Monthly Archives: December 2014

Pada Hari Sabtu tanggal 15 November 2014 sekitar pukul 17.00 WIB Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudji Astuti berkunjung ke Provinsi Kalimantan Barat. Agenda kunjungan menteri Susi Pudji Astuti ke Kalimantan Barat antara lain adalah untuk mengetahui perkembangan pembangunan sektor kelautan dan perikanan dan hasil – hasilnya secara langsung, melihat perkembangan dan kemajuan proses penanganan kapal ikan ilegal (illegal fishing) di Stasiun Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Pontianak serta ingin berkomunikasi langsung dengan stake holder dan nelayan Kalimantan Barat.

01

Kunjungan Kerja Menteri Kelautan dan Perikanan RI di Kalimantan Barat di sambut oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat Drs. M. Zeet Hamdy Assovie, MTM yang bertindak mewakili Gubernur Kalimantan Barat karena sedang melaksanakan tugas penting lain serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kalimantan Barat. Lokasi khusus yang menjadi tempat kujungan anggota Kabinet Kerja Presiden ke 7 Joko Widodo adalah di Stasiun Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Pontianak dengan alamat Jln. Drs. Mohammad Hatta Sungai Rengas Kabupaten Kubu Raya.

Dalam arahannya menteri Susi Pudji Astuti menekankan bahwa Kementrian Kelautan dan Perikanan RI akan segera mengeluarkan kebijakan penghentian pungutan hasil perikanan (PHP) bagi kapal perikanan berukuran 10 Gross Tone kebawah di seluruh wilayah Indonesia. kebijakan tersebut diambil oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dalam rangka lebih memberdayakan ekonomi nelayan skala kecil yang jumlahnya sangat banyak diseluruh Indonesia, apalagi ditambah dengan beban harga bahan bakar minyak (BBM) yang semakin tinggi. Bagi pemerintah daerah yang cepat merespon terhadap kebijakan Kementrian Kelautan dan Perikanan akan diberikan konpensasi alokasi anggaran DAK KP yang lebih besar, tegas Menteri Susi Pudji Astuti. Disamping itu, ditegaskan oleh Menteri Susi Pudji Astuti untuk memberikan eksistensi yang lebih besar lagi bagi nelayan-nelayan dan pengusaha perikanan Indonesia untuk menjadi tuan dinegerinya sendiri, Menteri Kelautan dan Perikanan RI mengeluarkan kebijakan moratorium (penghentian untuk sementara waktu) izin usaha baru bagi kapal perikanan asing yang ingin melakukan usaha di Indonesia.

Dalam arahannya Menteri Susi Pudji Astuti juga menekankan agar nelayan diseluruh Indonesia menerapkan kegiatan usaha perikanan tangkap yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, tidak menggunakan alat tangkap ikan yang merusak lingkungan, tidaak menggunakan bahan peledak, obat bius, racun dan lain-lain serta tidak menangkapi ikan, kepiting atau udang yang sedang bertelur demi kelestarian dan keberlanjutan usaha nelayan itu sendiri.

Pada kesempatan tersebut Menteri Susi Pudji Astuti juga merespon positif terhadap kreatifitas Nelayan Kalimantan Barat dimotori oleh Amin Ben Gas yang dengan kreatifitasnya telah berhasil memodifikasi mesin perahu nelayan Kubu Raya berbahan bensin dengan penambahan alat hasil modifikasinya ke bahan bakar Gas, ditengah-tengah kesulitas nelayan terhadap BBM yang harganya semakin tinggi, bahan bakar Gas dapat menjadi alternatif solusi. Menteri Susi menegaskan akan segera menindaklanjuti di tingkat kementrian terkait.

 

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti mendorong penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) untuk para nelayan. Hal ini juga sebagai bentuk percepatan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke BBG.

“Nelayan belum bisa, tapi sebetulnya sudah boleh pakai gas, memang resminya belum,” ucap Susi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/12/2014).

Susi menjelaskan, untuk menjalankan kebijakan ini memang harus ada peraturan Menteri ESDM supaya ada payung hukumnya. Selama ini pihak Kementerian ESDM sudah menjalankan pilot project  penggunaan BBG bagi nelayan di beberapa wilayah Indonesia. Penggunaan gas ini berupa elpiji 3 Kilo gram (kg).

“Harus ada peraturan dari ESDM supaya bisa pakai gas,” imbuhnya.

Diakui Susi, permasalahan yang harus diselesaikan dalam pendorongan BBG untuk nelayan adalah masalah pasokan gas, sementara untuk harga tidak masalah karena akan lebih murah dibandingkan penggunaan solar.

