penetapan dan penghitungan untuk LPG tabung 3 kg.

 

Sumber : bumn.go.id

Dengan pertimbangan untuk menjamin ketahanan energi nasional serta untuk meningkatkan kesejahteraan nelayanan kecil, pemerintah memandang perlu adanya kebijakan diversifikasi energi berupa penyediaan dan pendistribusian Liqiuefied Petroleum Gas (LPG) untuk kapal perikanan bagi nelayan kecil. Atas dasar pertimbangan tersebut, Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 November 2015 telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil.

Manado_17

Kelompok Nelayan Desa Matani Satu Kec. Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan sangat Antusias menerima bantuan Konverter Kit Amin Ben Gas dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Utara. Program bantuan ini diharapkan bisa membantu nelayan dari kesulitan mendapatkan BBM. (18/11 – Amin Ben Gas)

Dalam Perpres itu disebutkan, sasaran penyediaan dan pendistribusian LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil ditujukan untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil yang menggunakan mesin motor temple dan/atau mesin dalam yang beroperasi harian.

Menurut Perpres ini, penyediaan dan pendistribusian LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil dilaksanakan secara bertahap pada daerah tertentu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Penetapan daerah tertentu ditetapkan oleh Menteri (ESDM, red) yang mendapatkan pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan,” bunyi Pasal 3 ayat (2) Pepres tersebut.

Pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil ini diawali dengan pemberian paket perdana secara gratis oleh pemerintah berupa: a. mesin kapal; b. Konverter Kit serta pemasangan; dan c. Tabung khusus LPG beserta isinya.

“Pemberian secara gratis sebagaimana dimaksud hanya diberikan 1 (satu) kali, dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berdasarkan penugasan Menteri,” bunyi Pasal  4 ayat (2,3) Perpres Nomor 126 Tahun 2015 itu.

Ditegaskan juga dalam Perpes ini, bahwa Paket Perdana sebagaimana dimaksud wajib memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI), dan dalam hal SNI belum tersedia, dapat menggunakan standar atau spesifikasi teknis yang disetujui oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian.

Perpres ini juga menyebutkan, Menteri menetapkan ketersediaan, alokasi, serta standard an mutu (spesifikasi) LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil dengan mempertimbangkan kebutuhan penggunaan LPG  untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil.

Menurut Perpres Nomor 126 Tahun 2015 ini, Menteri menetapkan: a. perencanaan, volume kebutuhan tahunan LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan; san b. Harga Patokan, Harga Indeks Pasar, dan Harga Jual Eceran LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil.

“Menteri menetapkan Harga Patokan LPG setelah mendapatkan pertimbangan dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan negara,” bunyi Pasal 7 ayat (2) Perpres tersebut.

LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayanan Kecil, menurut Perpres ini, diberikan subsidi per kilogram yang merupakan pengeluaran negara yang dihitung dari selisih kurang antara Harga Jual Eceran LPG per kilogram setelah dikurangi Pajak Pertambahan Nilai dan margin agen dengan Harga Patokan LPG.

Distribusi

Perpres ini menegaskan, bahwa penyediaan dan pendistribusian LPG dilaksanakan oleh BUMN berdasarkan penugasan dari Menteri (ESDM, red).  Selain penugasan sebagaimana dimaksud, Menteri dapat melakukan penunjukan langsung kepada Badan Usaha untuk melakukan penyediaan dan pendistribusian LPG.

Badan Usaha sebagaimana dimaksud wajib memenuhi memenuhi ketentuan: a. memiliki dan/atau menguasai sarana dan fasilitas pengolahan, penyimpanan, dan distribusi LPG di dalam negeri; dan b. jaminan ketersediaan LPG.

“BUMN dan Badan Usaha sebagaimana dimaksud wajib memiliki Izin Usaha Niaga dan memenuhi persyaratan penugasan atau penunjukan langsung oleh Menteri,” bunyi Pasal 11 Perpres No. 126 Tahun 2015 itu.

Sampai dengan tersedianya Tabung Khusus LPG bagi Kapal Perikanan untuk Nelayan Kecil, maka penyediaan dan pendistribusian LPG sebagaimana dimaksud dilaksanakan dengan tabung baja LPG 3 Kilogram untuk rumah tangga dan usaha mikro.

Penggunaan tabung baja LPG 3 Kilogram untuk rumah tangga dan usaha mikro sebagaimana dimaksud, menurut Perpres ini, dapat dilakukan paling lama sampai dengan tanggal 31 Desember 2018.