“Suplai bermasalah, harga tidak masalah. Kalau nelayan suruh voting mereka harga mahal tidak apa-apa yang penting suplai ada,” jelasnya.

Untuk mengatasi suplai gas tersebut, harus ada kesinambungan bersama Kementerian ESDM dan BPH Migas terkait guna ketersediaan gas.

“Kalau kurang terus kasihan nelayan. Sekarang ikan sudah mulai banyak, kemarin ada SMS biasa tangkap 20 hari bisa tangkap dua hari,” tukasnya.

Sumber : okezone.com

EKONOMI kerakyatan yang bersumber dari kearifan lokal demi kemandirian energi menjadi isu penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat modern. Itu yang menjadi motif Amin, 44, melalui implementasi inovasi converter kit ABG (A Ben Gas) bagi nelayan miskin di Pontianak, Kalimantan Barat.

03

Bermula dari melihat kesulitan di tempat tinggalnya dalam mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) lantaran faktor alam yang memengaruhi distribusi BBM. Kalimantan, dibelah oleh Sungai Kapuas yang bermuara di Pontianak. Ombak besar sering menjadi kendala utama distribusi BBM dari kapal tanker yang akan berlabuh. Di sisi lain, ketika musim kemarau, sering terjadi sedimentasi di Sungai Kapuas yang menyebabkan sungai tersebut kering. Padahal sungai satusatunya transportasi distribusi BBM ke daerah pedalaman. Akibatnya, pasokan BBM dipastikan seret.

Pada 2010, dirinya menginisiasi inovasi pemanfaatan bahan bakar alternatif, dengan mencari bahan bakar yang sudah familiar dengan masyarakat, yakni liquid petroleum gas atau biasa alias elpiji. “Berangkat dari kearifan lokal itu yang sudah akrab dengan masyarakat dan sudah terbiasa. Dari situ kita buat alternatif bahan bakar untuk nelayan,” ujar dia di sela acara Penganugerahan Penghargaan Energi ke-4 Tahun 2014 di Balai Kartini, Jakarta, Senin (18/8).

Selama empat tahun terakhir, dirinya terus melakukan perbaikan inovasi hingga sekarang generasi ketujuh, dengan sistem injeksi. Hasilnya, nelayan lebih efisien menggunakan bahan bakar. “Perbandingan efisiensi, pemakaian satu tabung elpiji 3 kg sama dengan pemakaian BBM 20 kg. Kalau diperluas, tidak hanya nelayan tapi juga masyarakat luas untuk antar anak sekolah, untuk transportasi, bisa dibayangkan efeknya.” ujar pria yang terlihat bersahaja itu.

Untuk mewujudkan ketersediaan energi tersebut, diharapkan peran serta semua komponen masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk terus bersinergi. “Kita merasa lebih berterima kasih apabila yang kita perbuat bisa dimanfaatkan masyarakat. Tentunya tidak bisa seorang Amin sendiri bergerak, harus kerjanya jaringan. Seperti yang sering disebut pemerintah, ABG, yakni academic, businessman dan goverment,” cetusnya. Amin berjasa sebagai pemrakarsa, penggerak dan pendorong perubahan.

Khususnya, agar pemerintah mampu mewujudkan program konversi BBM ke gas, dengan memberdayakan SMK dan perguruan tinggi setempat sehingga berdampak besar terhadap perekonomian dan bertumbuhnya rumah tangga serta peningkatan taraf hidup masyarakat dan nelayan miskin. Atas usahanya tersebut, ia dinobatkan sebagai The Most Inspiring dalam pagelaran Penganugerahan Penghargaan Energi 2014.

Inspirasi
Ketua Dewan Juri sammy Hamzah mengungkapkan, penganugrahan kali ini menitik beratkan pada bagaimana anggota masyarakat menginspirasi masyarakat yang lain dalam rangka penghematan energi dan pengembangan energi alternatif. “Pak Amin seorang dengan segala keterbatasan bisa gerakkan diri buat converter kit yang tadinya gunakan bensin, jadi gunakan elpiji. Ini sekaligus bantu pemerintah dalam konsumsi solar dan juga lebih murah,” jelas Sammy.

02

Selain itu, aksi Amin sesuai dengan tema yang diusung Penghargaan Energi tahun ini, yakni “Kearifan Lokal Menuju Kemandirian Energi” Adapun jenis Penghargaan Energi ada tiga. Pertama, Penghargaan Energi Prakarsa, diberikan kepada unsur masyarakat baik secara Perseorangan maupun Kelompok Masyarakat. Kedua, Penghargaan Energi Pratama, diberikan kepada unsur perusahaan yang berasal dari nasional/daerah atau asing, dan Penghargaan Energi Prabawa, diberikan kepada instansi pemerintah dan pemerintah daerah.

Dari 15 Penerima Penghargaan Energi Tahun 2014, Dewan Juri memilih The Best dari setiap kategori, yakni Amin, Prof Dr Erliza Hambali dan Tim, PT Duta Pudak Lestari, serta Pemerintah Kabupaten Badung. Prof Dr Erliza Hambali dan Tim berjasa sebagai penggerak penggunaan produk lokal unggulan Indonesia, minyak sawit, pada industri perminyakan dengan mengembangkan surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES) untuk mengganti surfaktan petroleum impor pada metoda EOR.

Upayanya terbukti mampu menurunkan water cut 4-5% dan meningkatkan produksi lapangan minyak tua sekitar 300-400% dari 10 bpd menjadi 30-40 bpd. PT Duta Pudak Lestari dinilai sebagai perusahaan yang berkomitmen tinggi melaksanakan kebijakan pemerintah pada sektor energi dan sumber daya mineral dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi berbasis limbah menggunakan produk mesin pengolah sampah organik menjadi kompos padat, cair (pupuk cair) dan biogas. Sehingga berdampak besar terhadap kesadaran masyarakat untuk berbudaya bersih, menciptakan tenaga kerja terampil ahli, serta meningkatan pembangunan perekonomian masyarakat.

Sammy menambahkan, dibanding tahun lalu, antu siasme masyarakat terhadap perhelatan ini lebih baik.Kualitas dari para kandidat juga lebih bagus. “Tidak gampang bagi dewan juri untuk memilih siapa penerimanya,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Ephindo itu. Pada kesempatan sama, Ketua Panitia Penghargaan Energi 2014 FX. Sutijastoto mengungkapkan pergelaran ini merupakan suatu bentuk apresiasi pemerintah atas pemangku kepentingan yang secara nyata telah berkarya dan berinovasi di sektor energi. Juga menginspirasi masyarakat lain serta mendorong budaya pemanfaatan energi, utamanya energi baru terbarukan,  kata dia.

Adapun maksud Penghargaan Energi adalah untuk menggugah kesadaran masyarakat dan mendorong peran aktif pemangku kepentingan dalam melakukan diversifikasi, konservasi dan budaya hemat energi, serta mengapresiasi para pemangku kepentingan yang secara nyata telah berkarya dalam menciptakan inovasi dan pengembangan teknologi Sektor ESDM secara berkesinambungan. Juga, menginspirasi masyarakat untuk menggunakan energi terbarukan dan mewujudkan budaya hemat energi, serta mendorong pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemanfaatan energi.

Menteri ESDM Jero Wacik pada Penganugerahan Penghargaan Energi ke-4 tahun 2014 tersebut mengatakan, “Anugerah Penghargaan Energi ini merupakan yang terakhir bagi saya selama menjadi Menteri ESDM.” Ia pun berpesan agar tahun depan Penghargaan Energi tersebut tetap diberikan kepada mereka yang  melaksanakan Catur Dharma Energi.

 

Sumber : Media Indonesia

ABG-DRN-01

Presentasi Amin Ben Gas dengan tema : “Pengembangan dan Penerapan Konverter Kit Bensin-Gas LPG untuk motorisasi Nelayan dan Industri Pedesaan”, di acara Workshop Dewan Riset Nasional “Iptek Untuk Membangun Indonesia dari Pinggiran”. (09/12/2014)

Salah satu agenda dalam Nawa Cita Presiden Ir. Joko Widodo dan Wakil Presiden Drs. Jusuf Kalla adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.   Dalam agenda ini akan dilaksanakan berbagai program antara lain pemerataan pembangunan antar wilayah terutama desa, kawasan timur Indonesia dan kawasan perbatasan. Agenda pembangunan daerah pinggiran ini perlu mendapat apresiasi, karena pembangunan nasional selama ini terkesan lebih menguntungkan daerah perkotaan dan terpusat di pulau Jawa.

Ketimpangan yang terjadi antara wilayah menunjukkan bahwa pembangunan selama ini belum sepenuhnya mencapai sasaran yang diharapkan. Perbedaan hasil pembangunan ini diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: perbedaan sumberdaya yang dimiliki daerah yang satu dengan yang lain, perbedaan kemampuan sumberdaya manusianya, tingkat penguasaan tehnologi yang berbeda, kebijakan pemerintah terlalu mengutamakan pembangunan di Pulau Jawa (Wilayah Barat) dan lain-lain. Pertanyaan yang perlu mendapat jawaban adalah bagaimana mewujudkan agar pembangunan tersebut dapat lebih berpihak pada masyarakat di daerah pinggiran.  Jawaban terhadap pertanyaan ini terletak pada peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh melalui kegiatan riset dan pengembangan.