Adapun penetapan dan penghitungan Harga Patokan LPG, Harga Indeks Pasar LPG, dan Harga Jual Eceran LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil itu mengikuti mekanisme penetapan dan penghitungan Harga Patokan LPG, Harga Indeks Pasar LPG, dan Harga Jual Eceran LPG Tabung 3 kilogram untuk rumah tangga dan usaha mikro pada tahun 2015.

“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Peraturan Presiden Nomor 126 Tahun 2015 yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada tanggal 9 November 2015 itu.

 

Sumber : setkab.go.id

Sejumlah nelayan di Kota Manado, Sulawesi Utara, mendapatkan bantuan “konverter kit”, alat bantu bagi nelayan dalam operasional penangkapan ikan.

Kepala Bidang Penangkapan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P3H) Perikanan Dinas Keluatan Perikanan Sulawesi Utara, Ir. Tienneke Adam, M.Si mengatakan pemberian peralatan ini dalam menunjang program pemerintah pengalihan dari BBM ke gas.

“Selama ini banyak keluhan dari nelayan kecil untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM), pemberian konverter ini salah satu mengatasi permasalahan ini,” kata Tienneke saat penyerahan konverter kepada para nelayan di Kampung Nelayan Malalayang Manado, Senin.

Tienneke mengatakan, dengan menggunakan alat konverter tersebut akan memberikan nilai tambah bagi nelayan dibandingkan dengan menggunakan BBM.

Manado_09

Ir. Tienneke Adam, M.Si, Kabid. P3H Perikanan DKP Prov. Sulawesi Utara memberikan keterangan kepada media saat pembagian Konverter Kit Amin Ben Gas di Desa Malalayang Satu Timur, Kec. Malalayang, Kota Manado. (16/11 – Amin Ben Gas)

“Pemberian konverter ini baru dilakukan tahun ini, dan masyarakat nelayan begitu antusias mendapatkan bantuan ini,” katanya.

Dia menambahkan, untuk saat ini terdapat sekitar 20 konverter kit yang diserahkan kepada masyarakat nelayan di Malalayang, Manado.

Amin, sang inovator konverter kit, mengatakan melalui perlatan ini akan memeberikan penghematan bagi nelayan dalam operasional menangkap ikan.

Dengan menggunakan gas elpji tiga kilogram digandeng koverter kit, sebanding dengan menggunakan sekitar 10-15 liter BBM.

Melalui penggunaan alat tersebut selain terjadi penghematan, juga para nelayan dapat mencari ikan lebih jauh dan mendapatkan hasil penangkapan lebih besar.

“Ini akan berdampak positif bagi kehidupan nelayan,” katanya.

Hari Tjajono ST, MM, peneliti dari Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (Puslit SMTP)  LIPI mengatakan, telah nmelakukan tes dan kajian, memenuhi syarat penyusunan spek teknisnya.

“Secara teknis koverter kit ini layak digunakan,” katanya.

Adanya peralatan koverter kit tersebut, nelayan dalam melaut atau menjalankan mesin perahu dengan menggunakan bahan bakar gas atau gas elpiji tiga kilogram.

 

Sumber : Antaranews Manado

 

Kabar gembira bagi nelayan di Sulawesi Utara (Sulut). Pasalnya Menteri ESDM melalui DKP Sulut memberikan bantuan gratis berupa Konverter Kit Amin Ben Gas.

Manado_15

Nelayan dibantu teknisi Amin Ben Gas, sedang memasangkan Konverter Kit Amin Ben Gas di mesin Perahunya di Wilayah Pesisir Mega Mas. Nelayan juga diberikan penjelaskan tata cara pemakaian Konverter Kit Amin Ben Gas tersebut. (17/11 – Amin Ben Gas)

Konverter Kit Amin Ben Gas adalah alat untuk mengubah sistem bahan bakar mesin yang sebelumnya hanya menggunakan bensin sehingga bisa dikonversikan menjadi Berbahan Bakar Gas (BBG).

Director PT Fajar Cipta Wacana Aam Aminudin mengatakan, khusus untuk Sulut disiapkan 120 paket Konverter kit Amin Ben Gas untuk nelayan.

Selang empat hari ini (14-17 November 2015), sudah disalurkan 40 paket di ditiga tempat di Manado. Terbagi, 19 di Kelompok Nelayan Los, 11 di Antra, dan 10 di Nelayan Firdaus.

Khusus untuk kabupaten/kota lainnya di Sulut yang belum kebagian, rencananya pekan ini segera disalurkan secara bertahap. Jika masih kurang, tak perlu khawatir, sebab lima tahun ke depan telah disiapkan 550.000 paket, untuk para nelayan di seluruh nusantara.