Riset adalah proses untuk menghasilkan produk ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang berguna bagi pengembangan etos / mentalitas dan sendi-sendi material masyarakat dalam mencapai kesejahteraan. Pengembangan riset dan teknologi ini juga tidak terpisahkan dari proses penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai pilar pengembangan kemanusiaan dengan kebudayaan yang adil dan beradab.  Tantangannyakemudian, adalah proses ini dalam pembangunan Indonesia belum member sumbangan yang cukup dalam pengembangan pilar tersebut dan terlebih bagi kesejahteraan dan adil untuk seluruh bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peluang untuk menjadikan kegiatan riset dan teknologi yang sekaligus mendorong penguatan kualitas sumber manusia ke depan sebenarnya terbuka. Beberapa faktor yang dapat dicatat dalam hal ini, antara lain : 1) menguatnya kesadaran tentang perbaikan arah pembangunan dengan menempatkan pengembangan riset untuk sains dan teknologi yang berkait rapat dengan keperluan menguatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah belum maju, 2) adanya inisiasi-inisiasi teknologi dari masyarakat dalam kerangka penguatan pembangunan daerah yang selaras dengan kebijakan nasional, 3)  terdapat upaya untuk mempunyai agenda melakukan fokus riset untuk pengembangan sains dan teknologi secara multi-disiplin untuk memberi solusi bagi persoalan bangsa, 4) adanya inisiasi melakukan pengembangan dana riset berbentuk private-government partnership dalam kerangka mengisi kebijakan dan menguatkan pelaksanaan otonomi daerah (desentralisasi pembangunan).

Faktor-faktor di atas yang disebut di atas mempunyai benang merah, bahwa ada sebuah keperluan menemukan upaya bersama pengembangan riset dan teknologi yang berpihak atas masyakat dan daerah pinggiran (desa/kawasan perdesaan, kawasan perbatasan, tertinggal dan pulau-pulau terluar).Kerjasama ini melibatkan berbagai pihak berkepentingan, baik antar pemerintah (pusat dengan daerah).  Atau kerja sama antara pemerintah dengan perguruan tinggi, swasta, dan lembaga-lembaga bukan pemerintah.  Bahkan, pengembangan kerjasama yang dimulai dari penguatan inisiasi-inisiasi komunitas/masyarakat atau perorangan dalam melacak teknologi yang meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Peluang besar lain, adalah kini pemerintahan baru berusaha memperbaiki arah pembangunan nasional agar lebih mendorong semangat dan karakter kebangsaan untuk mencapai kedaulatan.  Kebijakan politik nasional seperti ini jelas perlu diisi dengan semangat afirmatif dan langkah-langkah nyata.

Untuk itu, Dewan Riset Nasional telah menyelenggarakan Workshop dengan tema : Iptek Untuk Membangun Indonesia Dari Pinggiran pada hari Selasa, tanggal 9 Desember 2014 di Ruang Komisi Utama, Gedung BPPT II, Lantai 3, Jakarta, dengan tujuan : 1] Penguatan kesadaran tentang perbaikan arah pembangunan dengan menempatkan pengembangan riset untuk sains dan teknologi yang berkait dengan keperluan menguatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah desa tertinggal; 2] Adanya inisiasi melakukan riset yang berfokus pada pengembangan sains dan penerapan teknologi secara multi-disiplin untuk memberi solusi bagi persoalan bangsa; dan 3] Diperoleh masukan tentang konsep dasar, pengembangan riset dan iptek disertai dengan membangun karakter bangsa dan penguatan budaya bangsa untuk mencapai kedaulatan.

Workhshop dibuka oleh Pejabat Ketua DRN, Ir. Betti Alisjahbana dan dihadiri oleh kurang lebih 125 peserta terdiri dari anggota DRN, Kementerian Ristek & Dikti, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Balan, Litbang Lembaga/Kementerian, Dewan Riset Daerah Provinsi & Kabupaten/Kota, Bappeda Pemda, BPPT, BMKG, Universitas dan para peneliti lembaga terkait.

Sebagai Keynote Speech pada FGD ini adalah H. Marwan Jafar, SE, SH, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi kemudian dilanjutkan presentasi Sessi I yaitu dengan dimoderatori oleh Ir. Adik Avianto Soedarsono, M.SIE, Ph.D, Sessi I dengan menampilkan 3 narasumber yaitu :

1]     Dr. Irnanda Laksanawan, M.Sc/Komtek TIK DRN dengan tema : Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Melalui ICT Berbasis Cloud System Dengan e-Desa.

2]     Dr. Tumpak Simanjuntak, MA / Asdep Pengelolaan Batas Wilayah Negara, Badan Nasional Pengelola Perbatasan dengan tema : Keperluan Ristek Untuk Pengelolaan Kawasan Perbatasan.

3]     Dr. Lala Kolopaking/Ketua Komtek Sosial Humaniora DRNdengan tema : Pembangunan Kawasan Perdesaan Melalui Wisata Lestari di  Daerah.

Kemudian sessi II dimoderatori oleh Dr. M.A.M. Oktaufik dengan menampilkan 3 narasumber yaitu :

1]     Ir. Budi Susanto Sadiman/Komtek Teknologi Material Maju DRN dengan tema : Ketersediaan Teknologi Pembangkit Energi Untuk Kawasan Pinggiran Indonesia.

2]     Bapak Amin/Inovator dari Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dengan tema :  Pengembangan dan Penerapan  Konverter Kit Besin – Gas LPG Untuk Motorisasi Nelayan dan Industri Pedesaan;

3]     Dr. Mohammad Nadjikh/Anggota Komtek Sosial Humaniora DRN/Dirut PT Kelola Mina Laut

dengan tema :Pemberdayaan Masyarakat Maritim Melalui Kemiteraan Usaha.

Kesimpulan sementara Workshop dengan tema : IPTEK Untuk membangun Indonesia Dari Pinggiran adalah sebagai berikut :

1]    Membangun Indonesia dari pinggiran pada hakekatnya mulai membangun dari unit kecil wilayah yang disebut desa, khususnya di daerah yang jauh (remote) dari akses dan kawasan perbatasan. Melalui UU No. 6 tahun 2014, maka dipandang mendesak untuk mempersiapkan infrastruktur dan SDM yang handal.

2]    Untuk membangun pinggiran secara tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat diperlukan: (i) informasi dasar yaitu data base, (ii) pengelolaan model administrasi yang standard, (iii) mempersiapkan SDM yang memadai, dan (iv) dengan memanfaatkan potensi SDA local.

3]    Banyak teknologi siap terap yang dihasilkan dari hasil riset dari instansi riset maupun masyarakat, namun teknologi yang dapat diimplementasikan secara masal masih sangat terbatas. Berbagai kendala yang sering dihadapi justru masalah  non-teknis yaitu: (i)  merubah pola pikir (mind set), dan (ii) kelembagaan penunjang, misalnya asuransi teknologi. Contoh: berbagai bibit unggul yang belum digunakan oleh petani.

4]    Untuk membangun ekonomi nasional dengan pertumbuhan tinggi, pembangunan in­frastruktur perlu mendapat prioritas, antara lain adalah ketersediaan energi dan, teknologi informasi (TI atau ICT). Melalui dukungan TI maka desa perlu merancang pembangunannya dengan arah dan time frame (roadmap, jangka pendek, menengah dan panjang) yang jelas sesuai dengan kebutuhan.

5]    Diperlukan ketegasan dan keberanian pemerintah untuk berperan sebagai  koordinatif (antar desa dan antar instansi terlibat), insentif, doron­gan dan pendelegasian wewenang ke pemerintah daerah dalam penerapan teknologi di kawasan perbatasan dan pedesaan. Khusus untuk kawasan perbatasan, pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih (pendidikan, infrastruktur, kelembagaan dan sebagainya) dan selalu membina kerjasama dengan pemerintahan negara tetangga.

6]    Membangun kawasan dari pinggiran juga harus dilaksanakan secara inklusif dengan melibatkan dan memberdayakan masyarakat setempat, serta mempersiapkan   SDM sebagai agent perubahan. Pembinaan dan pendampingan di daerah pinggiran adalah kunci keberhasilan dalam mengimplementasikan program untuk meningkatkan kesejahteraan.

7]    Pada situasi keterbatasan energi, berbagai teknologi siap terap sudah siap diimplementasikan, misalnya teknologi gasifikasi batubara, teknologi converter gas-BBM  yang potensial untuk didublikasi dan disebar-luaskan secara nasional. Untuk itu diperlukan dukungan kebijakan dan pemerintah.. agar dapat secepat mungkin diimplementasikan di tingkat nasional dengan memperhatikan berbagai isu yang harus ditangani seperti keekono­misan, kehandalan dan tingkat keramahan lingkungan.

8]    Gagasan Pembangunan Kawasan Perdesaan melalui Pariwisata Berbasis Komunitas dan Desa sebagai Lokomotif,perlu dikemas melalui Riset dan Teknologi yang Adaptif untuk dapat mengambil manfaat ekonomi dan ekologi dengan mengembangkan bisnis yang dikuasai oleh masyarakat(social enterprise). Untuk itu diperlukanPengembangan Indikator Pembangunan Berbasis Sosial Melengkapi Indikator Berbasis Individu, seperti Pendapatan per Kapita, IPM.