“Untuk para nelayan di Manado atau Sulut pada umumnya yang belum kebagian, tak perlu khawatir sebab kemungkinan besar tahun depan pasti mendapat jatah lagi,” kata Aam di sela-sela penyaluran Konverter Kit Amin Ben Gas pada nelayan Firdaus, di Kawasan Megamas, Manado, Selasa, (17/11/2015) sore.

“Masalah stok, tak perlu ragu. Perusahaan asli Indonesia yang sudah ada sejak 2010 dan sudah dipatenkan pada 12 Maret 2012 ini  mampu memproduksi 2.000 per hari,” jelas Aam.

Di tempat yang sama, penanggung jawab penyaluran dari DKP Sulut Rivo mengatakan, sangat berterima kasih atas perhatian pemerintah pusat pada para nelayan di Sulut.

“Bantuan ini kami akan salurkan tepat sasaran. Terima kasih juga pada Pak Amin yang menciptakan inovasia luar biasa ini”, tukas Rivo.

Sementara, Ali, teknisi Konverter Kit Amin Ben Gas  mengatakan, alat ini lebih praktis dan sangat irit. Perbandingan 1 liter bensin (Premium) setara dengan 240 gram gas, atau dalam satuan rupiah memberi potensi penghematan 5,11 kali lebih murah.

Selain ramah lingkungan, cekatan untuk melaut pun dijamin bebas hambatan. Karya inovatif Amin ini mampu menjadi engine dual fuel (berbahan bakar bensin dan gas secara bergantian) dengan selisih kinerja yang kecil, kurang dari 5 persen.

“Cara penggunaan alat ini, pertama kosongkan tangki mesin kemudian sambungkan ke saringan udara/filter mesin. Jadi saat gas habis, bisa mempergunakan persediaan BBM Anda,” jelas Ali.

Ungke salah satu nelayan Firdaus mengaku sangat membantu profesinya sebagai nelayan.

“Jika melaut sedikitnya biaya yang kami keluarkan Rp100.000/hari. Dengan adanya bantuan ini tentunya biaya lebih sedikit dan semoga tanggkapan ikan pun melimpah. Terima kasih atas bantuannya,” ungkap Ungke diaminkan rekan lainnya.

Sekedar diketahui, usai team teknisi melakukan pemasangan Konverter Kit Amin Ben Gas, perahu nelayan diujicoba langsung melaut. Senyum bahagia pun tak mampu disembunyikan oleh para nelayan.

 

Sumber : Manadoaktual.com

Pencipta konverter gas untuk nelayan kecil, Amin mengatakan, konverter gas yang diperuntukkan untuk nelayan kecil di Malalayang, Sulwesi Utara (Sulut) sangat membantu nelayan untuk melaut, lebih menghemat, sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan.

Pasalnya, pria yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat tersebut mengatakan, dengan sumber tenaga dari gas elpiji 3 kilogram (kg), nelayan bisa menghemat pemakaian bahan bakar minyak (BBM) untuk kapal dengan perbandingan 1:10 sekali melaut.

Manado_10

Yeheskiel Makausi, Ketua Kelompok Nelayan Malos 1 Kel. Malalayang Satu Timur, Kec. Malalayang, Kota Manado berfoto bersama Amin Ben Gas setelah melaut menggunakan perahu berkonverter kit Amin Ben Gas dari Pantai Malalayang menuju Laut Sulawesi. (16/11 – Amin Ben Gas)

“Yang jelas ini lebih hemat. Dengan adanya penghematan ini, akan ada peningkatan pendapatan juga. Tadinya mungkin ke sekolah anak-anak mereka jalan kaki, sekarang bisa naik motor karena ada bensinnya untuk motor,” kata Amin, pencipta Amin Ben-Gas (ABG) di Malalayang, Sulawesi Utara, Senin (16/11/2015).

Dia berharap, pemerintah dapat lebih peka dalam melihat inovasi ini untuk nelayan-nelayan di seluruh Indonesia. Amin mengatakan, inovasi ini harus digunakan oleh teman-teman nelayan di seluruh Indonesia.

“Kalau penghargaan mungkin saya sudah banyak, tapi saya akan merasa sangat dihargai, jika karya saya dapat digunakan oleh saudara-saudara saya, nelayan-nelayan yang membutuhkan yang cocok dengan karakteristik listrik ini,” kata dia.

Amin mengakui, diperlukan peran pemerintah untuk meningkatkan penggunaan konvertar gas karena jika dilakukan sendiri, maka akan sulit berkembang.

“Tentunya harus ada campur tangan pemerintah untuk menyebarkan ini ke daerah-daerah lain. Ini salah satunya kita bergerak dan kerja sama dengan pemerintah Sulawesi Utara,” pungkas dia.

 

sumber : Sindonews.com