 

Sumber : Dewan Riset Nasional

Amin “Ben Gas”, penemu alat converter kit yang dapat mengalihkan penggunaan bahan bakar bensin dan gas secara bergantian, mendapatkan penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi, setelah sebelumnya hasil karyanya diapresiasi universitas dalam dan luar negeri.

02

“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena apa yang sudah saya buat mendapat apresiasi luar biasa dari berbagai pihak. Namun, saya akan lebih bangga bila apa yang saya temukan ini bisa digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat banyak,” kata Amin, di Sungai Raya, Kamis (14/8/2014).

Amin kelahiran Pontianak, 24 Februari 1970, menghabiskan masa kecilnya di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya. Anak dari nelayan itu juga tidak menyangka jika apa yang dikerjakannya bakal meraih sukses besar seperti saat ini.

Berbagai penghargaan dalam waktu singkat pun berhasil diraihnya seperti “The Most Inspiring IGA 2014” pada “Indonesia Green Award” sebagai satu-satunya masyarakat yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Berkat alat temuannya yang terus dikembangkan sejak tahun 2010 itu, Amin juga pernah diundang langsung oleh Curtin University Australia untuk melihat temuannya tersebut. Bahkan tidak lama lagi dirinya akan diundang oleh Pemerintah Jepang untuk mempresentasikan temuannya tersebut.

Baru-baru ini, Amin juga mendapatkan Anugrah Iptek Kreatifitas dan Inovasi Masyarakat (Labdha Kretya) dalam Hakteknas dari Kemenristek pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 19 tahun 2014.

“Saya juga mendapat penghargaan dari Kementerian Energi pada peringatan Hari Energi pada tanggal 20 Agustus nanti. Tidak hanya itu saya juga diundang Presiden RI pada hari peringatan HUT RI di Istana Merdeka dan melakukan ramah tamah dengan Presiden pada malam Selasa nanti,” katanya.

Alumni SDN 01 Parit Sedepung, Teluk Pakedai, SMP Negeri 11 (sekarang SMP 10) Pontianak, SMA Negeri 3 Pontianak dan alumni Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian UPB Pontianak itu menambahkan, dari pertemuannya dengan Wapres Boediono saat menerima penghargaan dari Kemenristek beberapa waktu lalu, Boediono mengarahkan Amin untuk memperluas penemuannya agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dia pun dihubungkan dengan Inotek, sebuah yayasan Inovasi Teknologi Indonesia yang dipimpin oleh Sandiaga Uno dan dibina oleh Ilham Habibie yang tak lain merupakan putra dari Habibie untuk melakukan pengembangan penemuan tersebut. Melalui yayasan itu nantinya Amin akan dibantu untuk aspek permodalan dan pemasaran produknya.

“Saya berharap converter kit ini bisa digunakan oleh masyarakat banyak karena dengan terus naiknya harga bahan bakar minyak, tentu memberatkan masyarakat, khususnya bagi masyarakat kecil seperti petani dan nelayan. Dengan alat ini, masyarakat bisa menggunakan mesin yang semula menggunakan bahan bakar minyak dan menggantinya dengan bahan bakar gas dan dengan converter kit ini bisa digunakan secara bergantian dan jauh lebih hemat,” kata Amin.

 

Sumber : Kabupaten Kubu Raya

01

Menteri Kelautan dan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat mendengarkan pemaparan converter kit dari Amin Ben Gas di PSDKP Prop. Kalimantan Barat. (15/11/2014).

 

Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menyiapkan sumber energi alternatif untuk nelayan, menyusul pengalihan subsidi bahan bakar minyak pada November 2014. Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan Sjarief Widjaja mengatakan pemerintah akan menyediakan converter kit agar para nelayan bisa mendapat energi alternatif yang lebih murah.

“Rencananya ada 395 ribu kapal yang akan diberi converter kit. Tapi tidak akan selesai semua dalam setahun ini, jadi akan dilakukan bertahap selama lima tahun,” kata Sjarief seusai menghadiri rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa, 16 Desember 2014.

Sjarief mengatakan Kementerian Kelautan akan mengidentifikasi lokasi dan nelayan yang paling membutuhkan converter kit tersebut. Dengan penyediaan ini, nelayan bisa menggunakan bahan bakar berupa liquified petroleum gas (LPG/elpiji) bersubsidi kemasan 3 kilogram.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan nelayan bisa menghemat biaya hingga Rp 180 ribu untuk sekali melaut dengan menggunakan elpiji. Sjarief mengatakan penggunaan elpiji ini juga akan mengurangi pemakaian BBM bersubsidi untuk nelayan secara signifikan.

“Nanti akan turun dari 2,1 juta kiloliter menjadi 900 ribu kiloliter. Turunnya banyak karena kapal yang berbobot di atas 30 GT tidak kita beri lagi,” kata Sjarief. Ia menuturkan pembagian converter kit ini akan didanai dengan anggaran tambahan untuk Kementerian. Namun dia tak merinci jumlah tambahan anggaran yang dibutuhkan untuk program ini.

Selain penyediaan bahan bakar alternatif, pemerintah juga berencana memberi bantuan kapal tangkap besar dan fasilitas pendingin dari tempat pelelangan ikan hingga pasar. Sjarief mengatakan bantuan ini juga menindaklanjuti meningkatnya potensi perikanan setelah illegal fishing dan operasi kapal-kapal asing berkurang.

“Potensi ikan, kan, naik jadi kami akan memberi bantuan kapal besar dan perahu untuk nelayan agar mereka bisa berproduksi lebih banyak. Bisnis perikanan lebih bagus dan nelayan lebih sejahtera,” kata Sjarief.

 

Sumber : Tempo

Sudah sejak lama nelayan di Pontianak, Kalimantan Barat, pusing tujuh keliling. Tingginya biaya pengadaan bahan bakar akibat langkanya bahan bakar minyak (BBM), membuat mereka harus merogoh kocek dalam-dalam setiap kali akan mencari ikan.

Kondisi inilah yang mendorong pemuda asal Pontianak, Amin, yang orang tuanya tinggal di tengah komunitas nelayan di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, berinovasi menciptakan konverter kit, alat pencipta konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas, atau sebaliknya. Dengan alat ini, jika sedang berlayar kapal nelayan berbahan bakar gas habis, bisa langsung dialihkan menggunakan bensin atau sebaliknya.

Hemat

Dari hasil uji coba Kementerian ESDM tahun 2012 terhadap karya inovatif Amin, terungkap dengan alat ini biaya pengadaan bahan bakar menjadi sangat murah, karena bisa menghemat pengeluaran sektor pengadaan bahan bakar di atas 70 persen. Hal ini akan berimplikasi pada meningkatnya pemasukan bagi nelayan, sehingga kesejahteraan meningkat.

Berdasarkan karya Amin, biaya pengadaan bahan bakar gas per bulan bagi nelayan cuma Rp 181.920, sedangkan biaya bensin per bulan Rp 928.500. Dengan demikian, terjadi potensi penghematan per hari Rp 24.886, sehingga potensi penghematan per bulan mencapai Rp 746.580.

Rinciannya, dengan harga satu liter bensin Rp 6.190, kebutuhan bensin per hari Rp 30.950 dan per bulan Rp 928.500. Dengan Liquified Petroleum Gas (LPG) atau gas minyak bumi cair melalui karya inovatif Amin, harganya Rp 15.160 per tiga kilogram, kebutuhan per hari Rp 6.064, sehingga per bulan hanya Rp 181.920. Selain hemat biaya, metode karya inovasi Amin sangat sederhana, cukup menyambungkan tabung gas berkapasitas tiga kilogram ke mesin kapal dengan alat konverter kit.

Institut Teknologi Bandung (ITB) membantu tahapan uji coba lebih lanjut. Prof Dr Ir Dradjad Irianto M Eng dari Fakultas Teknologi Industri ITB, 4 Januari 2013 menyebutkan, karya inovatif Amin mampu menjadi engine dual fuel (berbahan bakar bensin dan gas secara bergantian) dengan selisih kinerja yang kecil, kurang dari 5 persen.

Karya Amin mampu memberikan penghematan dengan perbandingan 1 liter bensin (Premium) setara dengan 240 gram gas, atau dalam satuan rupiah memberi potensi penghematan 5,11 kali lebih murah sehingga berpotensi meningkatkan taraf hidup nelayan.

Dari ITB, Amin pun dipertemukan dengan Menteri ESDM Jero Wacik dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, serta diundang mengikuti berbagai pameran nasional berbasiskan ramah lingkungan.

Karya Amin, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Panca Bhakti, Pontianak ini dinilai sangat mendukung upaya keras pemerintah mempercepat proses konversi BBM ke gas, mengingat beban subsidi pemerintah terus membengkak tiap tahun. Tak heran jika karyanya mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, akademikus, hingga komunitas nelayan.

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis MH, juga memberikan dukungan dengan menugaskan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat untuk aktif dalam percepatan konversi BBM ke gas, dengan kelompok sasaran nelayan pantai dan pesisir untuk Tahun Anggaran 2014.

Hak Paten

Sejak 15 Maret 2013, Amin sudah mengantongi hak paten atas alat pencipta konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas, atau sebaliknya dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dengan nomor S 00210300051.

Untuk memproduksi konverter kit sesuai pesanan, Amin bekerja sama dengan ITB, Politeknik Negeri Pontianak, dan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Kalimantan Barat.

“Ke depan ben gas dirancang untuk mesin kapal nelayan berkuatan 30 gross ton ke atas. Saya berharap, ben gas bisa disinergikan di Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertanian, untuk disosialisikan lebih luas penggunaannya bagi masyarakat. Ben gas membuat biaya operasional nelayan menjadi sangat murah,” sahut Amin.

Para nelayan berharap karya Amin bisa terus diproduksi. “Diharapkan kuantitas produksi massal karya inovatif Amin terus ditingkatkan tiap tahun, karena sangat membantu masyarakat nelayan kelas menengah ke bawah,” ujar Silvester Romi, nelayan tradisional di Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu.

Sumber : Sinar Harapan

Tak sia-sia Amin mengeluarkan energi kreatifnya menjawab tantangan alam di kampung halamannya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, empat tahun silam. Pria yang tampak kalem ini, kini sohor sebagai penemu converter kit alias piranti yang bisa mengubah penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) atau sebaliknya pada peralatan mesin penggerak. “Di kampung saya kelangkaan bahan bakar itu penyakit tahunan,” tuturnya usai menerima penghargaan The Most Inspiring pada Indonesia Green Award (IGA) 2014 pada Rabu (18/6/2014) di Jakarta.

Kabupaten Kubu Raya awalnya merupakan pemekaran dari Kabupaten Pontianak sejak 17 Juli 2007. Sebagai penduduk kelahiran kabupaten itu, terang Amin, dirinya mengenal betul kondisi alam di situ. Kubu Raya memunyai mayoritas wilayah pantai. “Di Kubu Raya ada seribu sungai,” kata Amin lagi.

Benar pernyataan Amin. Kubu Raya memiliki urat nadi transportasi air yakni Sungai Kapuas dengan begitu banyak anak sungainya. Kubu Raya pun punya pantai yang menghadap Selat Karimata. “Tantangan muncul saat musim ombak besar. Biasanya pada bulan dua belas (Desember) sampai dengan bulan satu (Januari),” imbuhnya.

Pada musim itu, lanjut Amin, kapal-kapal pembawa BBM tak ada yang berani merapat hingga ke kawasan-kawasan terdalam di hulu sungai. Kapal-kapal itu lebih memilih berlindung di pulau-pulau yang masuk dalam kabupaten itu, menanti ombak surut. “Kalau sudah begitu, kelangkaan BBM di tempat saya bisa sepuluh sampai 12 hari,” ujarnya.

Bagi nelayan kecil seperti Amin, kelangkaan BBM sama saja dengan hilangnya kesempatan tidak melaut. Bisa diartikan, kelangkaan BBM menutup arus rezeki para nelayan dan petani. “Satu hari tidak melaut adalah masalah bagi nelayan kecil seperti kami,” ujarnya.

Musim kemarau pun mmenjadi batu sandungan bagi kebanyakan warga Kubu Raya. Pasalnya, debit air di Sungai Kapuas berikut anak sungainya susut. Alhasil, kapal pengangkut BBM tak bisa masuk ke hulu. “Kalau ada satu kapal kandas, kapal-kapal lain di belakangnya tak bisa bergerak pula,” ucapnya.

Singkat kata, keprihatinan itulah yang membuat Amin berpikir keras hingga mampu menciptakan piranti tersebut. Dengan converter kit temuannya, saat kehabisan BBM di laut, para nelayan tinggal mengalihkan penggunaan ke BBG. “Cara ini membuat nelayan tidak tergantung pada satu jenis bahan bakar,” katanya.

Selain itu, dalam hitung-hitungan Amin, piranti buatannya mempu menghemat ongkos BBM. Piranti yang sudah mendapat paten bernomor S 00210300051 sejak 15 Maret 2013 dari Kementerian Hukum dan HAM tersebut mampu membuat penggunanya hanya mengandalkan elpiji ukuran tiga kilogram. Ukuran itu setara dengan 15 liter bensin. Di pasaran, harga elpiji tiga kilogram rerata Rp 18.000 per unit. Sementara, harga bensin ada di posisi Rp 6.500 per liternya.

Termutakhir, kata Amin, ia sudah mengembangkan piranti tersebut hingga enam generasi. “Gara-gara keberhasilan itu, nama saya mendapat tambahan Ben Gas. Maksudnya, Amin Bensin-Gas,” kata pria kelahiran 24 Februari 1970 itu.

 

Sumber : Kompas